Bayi Tidak Cocok Susu Sapi? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

ASI adalah sumber nutrisi utama dan terbaik untuk bayi setidaknya sampai ia berusia 6 bulan. Namun, kondisi tertentu mungkin membuat si ...

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK

4 min
22 Apr 2022
Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK


ASI adalah sumber nutrisi utama dan terbaik untuk bayi setidaknya sampai ia berusia 6 bulan. Namun, kondisi tertentu mungkin membuat si Kecil harus beralih ke susu selain ASI. susu selain ASI memiliki potensi untuk memicu alergi. Maka itu, Ibu juga harus memahami apa penyebab bayi alergi susu sapi serta gejala dan cara mengatasinya. Yuk, simak penjelasan selengkapnya dalam artikel ini!

Penyebab Bayi Alergi Susu Sapi

Alergi susu sapi adalah jenis alergi makanan yang umum dialami bayi. Diperkirakan ada sekitar 2-7,5% bayi di bawah usia satu tahun menunjukkan ciri-ciri alergi susu sapi, lho. Alergi susu sapi pada bayi dipengaruhi oleh genetik. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat alergi makanan, si Kecil memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami alergi susu sapi.

Alergi makanan terjadi ketika sistem imun bereaksi berlebihan atau terlalu sensitif ketika terpapar oleh zat asing yang sebenarnya aman tapi justru dianggap berbahaya, salah satunya protein dalam susu sapi. Protein ini juga terkandung dalam produk olahan susu seperti keju, yogurt, dan lain sebagainya.

Sistem imun bayi mengira protein yang terdapat dalam susu adalah zat berbahaya sehingga tubuh melepaskan bahan kimia histamin untuk menyingkirkannya. Karena dianggap berbahaya, tubuhnya akan berusaha menyingkirkan protein tersebut dengan memunculkan reaksi alergi. 

Risiko alergi susu selain ASI lebih tinggi pada bayi yang sudah mulai belajar minum susu sapi, yakni di bawah usia 6 bulan. Sebab, saluran cerna bayi di bawah 1 tahun belum berkembang sempurna sehingga lebih sensitif terhadap asupan selain ASI.

Pada kasus yang sangat jarang terjadi, ketidakcocokan dengan susu sapi juga bisa dipicu oleh pola makan Ibu yang rutin mengonsumsi produk olahan susu sapi selama masa menyusui. Kandungan protein dari susu sapi yang Ibu konsumsi bisa masuk ke dalam ASI dan ikut dikonsumsi bayi.

Ciri-Ciri Bayi Alergi Susu Sapi

Ciri utama bayi alergi susu sapi adalah masalah pencernaan, masalah pernapasan, dan reaksi pada kulit. Akan tetapi, ciri-ciri alergi susu sapi bisa berbeda-beda pada tiap bayi, Bu. 

Ada jenis gejala yang reaksinya lebih cepat terlihat, biasanya berlangsung 30 menit sampai 1 jam setelah si Kecil mengonsumsi susu hewani selain ASI. Gejalanya pun cukup mudah dikenali. 

Gejala alergi susu sapi pada bayi adalah:

  • Mengi.

  • Batuk. 

  • Hidung meler, pilek, bersin-bersin.

  • Mata merah dan gatal.

  • Batuk.

  • Bentol-bentol kemerahan disertai rasa gatal (urtikaria).

  • Bengkak, kulit kemerahan, dan nyeri di sekitar bibir dan kelopak mata. 

  • Eksim pada kedua pipi, yang sering disebut sebagai eksim susu.

Namun, gejala bayi alergi susu sapi juga bisa muncul perlahan, sekitar 1-3 jam setelah konsumsi dan bahkan bisa sampai beberapa hari setelahnya. Gejala alergi ini biasanya lebih sering mempengaruhi pencernaan, seperti:

  • Kolik.

  • Muntah.

  • Diare berdarah.

  • Tidak nafsu makan dan perut bayi kembung.

Ibu bisa juga cek langsung lewat Allergy Checker untuk mengetahui apakah si Kecil benar tidak cocok susu sapi atau bukan. Jika alergi susu sapi pada bayi diabaikan tanpa penanganan yang tepat, tumbuh kembangnya bisa terganggu. Jadi, yuk, Bu, segera periksakan ke dokter!

Baca Juga: Penyebab Intoleransi Makanan pada Bayi dan Cara Atasinya

Cara Mengatasi Alergi Susu Sapi pada Bayi

Melihat bayi alergi susu sapi pasti membuat Ibu cemas dan khawatir. Untungnya, sebagian besar reaksi alergi bisa dikendalikan dengan mudah. 

Berikut adalah berbagai cara mengatasi alergi susu sapi pada bayi yang bisa Ibu lakukan:

1. Segera Jauhkan si Kecil dari Pemicu Alergi

Salah satu cara mengatasi ketidakcocokan bayi terhadap susu selain ASI adalah menjauhkannya dari pemicu alergi agar gejalanya tidak semakin parah.

Bila si Kecil sudah mengonsumsi MPASI, segera hentikan pemberian makanan dan minuman yang mengandung protein susu sapi atau produk turunannya. 

Kalau si Kecil masih menyusu eksklusif, Ibu juga perlu menghindari konsumsi susu sapi dan semua produk turunannya, seperti mentega, keju, yogurt, dan lainnya, untuk sementara waktu.

