anak berantem

4 Hal yang Ibu Harus Lakukan saat Anak Berantem dengan Saudaranya

detail-fb detail-wa detail-twitter

Mungkin Ibu sering kesal saat melihat dan mendengar anak berantem di rumah, antara kakak dengan sang adik. Rasanya tiap hari ada saja yang diributkan. Entah rebutan mainan, gawai, sampai hal sepele seperti siapa yang mandi duluan. Tidak heran kalau para ahli mengatakan bahwa hubungan kakak beradik adalah salah satu hal yang paling menantang bagi orang tua dalam ilmu parenting1.

Hubungan Spesial Kakak-Adik

Hubungan kakak beradik adalah hal yang unik, sebab hubungan ini terjadi begitu saja, tanpa anak bisa memilih. Tidak seperti hubungan pertemanan yang memungkinkan anak menentukan sendiri siapa yang ingin dijadikannya teman. Dalam hubungan ini ada hierarki usia di mana adik menghormati kakak dan kakak menjadi contoh bagi adik1. Meski kerap bikin pusing kepala, namun sesungguhnya anak berantem adalah bagian dari proses perkembangan hubungan antara kakak dan adik.

Jangan kaget ya Bu, menurut riset, kakak beradik bisa berkonflik hingga 8x per jam! Hal yang lebih mengejutkan lagi, lebih dari 40% anak pernah ditendang, dipukul, atau digigit oleh saudaranya dalam jangka waktu 1 tahun. Eitts..  jangan panik dulu, Bu. Meski terdengar seram, interaksi kakak beradik ini sebenarnya merupakan sarana belajar menjalin relasi sehingga di kemudian hari, mereka bisa saling curhat, mengobrol panjang tentang hal-hal yang disukai, hingga melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti membuat video TikTok bareng.

Menengahi Anak Berantem

Hubungan kakak beradik berlangsung sepanjang hidup. PR kita sebagai orang tua adalah mengondisikan agar hubungan ini jadi produktif. Anak-anak bisa mengembangkan kepribadian masing-masing, sekaligus mengembangkan kemampuan mereka dalam membangun hubungan yang baik. Relasi kakak beradik yang dekat dan saling mendukung, berkaitan erat lho, Bu, dengan kompetensi sosial anak di masa kanak-kanak maupun saat dewasa kelak2.

Anak bertengkar bisa menjadi salah satu tanda keakraban. Tentu Ibu tidak ingin si Kakak dan si Adik punya hubungan yang dingin dan tidak akrab, seperti orang asing,  bukan? Namun jangan sampai ada pertengkaran yang berlarut-larut, dan terus terjadi hingga mereka dewasa. Hal-hal berikut ini bisa Ibu lakukan untuk menengahi anak berantem.

Dengarkan Anak

Emosi anak biasanya meluap-luap saat bertengkar. Ibu harus tetap berkepala dingin. Cobalah dengarkan penjelasan kedua belah pihak. Saat merasa didengar, anak biasanya menjadi lebih kooperatif. Bila anak bertindak agresif, misalnya memukul atau menendang, katakan dengan tegas bahwa sikap itu tidak boleh dilakukan, sekalipun mereka sedang emosi. Yakinkan anak bahwa Ibu mendengarkan dan menghormati perasaan mereka3.

Ketika emosi anak sudah reda, ajaklah mereka untuk duduk bersama dan membicarakan masalah yang tadi dihadapi. Biarkan tiap anak mengutarakan perasaan mereka dengan lebih santai. Sambil mengobrol, Ibu bisa memberi mereka susu agar suasana lebih hangat dan tenang. Segelas susu Bebelac yang diperkaya dengan berbagai nutrisi penting, seperti minyak ikan, omega 3 dan omega 6. Susu ini juga kaya akan prebiotik FOS GOS dengan rasio 1:9 serta 13 vitamin dan 5 mineral.

Ajari Anak Cara Menyelesaikan Masalah

Jadilah penengah saat anak berantem. Ajarkan pada anak cara berkompromi dan bernegosiasi. Ibu bisa memberi contoh dari pengalaman pribadi, dan menceritakan bagaimana cara menyelesaikan masalah itu dengan cara yang lebih positif3. Jadikan tiap pertengkaran sebagai ajang pembelajaran bagi anak, sehingga di kemudian hari mereka bisa lebih menahan diri, dan menghindari terjadinya pertengkaran.

Ada kalanya juga Ibu tidak perlu ikut campur, cukup memantau dari jauh. Biarkan anak-anak belajar menyelesaikan masalah di antara mereka sendiri. Bagaimanapun, Ibu tidak akan selalu berada untuk membantu mereka. Bila pertengkaran tampak makin hebat dan tidak ada tanda-tanda mereda, barulah Ibu bisa menengahi.

Beri Hukuman secara Privat

Bila salah seorang anak bersikap keterlaluan sehingga perlu diberi hukuman, hindari melakukannya di hadapan saudaranya atau di depan umum. Hal ini akan membuat anak malu, dan melukai harga dirinya3. Anak bisa menjadi minder, dan perselisihan di antara mereka pun bisa menjadi makin hebat, karena anak yang mendapat hukuman mungkin menyimpan dendam tanpa ia sadari.

Buka Ruang untuk Diskusi

Kunci dari keintiman keluarga terletak pada komunikasi. Makan bersama adalah salah satu momen yang sangat baik untuk membiasakan diskusi dalam keluarga. Ayah, Ibu, dan anak-anak bebas mengungkapkan segala unek-unek, tanpa dihakimi3. Ini juga menjadi medium untuk saling meminta maaf atas pertengkaran yang terjadi, sehingga tidak ada lagi perasaan yang mengganjal di hati. Gunakan pula kesempatan ini untuk membuat dan mengingatkan peraturan di rumah3.

Itulah 4 cara yang bisa dilakukan saat menghadapi anak berantem. Satu hal yang pasti, ibu harus sabar dan tidak terpancing emosi yang justru akan membuat suasana jadi semakin panas. Hadapi dengan tenang dan santai ya, Bu! Nah, simak juga tips lain tentang perkembangan psikis anak di sini.

 

Sumber sitasi:

  • Mark E. Feinberg, et al. (2012). The Third Rail of Family Systems: Sibling Relationships, Mental and Behavioral Health, and Preventive Intervention in Childhood and Adolescence. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3288255/ [Diakses 30 Desember 2020]
  • Mark E. Feinberg, et al. (2012). Enhancing Sibling Relationships to Prevent Adolescent Problem Behaviors: Theory, Design and Feasibility of Siblings Are Special. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3513510/ [Diakses 30 Desember 2020]
  • Cleveland Clinic. (2020). 10 Tips for Dealing with Sibling Rivalry. Diambil dari https://health.clevelandclinic.org/sibling-rivalry-tips-5-for-prevention-5-for-intervention/ [Diakses 31 Desember 2020]
Tag