alergi susu sapi, cara mengatasi alergi susu, cara mengatasi anak alergi susu

6 Cara Mengatasi Anak Alergi Susu Sapi

detail-fb detail-wa detail-twitter

Jika si Kecil mengalami gatal-gatal, bentol, bersin-bersin karena tidak cocok dengan makanan atau minuman tertentu, rasanya sedih sekali ya, Bu? Apalagi kalau sampai diare berdarah, batuk, dan sesak napas1. Ada banyak penyebab ketidakcocokkan terhadap makanan. Alergi susu sapi adalah salah satu pemicu yang paling sering dialami oleh anak, khususnya batita2.

Untungnya, gejala yang muncul akibat alergi susu sapi umumnya ringan sampai sedang. Jadi sebenarnya, Ibu tidak perlu panik berlebihan. Namun, tetap perlu waspada karena ada 0,1-1% risiko gejala berat yang mungkin terjadi1.

Ibu dan Ayah tentunya perlu memahami cara mengatasi anak alergi susu, dan harus dilakukan sedini mungkin sejak alergi diketahui. Ini penting untuk mencegahnya bertambah berat. Makin sering alergi kambuh, penyakit akan makin berat, dan makin sulit diobati. Alergi pada bayi angkanya cukup bervariasi, tapi diperkirakan berkisar 0,3-7,5% 2. Cara mengatasi alergi susu sapi memerlukan trik khusus. Apa saja caranya? Yuk, disimak, Bu!

Berikan ASI Eksklusif

Memberikan ASI eksklusif adalah salah satu cara efektif untuk mencegah si Kecil mengalami alergi, terutama pada anak yang memiliki risiko tinggi terhadap alergi3. Misalnya bila Ibu, Ayah, atau keduanya memiliki alergi. Menurut beberapa penelitian, memberikan si Kecil ASI eksklusif selama 4 - 6 bulan berkaitan dengan rendahnya angka kejadian alergi4.

Sebagian besar gejala alergi susu sapi mulai muncul dalam usia 4 bulan pertama2. Lho, padahal si Kecil masih mendapat ASI eksklusif, kok bisa kena alergi susu sapi? Ternyata, bayi bisa mendapat susu sapi melalui ASI. Ketika ibu mengonsumsi susu sapi, protein dari susu sapi akan masuk ke ASI, dan muncullah reaksi alergi. Ini akan terjadi bila si Kecil memang memiliki bakat tidak cocok dengan susu sapi. Untuk memastikan diagnosisnya, Ibu bisa berkonsultasi terlebih dulu ke dokter. Penanganan alergi susu sapi harus sesuai dengan rekomendasi dari dokter ya, Bu. Di bawah ini adalah garis besar untuk memberi secuplik gambaran pada Ibu.

Hindari Susu Sapi

Bila memang si Kecil tidak cocok dengan susu sapi, hindari susu sapi, serta semua produk turunan susu sapi2,3 seperti keju, butter, dan roti. Ini adalah cara mengatasi alergi susu yang paling utama2. Makanan tersebut juga sebaiknya dihindari oleh Ibu yang masih memberikan ASI. Sebagai tambahan, dibutuhkan waktu hingga 72 jam untuk membersihkan’ ASI dari protein susu sapi yang diminum Ibu5.

Formula Isolat Kedelai untuk Anak Alergi Susu Sapi

Ibu bisa memberikan formula khusus yang memang dibuat untuk anak alergi susu sapi. Misalnya formula hidrolisat ekstensif, formula asam amino, atau formula isolat kedelai2, untuk anak berusia di atas 1 tahun. Tentu, Ibu perlu berkonsultasi dulu dengan dokter ya mengenai pemilihan formula untuk si Kecil. Dokterlah yang bisa merekomendasikan formula, sesuai dengan kondisi si Kecil. Tiap jenis formula memiliki indikasi, keunggulan, dan kekurangan tersendiri2.

Yang perlu Ibu pahami, formula isolat kedelai berbeda dengan susu kedelai biasa ya Bu. Formula isolat kedelai mengandung berbagai nutrisi penting yang mampu mendukung tumbuh kembang si Kecil. Ibu tidak perlu khawatir karena anak yang minum formula soya, pertumbuhannya sama dengan anak yang minum susu sapi7. Tidak terlihat perbedaan panjang tubuh, berat badan, dan lingkar kepala pada anak yang mengonsumsi formula isolat kedelai dibandingkan mereka yang minum susu sapi2.