Jika Ibu tidak tahu apa faktor pemicu yang membuat bayi alergi susu, segera berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat melakukan tes alergi guna mengidentifikasi pemicu alergi dingin yang si Kecil alami.

2. Konsultasikan ke Dokter

Jika gejala alergi diabaikan tanpa penanganan yang tepat, tumbuh kembang si Kecil bisa terganggu, lho! Jadi, jika Ibu curiga bayi alergi susu sapi, segera konsultasikan ke dokter.

Dokter mungkin akan melakukan tes darah dan uji tusuk kulit (skin prick test) untuk mengetahui apakah bayi mengalami alergi susu sapi atau tidak.

Selanjutnya, dokter akan meminta bayi Ibu untuk melakukan pemeriksaan setiap 6-12 bulan guna melihat apakah si Kecil sudah sembuh dari alerginya atau belum. Seiring bertambahnya usia si Kecil, gejala bayi alergi susu sapi dapat menghilang ketika ia berusia 3-5 tahun. 

Sebanyak 45-55% keluhan alergi susu sapi hilang pada tahun pertama. Pada tahun kedua meningkat jadi 60-75%, dan di tahun ketiga 90% anak yang pernah mengalami alergi tidak lagi merasakan gejala yang sama.

3. Hindari MPASI dari Olahan Susu Sapi

Bila si Kecil didiagnosis mengalami alergi susu sapi, Ibu disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau ahli gizi guna mengatasi alerginya.

Jangan berikan MPASI terbuat dari produk olahan susu sapi pada bayi di atas usia 6 bulan sementara waktu, misalnya: 

  • Yogurt, krim, mentega, margarin, ghee, keju.

  • Es krim, SKM, krimer kental.

Susu sapi juga terdapat dalam berbagai produk makanan olahan. Jadi, Ibu perlu memeriksa label untuk bahan-bahan, seperti:

  • Gula susu, laktosa, susu padat, protein susu, susu modifikasi.

  • Kasein, kaseinat, protein whey, whey terhidrolisis, whey padat.

  • Laktosa, laktalbumin.

  • Kaseinat terhidrolisis.

  • Susu bubuk skim, susu padat tanpa lemak, lemak mentega.

Ibu tidak perlu khawatir bila si Kecil tidak memperoleh protein, serat, kalsium, vitamin D, dan vitamin B2 yang biasa terdapat pada produk olahan susu untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal, karena berbagai nutrisi ini masih bisa ditemukan dari sumber makanan lain.

Apa Akibatnya Bila Alergi Susu Sapi Bayi Terlambat Ditangani? 

Sekarang Ibu sudah paham gejala dan ciri-ciri alergi susu sapi pada si Kecil, sehingga bisa lebih waspada. 

Kalau Ibu curiga bayi memiliki alergi susu sapi, apalagi ada riwayat alergi dalam keluarga, segera bawa ia ke dokter. Terlebih, jika si Kecil sampai mengalami diare dan muntah yang bisa berisiko menyebabkan dehidrasi bila terlambat ditangani.

Di samping itu, alergi susu sapi yang berkepanjangan dan tidak ditangani bisa menghambat tumbuh kembang si Kecil. Contohnya, bayi bisa mengalami peradangan usus. 

Akibatnya, si Kecil dapat mengalami diare kronis hingga lebih dari 14 hari, pertumbuhan terhambat, hingga gangguan pencernaan dan penyerapan nutrisi yang bisa menyebabkan anemia dan kekurangan nutrisi lainnya.

Alergi susu sapi juga bisa memunculkan reaksi yang lebih serius dan mengancam nyawa yang dinamakan syok anafilaksis. Syok anafilaksis bisa membuat si Kecil tiba-tiba mengalami pembengkakan pada bibir, mulut, lidah, tenggorokan, dan bagian tubuh lainnya. Syok anafilaksis juga dapat menyebabkan bayi lemas dan lesu yang ekstrem, kesulitan bernapas, dan penurunan kesadaran.

Konsultasikan juga ke dokter untuk mengetahui asupan bergizi yang sesuai dengan kondisi si Kecil, ya.

Semoga informasi ini bermanfaat, Bu!

 


Referensi:

  1. Marina Aparicio, dkk. (2020). Microbiological and Immunological Markers in Milk and Infant Feces for Common Gastrointestinal Disorders: A Pilot Study. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7146151/ 
  2. Sumadiono. (2013). Waspada Alergi Susu Sapi pada Bayi. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/waspadai-alergi-susu-sapi-pada-bayi 
  3. Mieczyslawa Czerwionka-Szaflarska, dkk. (2017). Allergic Enteritis in Children. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5360665/
  4. Badriul Hegar. (2013). Mengenal Gejala Saluran Cerna akibat Alergi Protein Susu Sapi. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenal-gejala-saluran-cerna-akibat-alergi-protein-susu-sapi 
  5. WebMD. (2018). Caring for an Infant With Cows’ Milk Allergy. WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/milk-allergy-19/slideshow-cow-milk-allergy
  6. NHS Choices. (2023). What should I do if I think my baby is allergic or intolerant to cows’ milk? https://www.nhs.uk/common-health-questions/childrens-health/what-should-i-do-if-i-think-my-baby-is-allergic-or-intolerant-to-cows-milk/

 

Temukan Topik Lainnya



Artikel Terkait