Simak 4 Mitos Makanan Tinggi Serat untuk Bayi, Ada yang Bisa Bikin Sembelit?

Yang kita ketahui selama ini, makanan berserat sangat baik untuk melancarkan pencernaan. Tapi ternyata anggapan tersebut tidak selalu be...

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

4 min
17 Jun 2022
Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH


Yang kita ketahui selama ini, makanan berserat sangat baik untuk melancarkan pencernaan. Tapi ternyata anggapan tersebut tidak selalu benar, lho, Bu. Terutama untuk si Kecil di bawah usia 1 tahun. Yuk, ketahui lebih jauh seputar dampak makanan tinggi serat untuk bayi! Benarkah dapat melancarkan pencernaannya, atau malah bisa bikin ia sembelit? 

Kebutuhan Serat untuk Bayi

Pengaruh makanan tinggi serat terhadap kesehatan pencernaan telah banyak dibuktikan pada orang dewasa. Namun, hanya ada sedikit studi klinis pada anak-anak dari berbagai usia yang mendukung asumsi tersebut1

Si Kecil baru membutuhkan asupan serat tambahan ketika usianya masuk 6 bulan, atau ketika ia sudah mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI). Sedangkan di usia 0-5 bulan, pemenuhan kebutuhan seratnya bersumber dari pemberian ASI eksklusif2.

Menurut pedoman Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kebutuhan serat untuk bayi berusia 6-11 bulan adalah sebesar 11 gram2. Kebutuhan serat tersebut bisa didapat si Kecil dari MPASI-nya, misalnya sayur, buah-buahan, atau bubur gandum.

Meski jumlahnya kecil, makanan tinggi serat untuk bayi ini bermanfaat membuat si Kecil merasa kenyang lebih lama, menjaga kesehatan saluran pencernaannya, dan mencegah sembelit1.

Tapi jangan salah kaprah, ya, Bu. Meski bermanfaat, ada aturan dalam hal pemberian makanan tinggi serat untuk bayi. Jangan sampai Ibu terjebak dalam mitos-mitos seputar pemberian serat untuk bayi berikut ini. 

Mitos Seputar Makanan Tinggi Serat untuk Bayi

Serat dibagi menjadi dua jenis, yakni serat larut dan serat tidak larut. Serat larut adalah jenis serat yang dapat larut dalam air, di mana serat jenis ini mampu menurunkan kadar kolesterol dan mengontrol kadar gula darah. Sedangkan serat tidak larut adalah jenis serat yang bisa membantu melancarkan pencernaan dan mengatasi sembelit1.

Simak 4 Mitos Makanan Tinggi Serat untuk Bayi, Ada yang Bisa Bikin Sembelit?

Makanan tinggi serat memang sangat baik untuk kesehatan si Kecil, Bu. Tapi, kebutuhan serat untuk setiap anak berbeda-beda berdasarkan usianya1

Lalu, bagaimana dengan kebutuhan serat untuk si Kecil di bawah usia 1 tahun? Ternyata, ada beberapa mitos seputar makanan tinggi serat untuk bayi yang banyak beredar, dan harus Ibu ketahui kebenarannya. Apa saja?

1. Makanan tinggi serat dapat melancarkan BAB 

Tidak selalu seperti itu, Bu. Beberapa orangtua justru keheranan mengapa bayinya bisa sembelit atau konstipasi padahal sudah banyak makan sayur dan buah. 

Faktanya, meski memiliki segudang manfaat, terlalu banyak konsumsi makanan tinggi serat dapat menyebabkan bayi sembelit. Apalagi jika tidak dibarengi dengan meminum cukup cairan3.

Sembelit bisa terjadi karena serat tidak dapat diproses pada sistem pencernaan bayi yang belum berfungsi normal sepenuhnya, terutama ketika asupan serat terlalu banyak. Ciri-ciri si Kecil mengonsumsi terlalu banyak serat di antaranya adalah si kecil mengalami sakit perut, sulit BAB, dan perut kembung3.