Sedia Obat Antialergi

Seberapapun cermatnya kita menghindari susu sapi untuk makanan atau minuman si Kecil, mungkin ibu bisa ‘kecolongan’ juga. Untuk itu, sediakan selalu obat alergi yang direkomendasikan oleh dokter. Obat ini bisa diberikan sesuai dosis, ketika si Kecil mengalami reaksi alergi. Bila gejalanya cukup berat, baiknya segera membawa si Kecil ke dokter ya, Bu.

Penuhi Kebutuhan Nutrisi si Kecil

Karena harus menghindari semua makanan dan minuman yang mengandung susu sapi dan produk turunannya, pilihan makanan untuk si Kecil pun jadi lebih terbatas. Lengah sedikit saja, si Kecil bisa kekurangan nutrisi tertentu hingga tumbuh kembangnya terganggu5.

Pastikan si Kecil mendapat asupan nutrisi yang tepat dan seimbang ya, Bu. Ibu tak perlu khawatir si Kecil kekurangan protein, serat, kalsium, vitamin D, dan vitamin B2 karena tidak meminum susu sapi. Jika si Kecil sudah berusia di atas satu tahun, kandungan tersebut bisa didapatkan dari segelas formula soya untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal.

Ajak si Kecil Berjemur Tiap Pagi

Jangan lupa, ajaklah si Kecil berjemur setiap pagi ya, Bu. Tidak perlu terlalu lama, cukup 10-15 menit saja untuk memenuhi kebutuhan vitamin D6. Vitamin ini tak hanya penting untuk penyerapan kalsium, lho, Bu. Menurut penelitian, vitamin D di masa kanak-kanak bisa menekan respons alergi, hingga memelihara bakteri bermanfaat, yang ikut membantu mencegah alergi pada si Kecil.

Begitu cara praktis yang Ibu bisa terapkan setelah mengetahui kondisi si Kecil. Semangat, ya, Bu untuk menerapkannya. Tetap berikan si Kecil asupan bernutrisi yang tepat sehingga ia bisa memiliki perut yang hebat serta daya pikir dan pertumbuhan yang optimal. Untuk tips lainnya tentang tumbuh kembang anak, Ibu bisa membaca di sini.

 


Referensi:

  1. Sumadiono. (2013). Waspada Alergi Susu Sapi pada Bayi. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/waspadai-alergi-susu-sapi-pada-bayi [Diakses 19 Februari 2021]
  2. Aldo Reynaldo, Badriul Hegar. (2014). Soy Infant and Extensively Hydrolyzed Formula as Therapeutic Formula for Cow’s Milk Protein Allergy. Diambil dari https://media.neliti.com/media/publications/68126-EN-soy-infant-and-extensively-hydrolyzed-fo.pdf [Diakses 19 Februari 2021]
  3. Christopher W. Edwards, Mohammad A. Younus. (2020). Cow Milk Allergy. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK542243/#:~:text=Cow's%20milk%20allergy%20is%20a,by%20the%20age%20of%206 [Diakses 19 Februari 2021]
  4. Zakir Munasir, Nia Kurniawati. (2013). Air Susu Ibu dan Kekebalan Tubuh. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-kekebalan-tubuh [Diakses 20 Februari 2021]
  5. Carlos Lifschitz, Hanida Szajewska. (2015). Cow’s milk allergy: evidence-based diagnosis and management for the practitioner. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4298661/ [Diakses 19 Februari 2021]
  6. Mehmet Hoxha, et al. (2014). Vitamin D and Its Role as a Protective Factor in Allergy. Diambil dari https://www.hindawi.com/journals/isrn/2014/951946/ [Diakses 20 Februari 2021]
  7. 7.     Aline Andres, et al. (2012). Developmental Status of 1-Year-Old Infants Fed Breast Milk, Cow's Milk Formula, or Soy Formula. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/225069513_Developmental_Status_of_1-Year-Old_Infants_Fed_Breast_Milk_Cow%27s_Milk_Formula_or_Soy_Formula [Diakses 10
    Maret 2021]