Jenis-makanan-tinggi-serat-untuk-bayi

5 Makanan Tinggi Serat untuk Bayi yang Mudah untuk Disajikan

detail-fb detail-wa detail-twitter

Buat Ibu, memberikan MPASI boleh jadi merupakan pekerjaan yang cukup menantang. Mulai dari proses mencari referensi menu yang paling sehat, memilih bahan berkualitas terbaik, mempelajari teknik masak ideal yang bisa mempertahankan kualitas gizi makanan, hingga tantangan dalam memberikan MPASI yang sudah dibuat dengan penuh kerja keras tersebut kepada si Kecil. 

Sayangnya, tak jarang si Kecil menolak menyantap makanan yang Ibu sajikan. Wajar jika Ibu merasa kewalahan. Tapi, tetap semangat ya, Bu. Periode MPASI adalah saat yang krusial bagi tumbuh kembang si Kecil. Bila tidak mendapat makanan yang tepat, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, si Kecil bisa mengalami malnutrisi1.

MPASI adalah makanan pendamping ASI yang diberikan pada masa peralihan, yaitu sejak si Kecil berusia 6 bulan hingga 23 bulan1.  Dalam periode tersebut, Ibu harus kreatif berkreasi membuat MPASI bernutrisi tinggi dengan aneka ragam bahan makanan, termasuk makanan tinggi serat untuk bayi. Serat untuk bayi? Iya, Bu, ternyata bayi pun sudah membutuhkan asupan serat, lho! Cari tahu lebih dalam, yuk, Bu.

Pentingnya Serat untuk Bayi

Ibu pasti sudah paham pentingnya protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral untuk tumbuh kembang si Kecil. Bagaimana dengan serat? Tentunya, serat jangan ketinggalan ya, Bu.  Di usia 6-11 bulan, bayi membutuhkan 11 gram serat per hari2. Memang kelihatannya sedikit kalau dibandingkan kebutuhan orang dewasa. Namun 11 gram ini jangan sampai kurang ya Bu, karena makanan tinggi serat untuk bayi itu juga penting untuk kesehatan si Kecil.

Serat bermanfaat untuk mencegah konstipasi atau susah buang air besar (BAB), serta menurunkan berat badan yang bisa berdampak pada menurunnya risiko Diabetes Melitus Tipe 23. Bicara Diabetes mungkin masih sangat jauh dari usia si Kecil sekarang. Masalah kegemukan atau obesitas pun mungkin baru akan dihadapi si Kecil beberapa tahun mendatang. Namun, memberikan MPASI sehat dan tinggi serat, tetap harus dibiasakan, Bu.

MPASI adalah periode si Kecil belajar makan. Selain penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, MPASI juga penting untuk membentuk kebiasaan dan pola makan yang sehat pada anak4. Jika si Kecil sejak dini sudah terbiasa menyantap makanan sehat yang kaya serat dan nutrisi, kebiasaan ini akan terus berlanjut hingga dewasa.

Makanan Tinggi Serat untuk Bayi

Jagung

Jagung adalah makanan berserat yang baik untuk tubuh bayi. Sebuah jagung mengandung 2 gram serat. Jagung bisa diolah menjadi bubur atau sebagai menu tambahan dalam makanan.

Tomat

Tomat adalah salah satu makanan tinggi serat yang baik untuk pencernaan. Dalam sebuah tomat terkandung 1,2 gram serat.

Alpukat

Alpukat baik untuk pencernaan karena kandungan seratnya tinggi. Alpukat juga bisa menjadi buah yang baik untuk bayi 6-12 bulan karena tinggi serat. 

Apel

Apel juga menjadi salah satu buah tinggi serat yang baik untuk bayi. Pasalnya, dalam sebuah apel terkandung 2 gram serat.

Raspberry

Salah satu buah yang baik untuk bayi 6-12 bulan adalah raspberry. Dalam buah ini terkandung serat yang tinggi sehingga baik untuk pencernaan bayi.