Baca Juga: 5 Makanan Berserat Tinggi untuk Anak yang Baik dan Bergizi

2. Perkenalkan sayuran sebelum buah

Anggapan ini juga tidak tepat, dan bisa dibilang mitos, Bu. Sayur dan buah memang merupakan dua jenis makanan tinggi serat yang paling sering diperkenalkan kepada si Kecil pertama kali lewat MPASI4

Ada anggapan bahwa sayuran harus diperkenalkan lebih dulu sebelum buah, supaya si Kecil menjadi terbiasa dengan rasa sayur dan kelak tidak akan menjadi anak yang picky eater4

Bayi yang diperkenalkan dengan buah terlebih dahulu, akan terbiasa dengan rasa manis dan kelak cenderung menolak sayuran dengan rasa yang lebih 'pahit'. Namun faktanya, tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung anggapan ini, Bu. Dan itu artinya, Ibu bebas memperkenalkan bahan makanan apa saja untuk pertama kali kepada si Kecil4.

Baca Juga: 5 Ide Camilan dari Sayuran Tinggi Serat yang Disukai Anak

3. Minum jus buah atau sayur sama baiknya dengan makan buah dan sayur

Jika Ibu bermaksud untuk memberikan vitamin dan mineral yang berasal dari buah dan sayuran, maka memberi si Kecil jus buah atau sayur murni 100% dapat menjadi solusi. Tapi, Ibu tidak bisa memenuhi asupan serat si Kecil dari jus. Karena dibandingkan buah dan sayuran utuh, jus hanya mengandung sedikit serat5

Simak 4 Mitos Makanan Tinggi Serat untuk Bayi, Ada yang Bisa Bikin Sembelit?

4. Sembunyikan sayur di dalam makanan favorit si Kecil

Ini merupakan salah kaprah yang paling umum di kalangan para Ibu. Karena khawatir si Kecil menolak sayur, banyak Ibu memutuskan untuk mengolah sayur dan menggabungkannya bersama makanan lain yang lebih disukai si Kecil, misal sayuran cincang di dalam chicken nugget, wortel parut di dalam telur dadar, dan sebagainya.

Membuat si Kecil makan sayur memang penting, Bu. Tapi yang tak kalah penting juga adalah membiasakan si Kecil untuk mengenal bentuk asli sayur dan mau memakannya dengan kemauannya sendiri6. Hal inilah yang akan membentuk pola makan sehatnya kelak, Bu.

Bagaimana, Bu, di antara 4 mitos tentang makanan tinggi serat untuk bayi di atas, apakah ada salah satunya yang pernah Ibu percayai atau lakukan? Yuk, berikan makanan tinggi serat untuk bayi lewat MPASI, yang resepnya bisa Ibu lihat di Bebeclub

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu


Temukan Topik Lainnya

  1. Sibylle Kranz, et al. 2012. What Do We Know about Dietary Fiber Intake in Children and Health? The Effects of Fiber Intake on Constipation, Obesity, and Diabetes in Children. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles /PMC3262613/  [Diakses 24 April 2022]
     
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia. Diambil dari: http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk _hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka _Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk _Masyarakat_Indonesia.pdf  [Diakses 24 April 2022]
     
  3. C. A. Edwards dan A. M. Parret. 2021. Dietary fibre in infancy and childhood. Diambil dari: https://www.researchgate.net/publication /10766275_Dietary_fibre_in_infancy_and _childhood  [Diakses 24 April 2022]
     
  4. Lina Ninditya dan Siti Rayhani Fadhila. 2016. Memberi Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana? Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana  [Diakses 24 April 2022]
     
  5. Mark L. Dreher. 2018. Whole Fruits and Fruit Fiber Emerging Health Effects. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles /PMC6315720/  [Diakses 24 April 2022]
     
  6. Samantha J. Caton, et al. 2014. Learning to Eat Vegetables in Early Life: The Role of Timing, Age and Individual Eating Traits. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles /PMC4039444/  [Diakses 24 April 2022]


Artikel Terkait