Cara Mengendalikan Emosi Pada Anak

Membantu Anak Menghadapi Emosi Negatifnya

Bebelac Admin | 17/05/2019

Emosi negatif bukanlah hal yang buruk. Orangtua perlu memahami hal ini serta membantu anak agar bisa belajar dan tumbuh dari emosi negatif yang dirasakannya.

Saat sedang merasa kesal, bosan, bahkan sedang lelah, anak-anak sering berubah menjadi pemarah. Ada banyak alasan hal tersebut bisa terjadi. Namun, hal yang paling memengaruhi adalah usia anak yang belum matang dan membuatnya belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi negatif alias amarah.

Meski terkesan buruk, anak-anak sebenarnya perlu untuk mengenali dan merasakan berbagai macam emosi, termasuk yang bersifat negatif. Namun tentu saja, perlu ada peran orangtua dalam mengontrolnya. Sebab, membiarkan anak “menikmati” emosi negatif bisa menjadi masalah pada kehidupan sosialnya kelak. Mengontrol emosi negatif pada anak nyatanya merupakan satu kunci untuk membantunya tumbuh menjadi anak yang bahagia dan memiliki sifat yang baik.

Untuk menumbuhkan sifat baik pada anak, menjadi orangtua yang hangat dan selalu menunjukkan kasih sayang pada Si Kecil tidaklah cukup. Dibutuhkan juga keterampilan untuk membantu mengatasi, bahkan menjadi “pelatih” emosional anak. Lantas, bagaimana sih caranya menjadi seorang pelatih emosi yang baik untuk anak? Yuk, simak tipsnya berikut!

Biarkan Anak Mengenal Emosi Negatif

Melampiaskan amarah atau menyampaikan perasaan boleh saja. Namun, tegaskan bahwa hal ini tetap harus dituntun orangtua. Maksudnya adalah agar anak dapat menyampaikan amarahnya dengan cara yang benar. Contoh menyampaikan atau melampiaskan bukan dengan tindakan melainkan perkataan. Bukan sembarang perkataan, ada peraturan yang dibuat. Yakni tidak boleh kata-kata kasar, dengan begini anak anak diminta mengekspresikan amarah dengan cara yang bijak.

Beritahu pula bahwa saat emosi negatifnya meledak, bisa saja hal tersebut mengganggu orang di sekitarnya. Namun, ibu perlu menyesuaikan cara penyampaiannya pada Si Kecil. Mulailah dengan menunjukkan rasa simpati. Meski terdengar mudah, tapi hal tersebut ternyata tidak sesederhana itu, lho!

Berikan Dia Waktu

Saat sedang marah, anak mungkin akan secara tidak sengaja melakukan hal-hal yang buruk. Misalnya, melemparkan barang-barang, memaki, atau bahkan menyalahkan anggota keluarga lain. Jika hal ini yang terjadi, orangtua harus mencoba untuk memberikan waktu pada anak untuk menyampaikan kemarahannya.

Setelah itu, beritahu padanya bahwa apa yang sudah ia lakukan adalah hal yang salah. Beri waktu pada anak setidaknya 5 sampai 10 menit untuk menyendiri atau pergi ke kamar mandi. Setelah batas waktu berakhir, minta ia untuk meminta maaf pada anggota keluarga, lalu merapikan apa yang sudah ia rusak. Namun ingat, pastikan untuk memberi pengertian pada Si Kecil bahwa hal itu tidak baik dan jangan sampai ia terbiasa dan terus menerus mengulanginya. Hal ini sangat penting untuk membantu anak mengetahui bagaimana ia harus bersikap saat emosi negatif menguasai dirinya.

Selesaikan Masalah

Setelah anak puas melampiaskan amarahnya, cobalah untuk mengajaknya berbincang dari hati ke hati. Tanyakan apa yang sebenarnya sedang mengganggu dan membuatnya semarah itu. Minta ia menceritakan semuanya dan cobalah untuk mendengarkan apa yang dia sampaikan tanpa menghakimi. Dengan demikian, Si Kecil tidak akan merasa sendiri dan akan lebih percaya diri ke depannya.

Setelah mengetahui duduk persoalannya, orangtua bisa mencoba untuk mengajak anak bertukar pikiran dan mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dialami. Setelahnya, biarkan Si Kecil menikmati waktu sendiri dan menenangkan pikiran. Misalnya dengan berjalan di taman atau sekadar bermain dengan hewan peliharaan.