Kenali Cara Mengatasi dan Mendampingi Anak Hiperaktif

Ketika melihat anak terlalu aktif, terkadang timbul rasa khawatir dalam benak Ibu dan Ayah mengenai tumbuh kembangnya. Tidak sedikit ora...

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK

4 min
11 Jun 2024
Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK


Ketika melihat anak terlalu aktif, terkadang timbul rasa khawatir dalam benak Ibu dan Ayah mengenai tumbuh kembangnya. Tidak sedikit orang tua yang mencurigai perilaku aktif anak termasuk ke dalam kategori hiperaktif atau ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). 

Lalu, apa yang harus dilakukan ketika si Kecil positif terdiagnosa hiperaktif atau ADHD? Ibu bisa mendapatkan informasi selengkapnya mengenai ciri-ciri serta cara mengatasi anak hiperaktif pada artikel ini. 

Ciri-Ciri Anak Hiperaktif atau ADHD

Sebenarnya, normal bagi anak untuk sekali-kali melamun, betingkah impulsif, atau terlihat tidak bisa duduk anteng saat makan. Maka, sangat wajar jika pada awalnya Ibu tidak menyadari kondisi ADHD pada si Kecil. 

Namun, Ibu perlu waspada apabila perilaku aktif dan impulsif anak justru membuatnya kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari atau kesulitan untuk menjalin interaksi dengan teman sebayanya.  Kondisi tersebut bisa jadi merupakan gejala ADHD. 

Nah, ciri-ciri anak ADHD dibagi ke dalam dua kategori permasalahan perilaku yaitu inatensi (kesulitan berkonsentrasi dan memusatkan perhatian) dan hiperaktif-impulsif. 

1. Sulit Fokus

Inatensi adalah kondisi dimana anak kesulitan untuk berkonsentrasi atau memusatkan perhatian. Kondisi inatensi juga disebut sebagai ADD. 

Berikut ciri-ciri anak hiperaktif dengan kondisi inatensi: 

  • MUdah teralihkan dan memiliki rentang perhatian yang pendek. 

  • Seringkali ceroboh dalam melakukan sesuatu. 

  • Mudah lupa dan kehilangan sesuatu. 

  • Selalu tidak tepat dalam memahami dan menjalankan sebuah instruksi. 

  • Kesulitan dalam mengikuti aktivitas yang cenderung membosankan atau memakan terlalu banyak waktu. 

  • Kesulitan dalam mengatur atau menyusun tugas. 

  • Selalu berganti-ganti aktivitas atau tugas tanpa menuntaskannya terlebih dahulu.  

2. Hiperaktif-Impulsif

Ciri-ciri utama dari anak dengan kondisi hiperaktif-impulsif adalah: 

  • Tidak mampu duduk diam, terutama di lingkungan yang tenang atau sepi. 

  • Selalu merasa gelisah. 

  • Sulit berkonsentrasi. 

  • Sering menggerakkan tubuhnya secara berlebihan. 

  • Sering atau banyak berbicara. 

  • Tidak bisa menunggu giliran. 

  • Sering bertindak tanpa berpikir (impulsif). 

  • Cenderung menyela pembicaraan orang lain.

  • Tidak memiliki rasa takut. 

Umumnya anak dengan kondisi ADHD akan menunjukkan ciri-ciri dari dua kategori permasalahan perilaku yang sudah disebutkan. Namun, ada juga yang hanya menunjukkan ciri-ciri dari salah satu kategori perilaku saja. 

Untuk mengetahui kategori ADHD apa yang diderita si Kecil, perlu pemeriksaan secara menyeluruh oleh Dokter Tumbuh Kembang Anak atau Psikolog Anak. 

Menurut Professor Nash dan Leventhal (2011), seorang anak dapat didiagnosa memiliki kondisi ADHD setidaknya ketika anak berusia 3 tahun. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan medis, wawancara klinis, skala penilaian yang diberikan pada orangtua dan guru, serta observasi tingkah laku.

Namun, perlu diingat bahwa rentang atensi anak itu berbeda setiap usianya. Bahkan pada anak usia 1 tahun, rentang atensinya hanya sekitar 1 menit ketika bermain dengan satu mainan. 