Resep Makanan tinggi Serat untuk Bayi

Makanan tinggi serat untuk bayi bisa diperkenalkan secara bertahap ya, Bu. Mulai dari usia 6 bulan. Ibu bisa memasukkan serat ke dalam MPASI dari makanan sumber karbohidrat5. Misalnya makanan sumber karbohidrat sederhana, seperti nasi, roti, pasta, atau kentang. Buah dan sayur tentu juga tak boleh terlupakan6.

Yang pasti, MPASI harus mengandung beragam jenis sumber makanan, dengan komposisi seimbang. Untuk sumber serat sajikan menu-menu dari bahan sumber serat yang beraneka ragam. Variasi sumber pangan akan memberikan nutrisi yang lengkap bagi si Kecil, dan membentuk kebiasaan makan yang baik5.

Di usia 6-9 bulan, Ibu bisa membuatkan bubur tim dari nasi atau jagung yang disaring atau dilumatkan, jangan lupa lengkapi dengan protein agar si Kecil terhindar dari risiko stunting. Seiring dengan bertambahnya usia, Ibu bisa mulai mengenalkan makanan yang bertekstur lebih kasar, misalnya sup krim dengan potongan ikan.

Berikut ini dua resep makanan tinggi serat untuk bayi yang bisa Ibu buat dengan mudah di rumah:

Tim Tahu

Tahu merupakan salah satu sumber protein nabati yang baik. Rasanya yang netral membuat tahu luwes diolah menjadi aneka sajian. Untuk variasi menu MPASI si Kecil, Ibu bisa membuat menu Tim Tahu ini. Tambahkan sumber serat dari beras aron dan sayuran kesukaan si Kecil, seperti wortel dan bayam. 

Agar lebih komplet gizinya, tambahkan potongan ikan tuna yang kaya omega 3. Pastikan tak ada duri atau tulang ikan yang terselip, ya, Bu. Bubuhi juga bawang putih bubuk, minyak wijen, tomat, dan keju parut untuk memperkaya cita rasanya. Cara masaknya? Cukup dengan mengukusnya hingga matang. Bila si Kecil masih berusia 6-9 bulan, tim bisa disaring atau dilumatkan agar teksturnya lebih halus. Catat resep lengkap tim tahu ini.

Sup Krim Salmon

Si Kecil mulai bosan dengan menu MPASI? Sup krim salmon bisa menjadi pilihan yang unik. Rasanya yang creamy dengan potongan ikan salmon yang gurih, dan aroma yang lezat, pasti akan menggugah selera makan si Kecil. Bahan-bahannya hanya kentang, ikan salmon, dan keju parut. Ditambah bumbu sederhana seperti bawang bombai, bawang putih, seledri, dan minyak zaitun. Ini resep sup krim salmon yang bisa Ibu ikuti.

Sudah tak sabar menyiapkan menu makanan tinggi serat untuk bayi kesayangan? Menu apa yang akan disiapkan untuk MPASI besok? Mari mulai mencari referensinya. Selamat berkreasi ya, Bu!


1. Sri S. Nasar. (2013). Makanan Pendamping ASI (MPASI). Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/makanan-pendamping-asi-mpasi [Diakses 25 April 2021]

2. Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia. Diambil dari: http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf [Diakses 28 April 2020]

3. Sibylle Kranz, et al. (2012). What Do We Know about Dietary Fiber Intake in Children and Health? The Effects of Fiber Intake on Constipation, Obesity, and Diabetes in Children. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3262613/ [Diakses 23 April 2021]

4. Lina Ninditya, Siti Rayhani Fadhila. (2016). Memberi Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana? Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana [Diakses 25 April 2021]

5. Motuma Adimasu Abeshu, Azeb Lelisa, Bekesho Geleta. (2016). Complementary Feeding: Review of Recommendations, Feeding Practices, and Adequacy of Homemade Complementary Food Preparations in Developing Countries – Lessons from Ethiopia. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5065977/ [Diakses 23 April 2021]

6. Patrizia Alvisi. (2015). Recommendations on Complementary Feeding for Healthy, Full-Term Infants. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4464122/ [Diakses 23 April 2021]

Tag