Mengenali Dan Membantu Anak Yang Kesulitan Belajar

Cara Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak dengan Tepat

detail-fb detail-wa detail-twitter

Mendidik anak supaya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas tidaklah mudah. Orangtua harus memerhatikan tumbuh kembang anak sedini mungkin. Pada masa emas pertumbuhannya, anak biasanya akan lebih cepat mempelajari banyak hal di sekitarnya. Misalnya menanyakan nama-nama benda, warna, hingga berhitung angka 1 hingga 10.

Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan belajar anak pun bisa lebih jelas terlihat. Tidak selalu “mulus” bisa jadi orangtua akan menemukan kesulitan dalam mendidik anak. Hal ini bisa terjadi karena anak mengalami kesulitan belajar. Lalu, apa saja ya yang masuk kategori kesulitan belajar?

  • Kesulitan membaca dan menulis.
  • Masalah dengan keterampilan matematika.
  • Kesulitan mengingat.
  • Tidak fokus.
  • Kesulitan mengikuti petunjuk.
  • Koordinasi yang tidak baik.
  • Kesulitan dengan konsep yang berkaitan dengan waktu.
  • Masalah akan kerapian.

Seorang anak dengan kesulitan belajar juga dapat menunjukkan satu atau lebih dari ciri-ciri dan karakteristik anak kesulitan belajar sebagai berikut:

  • Perilaku yang tidak menentu.
  • Tanggapan yang tidak tepat di sekolah atau situasi sosial.
  • Kesulitan bertahan untuk mengerjakan tugas (mudah terganggu).
  • Kesulitan menemukan cara yang tepat untuk mengatakan sesuatu.
  • Nilai pelajaran yang tidak konsisten.
  • Cara berbicara yang belum dewasa.
  • Kesulitan mendengarkan dengan baik.
  • Masalah dengan menghadapi hal-hal baru yang terjadi di sekitarnya.
  • Masalah dalam memahami kata atau konsep.

Jenis Kesulitan Belajar pada Anak

Tanda-tanda ini saja tidak cukup untuk menentukan bahwa seorang anak memiliki kesulitan belajar. Diperlukan penilaian profesional untuk mendiagnosis  kesulitan belajar sehingga dapat ditemukan cara mengatasi kesulitan belajar pada anak yang tepat. Namun, berikut ini juga terdapat beberapa jenis ketidakmampuan belajar dengan kondisi khusus, antara lain:

1. Disleksia

Orang dengan disleksia biasanya mengalami kesulitan membuat koneksi antara huruf dan suara dan dengan ejaan dan mengenali kata-kata. Orang dengan disleksia sering menunjukkan tanda-tanda lain dari kondisi tersebut, antara lain:

  • Kegagalan untuk memahami apa yang dikatakan orang lain.
  • Kesulitan mengatur bahasa tertulis dan lisan.
  • Keterlambatan berbicara.
  • Kesulitan belajar kosa kata baru, baik melalui membaca atau mendengar.
  • Kesulitan belajar bahasa asing.
  • Kelambatan dalam mempelajari lagu dan rima.
  • Lambat membaca serta mudah menyerah saat diminta membaca bacaan panjang.
  • Kesulitan memahami pertanyaan dan mengikuti arahan.
  • Ejaan yang buruk.
  • Tingkat kesulitan mengingat nomor secara berurutan (misalnya, nomor telepon dan alamat).
  • Masalah membedakan kiri dari kanan.

2. Disgrafia

Gangguan ini ditandai dengan masalah menulis dan dapat menyebabkan seorang anak menjadi tegang dan canggung ketika memegang alat tulis. Seorang anak dengan tulisan tangan yang sangat buruk yang tidak dia kembangkan mungkin juga dapat mengalami disgrafia. Tanda-tanda lain dari kondisi ini antara lain:

  • Tidak suka menulis dan/atau menggambar.
  • Masalah dengan tata bahasa.
  • Kesulitan menulis ide.
  • Kesulitan menuliskan pikiran dalam urutan logis.
  • Mengucapkan kata-kata dengan keras saat menulis.

3. Diskalkulia

Tanda-tanda cacat ini termasuk masalah pemahaman konsep aritmatika dasar, seperti pecahan, garis bilangan, dan angka positif dan negatif dengan ciri-ciri kesulitan belajar, di antaranya:

  • Kesulitan membuat perubahan dalam transaksi tunai.
  • Kebiasaan menempatkan masalah matematika di atas kertas.
  • Kesulitan mengenali urutan informasi logis (misalnya, langkah-langkah dalam masalah matematika).
  • Kesulitan memahami urutan waktu kejadian.

4. Dispraksia

Seseorang dengan dispraksia memiliki masalah dengan tugas motorik, seperti koordinasi tangan-mata, yang dapat mengganggu pembelajaran, gejalanya antara lain:

  • Kesulitan dengan tugas yang memerlukan koordinasi tangan-mata, seperti mewarnai garis, merakit teka-teki, dan memotong dengan tepat.
  • Miskin keseimbangan.
  • Sensitif akan suara keras dan/atau berulang, seperti detak jam.
  • Sensitif terhadap sentuhan, termasuk dengan pakaian yang terasa mengganggu.

Untuk mengatasi masalah kesulitan belajar pada anak ini, sebaiknya orangtua membicarakannya pada dokter spesialis dan psikologi anak. Tujuannya agar dapat membantu Si Kecil untuk mengatasi masalah kesulitan belajar. Yang terpenting adalah dukungan dari orangtua agar tidak menuntut terlalu keras sehingga membebani pikiran Si Kecil.