Di usia yang lebih tinggi, rentang atensinya akan bertambah sekitar 1-3 menit per tahunnya. Jadi sebaiknya orang tua jangan buru-buru melabel anak mengalami hiperaktif, ya!

Baca juga: Sudah Lebih Ekspresif, Yuk Kenali Perkembangan Emosi Anak Usia 3 Tahun

Cara Mengatasi dan Mendampingi Anak Hiperaktif

Mendampingi tumbuh kembang anak hiperaktif atau anak dengan ADHD memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tidak jarang Ibu dan Ayah merasa kewalahan, baik secara fisik maupun psikis dalam menjalani aktivitas sehari-hari bersama si Kecil. 

Lalu, apa saja yang bisa dilakukan orang tua agar dapat mengatasi dan mendampingi si Kecil dengan optimal tanpa terlalu merasa kewalahan? Berikut beberapa tips yang dapat Ibu dan Ayah lakukan di rumah: 

1. Menerima dengan Sepenuh Hati

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menerima kondisi alami anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya.  

Anak dapat merasakan rasa optimis (atau pesimis) orangtua ketika mereka menerima kondisi anaknya dan yakin bahwa mereka dapat melakukan yang terbaik untuk masa depan keluarganya. 

Dengan penerimaan dalam diri, keluarga pun menjadi lebih terbuka terhadap informasi baru untuk mendukung perkembangan anak agar lebih optimal.

Baca juga: Mengenal Perkembangan Anak Usia 4 Tahun dan Stimulasinya

2. Bekerja Sama dengan Anggota Keluarga Lain 

Dalam pengasuhan anak dengan ADHD, orangtua sangat perlu untuk bekerja sama. Kerjasama tersebut meliputi ayah dengan ibu, ataupun dengan orang lain yang berkaitan dengan anak, misalnya pengasuh, kakek-nenek, serta guru di sekolah.

Kerjasama ini menjadi sangat penting karena dalam mengasuh anak dengan ADHD, orangtua membutuhkan energi yang cukup besar untuk mengakomodasi kebutuhan anak. 

Selain itu, apabila anak sudah mulai sekolah, pihak sekolah perlu mengetahui kondisi anak yang sebenarnya sehingga para guru dapat memberikan penanganan yang tepat untuk membantu berjalannya proses belajar mengajar di sekolah.

3. Membuat Perintah yang Mudah Dipahami

Anak dengan ADHD secara umum memiliki kekurangan dan fungsi eksekutif dalam otaknya. Dengan kata lain ia kesulitan dalam berpikir dan merencanakan, mengatur, mengontrol keinginan, dan menyelesaikan tugas. 

Oleh karena itu, sebagai orangtua kita perlu mengambil alih sementara fungsi eksekutif otak tadi dengan memberikan bimbingan ekstra hingga akhirnya secara perlahan anak dapat mengembangkan kemampuannya sedikit demi sedikit.

Dalam membantu anak mengembangkan kemampuan eksekutifnya, orang tua dapat membuat peraturan dan memberikan berbagai instruksi yang mudah diikuti oleh anak. 

Berikut cara memberikan perintah agar mudah diikuti oleh si Kecil: 

  • Dalam memberikan instruksi lisan, pastikan instruksinya spesifik. Jangan mengatakan, “Bisa tolong bereskan kamarnya?” Instruksi yang terlalu general akan membuat anak merasa kewalahan dan tidak mampu memutuskan apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Ibu bisa memberikan perintah yang lebih detail dengan mengatakan, “Tolong masukkan mainan ke dalam kotak warna biru.”Ketika sudah selesai, baru beri perintah selanjutnya, “Sekarang, tolong letakkan bantal di atas kasur.”

  • Sebut nama anak atau sentuh bahunya untuk membantu anak tetap memiliki kontak mata ketika orangtua berbicara dengan anak.

  • Minta anak mengulang instruksi yang diberikan untuk memastikan bahwa ia menangkap betul informasi pentingnya.

  • Berikan alat bantu berupa cue card atau gambar yang dapat dilihat oleh anak.

