kecerdasan-emosi-anak-tersenyum

Benarkah Kecerdasan Emosi Anak Menurun dari Orang Tuanya? Ini Ulasannya

detail-fb detail-wa detail-twitter

Benarkah kecerdasan emosi anak berhubungan erat dengan kecerdasan emosi orang tuanya? Sejumlah riset mengemukakan adanya hubungan erat antara kecerdasan emosi anak dengan orang tuanya. Lalu, bagaimana bila orang tua mudah stres dan marah, apakah anak jadi memiliki kecerdasan emosional yang rendah?

Mari kupas tuntas mengenai pengertian kecerdasan sosial serta hubungan kecerdasan emosi anak dan orang tuanya, baik itu secara genetik maupun pola asuh. Simak, yuk!

Apa Itu Kecerdasan Emosional?

Sebelum mengetahui dari mana kecerdasan emosi anak berasal, mari simak dahulu apa itu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengontrol emosi diri sendiri, memantau emosi orang lain, membedakan berbagai emosi dan memberi label yang tepat serta mampu memproses informasi emosional menjadi petunjuk saat berinteraksi dengan orang lain1.

Saat si Kecil berusia 1-2 tahun, salah satu ciri kecerdasan emosionalnya adalah ia memahami siapa saja yang membuatnya nyaman. Maka jangan heran bila ia menangis saat Ibu tidak berada dalam jangkauan penglihatannya. Pada usia 2-3 tahun, ia sudah lebih mandiri, bisa bermain sendiri maupun bersama teman, bahkan bisa menyebut nama teman sepermainannya.2

Pada usia 4-5 tahun, anak sedang belajar mengendalikan emosinya. Ia mudah berempati kepada sesama seperti menghibur adik yang menangis. Selera humornya juga mulai berkembang. Ia senang melucu, membuat wajah unik agar menghibur dan menarik perhatian keluarganya.2

Lalu, apa pentingnya kecerdasan emosional ini bagi anak usia sekolah? Faktanya, kecerdasan emosional ini mempengaruhi kecerdasan akademik. Kecerdasan emosional akan membuat anak bisa mengatur emosinya sehingga tetap bisa belajar dengan optimal di tengah situasi yang penuh tekanan di sekolah. Si Kecil juga akan bisa menjaga hubungan baik dengan teman-teman dan gurunya. Dan, yang tidak kalah penting, kecerdasan emosi juga akan membantu si Kecil menguasai ilmu pelajaran sosial, termasuk seni budaya dan sejarah3.

Sebanyak 10% Kecerdasan Emosional Diwariskan dari Orang Tua

Sebuah penelitian dilakukan University of Cambridge terhadap 46.861 orang untuk menjawab pertanyaan ‘Apakah benar kecerdasan emosional seseorang diwariskan dari orang tuanya?’ Melalui penelitian yang diberi nama Empathy Quotient tersebut, para peneliti menemukan hubungan antara genetik seseorang dan kemampuannya untuk berempati kepada orang lain4.

Empati merupakan komponen terbesar dalam kecerdasan emosional. Empati dibagi menjadi dua, yaitu empati kognitif yang merupakan kemampuan untuk mengenali emosi orang lain dan empati afektif yang berkaitan dengan kemampuan untuk menanggapi emosi orang lain sesuai dengan emosi diri sendiri.

Nah, Empathy Quotient ini mengukur kedua komponen empati tersebut. Hasilnya, para ilmuwan menemukan bahwa faktor genetik ternyata menentukan 10% dari kemampuan empati seseorang4.

Pola Asuh Menentukan Kecerdasan Emosi Anak

“Wah, saya mudah stres, sedangkan Ayahnya masih harus berlatih kesabaran. Bagaimana nasib kecerdasan emosi anak saya?”

Apakah pertanyaan itu juga muncul di benak Ibu? Jangan khawatir, Bu. Kecerdasan emosi anak tidak serta merta hanya dipengaruhi oleh faktor genetik, kok. Lingkungan dan pola asuh juga ikut menentukan kecerdasan emosi anak. Maka, penting untuk menciptakan lingkungan rumah yang nyaman dan dipenuhi oleh kasih sayang, baik antara orang tua dan anak maupun antara Ibu dan Ayah. Dengan demikian perkembangan kecerdasan emosi anak bisa tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Selain itu, pola asuh juga menentukan anak memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Berikut yang bisa Ibu lakukan untuk melatih kecerdasan emosi anak, yaitu:

  1. Ajak si Kecil untuk peduli dan berbagi dengan sesama. Contohkan si Kecil untuk peduli pada temannya yang jatuh atau menangis, ajari berbagi makanan, bermain bersama, serta mengikutsertakan si Kecil memilih pakaiannya yang sudah tidak muat lagi untuk diberikan kepada yang membutuhkan.
  2. Latih kesabaran si Kecil dengan cara membiasakannya mengantre saat mencuci tangan sebelum makan. Selain itu, setiap si Kecil minta dibelikan mainan, misalnya, jangan segera membelikannya saat itu juga. Ibu bisa memintanya menunggu untuk waktu tertentu atau memberikan syarat. Biarkan si Kecil menunggu dengan sabar waktu yang telah disepakati tersebut.
  1. Ajarkan si Kecil tanggung jawab sesuai usianya, seperti menyimpan sepatu dan sandal pada tempatnya, membereskan mainan setelah bermain, membereskan meja belajar setelah selesai belajar dan menjaga barang-barang miliknya.

Selain konsisten melatih dan mengingatkan si Kecil tentang hal-hal di atas, yang tak kalah penting adalah peran orang tua dalam memberi contoh. Bukankah si Kecil adalah peniru ulung?

Dan, untuk mendukung kecerdasaan emosi anak, Ibu juga perlu memberinya nutrisi yang tepat dengan menambahban Bebelac 3 dalam menu harian. Susu Bebalac 3 mengandung minyak ikan yang kaya omega-3, omega-6, 13 vitamin, dan 6 mineral, serta merupakan satu-satunya susu dengan kandungan FOS GOS untuk mendukung kesehatan pencernaannya.

Karena adanya gut brain axis yang membuat pencernaan, otak dan suasana hati saling terhubung, maka pencernaan yang sehat (Happy Tummy) membuat otak si kecil berfungsi optimal (Happy Brain) dan kecerdasan emosi anak terjaga karena suasana hatinya yang baik (Happy Heart). Semangat, ya, Bu!


Referensi

  1. Kalpana Srivastava. Emotional intelligence and organizational effectiveness. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4085815/ [Accessed on June 4, 2021]
  2. Riska Herliafifah. 2019. Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini 1-5 Tahun. Diambil dari https://hellosehat.com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/perkembangan-balita/perkembangan-sosial-emosional-balita/ [Diakses 17 Juni 2021]
  3. Carolyn MacCann Ph.D. Why You Need Emotional Intelligence to Succeed at School. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/dealing-emotions/202006/why-you-need-emotional-intelligence-succeed-school [Accessed on June  4, 2021]
  4. Minda Zetlin. Do You Have Emotional Intelligence? It Could Be in Your Genes. Retrieved from https://www.inc.com/minda-zetlin/emotional-intelligence-is-partly-genetic-new-research-shows.html  [Accessed on June 4, 2021]