akal yang kreatif, happy brain

Membesarkan Anak dengan Akal yang Kreatif

detail-fb detail-wa detail-twitter

Memiliki buah hati dengan akal yang kreatif, tentu menyenangkan, ya, Bu. Ia akan dapat memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya dengan cara yang efektif. Dengan akal yang kreatif, bisa membuat si Kecil tidak takut melakukan kesalahan dan mau berusaha untuk mendapatkan ide menarik yang juga inovatif1. Anak yang memiliki akal yang kreatif juga memiliki happy brain sehingga tidak akan mudah merasa cemas dan tertekan ketika dihadapkan pada rentetan tugas dalam kesehariannya.

Sebagian orang mungkin menganggap kreativitas itu hanya dimiliki oleh segelintir anak berbakat saja, atau anak-anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi. Faktanya? Tidak demikian, Bu. Kreativitas dapat distimulasi. Setiap anak punya potensi untuk memiliki akal yang kreatif.

Nah, tantangannya adalah bagaimana Ibu dapat menciptakan suasana di rumah yang menunjang dan mendorong si Kecil untuk berkreasi. Bagaimana caranya? Simak 5 tips berikut ini!

Kembangkan Rasa Ingin Tahu si Kecil

Rasa ingin tahu merupakan salah satu ciri khas yang secara alamiah dimiliki anak-anak. Sayangnya rasa ini akan berkurang intensitasnya seiring dengan bertambahnya usia si Kecil2. Maka tugas orang tua adalah untuk mempertahankan rasa ingin tahu tersebut.

Coba diingat kembali, pernahkah Ibu menjawab sekadarnya saja ketika si Kecil bertanya hal-hal seperti "Kenapa bunga warnanya merah, Bu?"

Sikap orang tua yang kadang meremehkan pertanyaan-pertanyaan si Kecil inilah yang dapat mematikan rasa ingin tahu pada anak. Akibatnya, si Kecil tak lagi terdorong untuk bereksplorasi dan mencari tahu2.

Jadi, mulai sekarang cobalah ajak si Kecil melakukan berbagai hal baru, misalnya mengajaknya jalan-jalan ke museum (bisa dilakukan secara virtual di masa pandemi ini), melakukan eksperimen sains sederhana, atau membuat kreasi dari barang-barang yang ada di sekitar. Temani si kecil dan tunjukkan antusias yang sama seperti mereka, ya, Bu! Selalu tanggapi rasa ingin tahu anak dengan jawaban-jawaban yang mudah dipahami, agar kreativitas dalam dirinya tetap berkembang.

Izinkan si Kecil Bereksplorasi dan Mencoba Hal Baru

Ketidaktahuan si Kecil membuatnya sangat suka bereksplorasi. Tapi, sering kali kekhawatiran orang tua membatasi ruang gerak si kecil untuk bereksplorasi. "Jangan!" adalah salah satu kalimat yang paling sering diucapkan Ibu ketika si Kecil mencoba menaiki kursi untuk mengambil bukunya yang ada di atas meja, misalnya.

Padahal, tahukah Ibu bahwa si Kecil belajar lebih efisien lewat eksplorasi2? Sayangnya, cara belajar yang satu ini kerap tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk orang tua karena rasa khawatir yang berlebihan.

Jadi, bebaskan si Kecil menjelajah lingkungan sekitarnya, Ibu dapat mengawasinya agar tetap aman dan terhindar dari bahaya.

Dorong si Kecil untuk Memberikan Ide

Kreativitas sering kali muncul dari pengalaman sehari-hari3. Nah, Ibu bisa mendorong si Kecil untuk melontarkan beragam ide. Misal, sesederhana menentukan menu makan malam atau tujuan liburan akhir tahun. Semakin sering si kecil melontarkan ide, semakin terasah akal yang kreatif dalam diri anak.

Si Kecil yang tumbuh dalam lingkungan yang demokratis, akan terinspirasi untuk berkreasi sejak usia dini. Ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan mampu memecahkan masalah dengan menunjukkan kreativitas, bahkan pada saat usianya masih sangat kecil3.

Tumbuhkan Motivasi dari Dalam Diri si Kecil

Motivasi adalah penentu tindakan yang paling krusial4. Dengan memiliki motivasi, si Kecil akan memiliki dorongan, hasrat, serta minat untuk mencapai sesuatu yang diingkannya.

Agar anak memiliki motivasi dari dalam diri sendiri, hendaknya Ibu tidak selalu menghadapkan si Kecil pada situasi yang kompetitif. Si kecil yang sering didorong untuk berkompetisi secara berlebihan, cenderung lebih fokus pada tujuan akhir, dan mungkin saja memanipulasi proses dalam mencapai tujuan akhir tersebut.

Berbeda jika si kecil memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri. Ia akan cenderung berpikir kreatif dalam menjalankan proses mencapai tujuan akhirnya, bahkan ketika ia menemui kesulitan4. Happy brain alias pikiran yang bahagia juga dapat memotivasi anak untuk selalu dapat berpikir kreatif.

Tumbuhkan motivasi dengan menceritakannya tentang tokoh-tokoh inspiratif yang bisa menjadi idolanya. Atau mencari tahu hal- hal yang disukai anak dan memberi dukungan positif padanya untuk melakukan hal yang ia sukai.

Bebaskan si Kecil Berimajinasi

Berimajinasi berarti mengembangkan cara berpikir yang fleksibel dan menyenangkan serta membiasakan si Kecil memiliki ide- ide baru dan tidak biasa (out of the box). Ibu bisa melatih si Kecil untuk menelaah berbagai sudut pandang dalam menghadapi berbagai persoalan. Misalnya, ketika anak minta tolong untuk mengambilkan sesuatu di tempat yang tinggi. Alih-alih mengambilkannya, Ibu bisa mengajak si kecil menyusun beberapa buah buku tebal sebagai pijakan agar ia bisa mencapai permukaan yang tinggi.

Selain itu, tentunya Ibu juga harus memberikan asupan gizi dan serat yang cukup agar si Kecil tumbuh sehat dan cerdas. Ibu bisa berikan 3 gelas Bebelac setiap hari yang mengandung DHA, omega 3 dan omega 6. Selain itu, Bebelac juga diperkaya dengan FOS:GOS 1:9, serta 13 vitamin dan 5 mineral.

Sudah siap mendampingi anak untuk tumbuh dengan akal yang lebih kreatif (happy brain), Bu? Pastikan juga asupan harian si Kecil mengandung nutrisi yang tepat dan lengkap, karena bisa menjaga saluran cerna yang sehat (happy tummy) dan hati yang besar (happy heart) sehingga ia tumbuh hebat. Selain tips di atas, dapatkan juga tips lainnya tentang perkembangan anak di sini.

 


Referensi

  1. Ine Setia. 2017. Peran Orang tua dalam Menumbuhkembangkan Kreativitas Anak. Diambil dari: https://www.researchgate.net/publication/331174183_PERAN_ORANG_TUA_DALAM_MENUMBUHKEMBANGKAN_KREATIVITAS_ANAK. [Diakses 19 November 2020]
  2. Jamie J. Jirout. 2020. Supporting Early Scientific Thinking Through Curiosity. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7419578/. [Diakses 19 November 2020]
  3. Chen-Chu Liang and Yu-Hsi Yuan. 2020. Exploring Children’s Creative Self-Efficacy Affected by After-School Program and Parent–Child Relationships. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7522334/. [Diakses 19 November 2020]
  4. Darrell A. Worthy, et al. 2011. Motivational Influences on Cognitive Performance in Children: Focus Over Fit. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3087182/.  [Diakses 19 November 2020]
Tag