  • Untuk anak yang lebih besar, dapat juga diberikan secara tertulis dan pastikan untuk memberikan warna berbeda (atau di-bold) untuk kata-kata pentingnya.

Baca juga: Mengenal Gentle Parenting dan Tips Menerapkannya pada si Kecil

4. Membuat Rutinitas Harian

Merencanakan kegiatan sehari-hari dengan konsisten dan terstruktur akan membantu si Kecil mengetahui apa saja yang akan dihadapi mulai dari bangun hingga tidur lagi di malam hari. 

Untuk memudahkan anak dalam memahami rutinitas hariannya, Ibu dapat membagi aktivitas si Kecil ke dalam beberapa langkah terpisah. Jadi, mereka benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. 

Mulai dari mandi pagi. Ibu bisa membuat siklus mandi yang sama setiap hari, misalkan anak harus memulai dengan gosok gigi, kemudian menyabun badan, dan diakhiri dengan cuci muka. 

Setelah mandi, anak perlu mengeringkan badan dan rambut, kemudian memakai lotion ke seluruh tubuh. Akhiri dengan mengoleskan sunscreen. 

Memang agak ribet ya, Bu, tapi membiasakan anak menjalani rutinitas harian secara konsisten akan mempermudah anak dalam menjalani kegiatannya sehari-hari.

5. Mengembalikan Barang Ke Tempatnya

Untuk membantu si Kecil agar tidak terlalu sering kehilangan barang-barangnya, Ibu dapat memotivasinya untuk selalu meletakkan barang-barang yang sudah selesai dipakai ke tempat yang sama. 

Contohnya selalu menggantung tas di balik pintu kamar, meletakkan buku cerita di rak dekat jendela kamar, atau memasukkan mainan ke dalam kotak warna biru setiap habis bermain. 

6. Meminimalisir Distraksi

Ibu dapat membantu si Kecil meningkatkan fokusnya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan meminimalisir faktor-faktor penyebab distraksi dengan mematikan televisi, membatasi suara gaduh, menyingkirkan mainan, dan menyediakan ruang yang bersih. 

Namun, ada juga kasus dimana anak dengan kondisi ADHD membutuhkan background musik  dan kesempatan untuk bergerak agar ia bisa belajar dengan lebih baik.

Jadi, Ibu disarankan untuk benar-benar mencermati perilaku anak sebelum menentukan cara mana yang sesuai. 

7. Membatasi Pilihan Anak

Untuk membantu agar si Kecil tidak merasa kewalahan atau terstimulasi secara berlebihan, berikan pilihan secara terbatas. Misalkan saat akan makan buah, tawarkan dua pilihan saja, “Pilih, makan apel atau pisang?” Atau saat akan bepergian beri pilihan, “Mau pakai sepatu biru atau putih?”

8. Tetapkan Peraturan yang Konsisten

Ibu perlu menetapkan peraturan yang jelas di rumah, mana perilaku yang diharapkan dan mana perilaku yang tidak diharapkan. Pastikan seluruh anggota keluarga dekat seperti Ayah, Kakek, Nenek, Paman, dan Tante, memahami peraturan-peraturan ini. 

Ketika si Kecil melakukan perilaku yang diharapkan Ibu dapat langsung memberikan penghargaan dan pujian sebagai bentuk reinforcement positif. 

Hargai dan berikan pujian secara langsung kepada anak atas perilaku yang Ibu harapkan. Namun, jangan menghukum anak untuk hal yang kita tahu ia tidak (belum) bisa mengontrolnya. 

Sebagai gantinya, orangtua dapat menjelaskan pada si Kecil bahwa akan ada konsekuensi yang muncul apabila ia melakukan hal yang tidak diharapkan.  

Oleh karena itu, Ibu harus menguatkan hati untuk secara konsisten membiarkan si Kecil menerima konsekuensi ketika ia melakukan sesuatu yang tidak diharapkan. 

Baca juga: Membesarkan Anak Agar Memiliki Hati yang Baik

9. Libatkan Anak dalam Memilih Reward 

Ibu dapat membuat bagan berisi poin atau bintang sehingga perilaku baik anak dapat tervisualisasi dengan jelas dan memiliki posisi yang lebih istimewa di dalam dirinya.

Misalnya, ketika anak berperilaku baik saat ikut Ibu belanja, ia akan mendapatkan 1 bintang untuk di tempel di dalam bagan. Setiap anak mendapatkan 3 bintang, ia dapat menukarkannya dengan reward, misalnya boleh mandi bola di mall. 

Untuk membuat si Kecil semakin bersemangat berperilaku baik, Ibu bisa melibatkan anak dalam memutuskan hak istimewa apa yang ia inginkan. 

Agar anak tidak kewalahan, Ibu dapat fokus pada 1 atau 2 perilaku baik dalam satu periode. Dan agar tidak membosankan, Ibu dapat selalu mengubah aturan bagan secara berkala. 

10. Batasi Durasi Interaksi Sosial Anak

Anak dengan kondisi hiperaktif lebih sensitif terhadap stimulasi yang diperoleh saat menjalin interaksi sosial, terlebih lagi saat ia merasa lelah atau lapar. 

Jika ia dibiarkan mendapatkan interaksi sosial secara berlebihan, kemungkinan besar anak akan kehilangan kendali dan melakukan tindakan yang tidak diharapkan. 

Jadi, Ibu dapat mengundang teman untuk bermain bersama, tapi sampaikan di awal kepada orang tua teman si Kecil bahwa anak Ibu hanya dapat bermain bersama dalam durasi yang terbatas. 

Hal ini penting agar orang tua teman dapat diajak berkoordinasi saat harus mengakhiri waktu bermain. 

11. Pastikan si Kecil Cukup Bergerak

Anak hiperaktif sangat sering mengalami masalah tidur yang pada akhirnya membuat hari-harinya menjadi lebih buruk. 

Salah satu cara untuk membuat anak tidur dengan lebih nyenyak di malam hari adalah dengan memastikan ia aktif bergerak di siang hari, paling tidak selama 60 menit.

Aktivitas fisik yang cukup akan membuat energinya terkuras habis sehingga kualitas tidur si Kecil menjadi lebih baik. 

Ibu dapat mengajak anak untuk jalan kaki mengelilingi taman, lompat-lompat, berenang, dan mengajak anak untuk melakukan aktivitas fisik lainnya. 

Namun, Ibu perlu memastikan anak tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat atau terlalu exciting menjelang waktu tidurnya. Sebab hal ini akan membuat si Kecil kehilangan rasa kantuk dan menolak tidur. 

12. Perhatikan Asupan Makanan Anak

Ibu perlu memperhatikan dengan seksama makanan apa saja yang dikonsumsi oleh si Kecil. Ketika si Kecil menjadi lebih hiperaktif setelah mengonsumsi makanan tertentu, catat makanan tersebut dan diskusikan dengan dokter spesialis anak. 

Bisanya anak hiperaktif akan semakin hiperaktif ketika mengonsumsi makanan yang mengandung zat aditif atau kafein. 

Itulah 12 cara mengatasi dan mendampingi anak hiperaktif atau ADHD yang dapat Ibu terapkan di rumah. 

Apabila memiliki pertanyaan lebih lanjut, Ibu dapat menghubungi BebeCare, layanan interaktif yang hadir untuk membantu dan mendukung Ibu dalam menumbuhkan anak hebat. Tidak perlu membuat janji, Ibu bisa menikmati layanan dukungan personil online, setiap saat, karena BebeCare siap melayani 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

Seluruh pertanyaan dan kecemasan Ibu akan dijawab oleh tim BebeCare yang terdiri dari latar belakang pendidikan, seperti kebidanan, keperawatan dan pendidikan gizi. Yuk Bu, hubungi BebeCare dan dukung si Kecil jadi anak hebat!

Temukan Topik Lainnya

Referensi:

  1. CDC. (2020, September 21). Treatment of ADHD. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/ncbddd/adhd/treatment.html
  2. NHS Choices. (2023). Symptoms - Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). https://www.nhs.uk/conditions/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/symptoms/
  3. NHS Choices. (2023). Physical activity guidelines for children and young people. https://www.nhs.uk/live-well/exercise/exercise-guidelines/physical-activity-guidelines-children-and-young-people/


Artikel Terkait