Img_large_0077_shutterstock_247447033

Merespon dan Berkomunikasi dengan Si Kecil

detail-fb detail-wa detail-twitter

Mengajak bayi berbicara adalah momen yang menyenangkan, apalagi ketika Si Kecil sudah mulai menginjak usia 3-4 bulan. Pada umur ini, bayi sangat suka melihat atau bahkan membuat ekspresi wajah, seperti senyuman, tawa, atau hanya berupa gumaman. Menggemaskan sekali ya, Bu.

Tahukah Ibu, berkomunikasi dengan bayi memiliki banyak manfaat untuk kecerdasan dan daya pikirnya? Yuk kita simak di bawah ini.

Kemampuan dan cara Si Kecil berkomunikasi

Mungkin Ibu telah menyadari, pada usia 3 bulan ini, kemampuan komunikasi bayi telah bertambah. Kini, dia telah bisa: memperhatikan wajah-wajah dan lingkungan sekitarnya, tersenyum saat mendengar suara orang tua, mengeluarkan suara lembut (cooing) saat diajak bicara, hingga meniru suara dan ekspresi wajah.

Nah, saat menuju usia 4 bulan, Si Kecil akan mulai senang mengoceh atau babbling untuk menghibur dirinya sendiri, misalnya dengan mengucapkan kata-kata seperti ‘mamamah’ atau ‘bababah’. Kegiatan ini bisa dilakukannya sendiri dan berlangsung cukup lama lho. Menggemaskan sekali, ya.

Karena belum bisa bicara, pada usia ini, menangis masih menjadi cara berkomunikasi bayi yang utama. Selain ingin membuat Ibu mengetahui keinginannya, Si Kecil akan menangis saat merasa mengantuk, lelah, atau kaget. Kadang bisa jadi dia menangis tanpa Ibu ketahui penyebabnya. Selama dia tidak kelihatan kesakitan, tetap tenang ya, Bu. Respon tangisannya dengan mendekapnya.

Tips merespon dan berkomunikasi dengan bayi

Jadi, bentuk komunikasi seperti apa yang dapat Ibu lakukan pada bayi di usia ini? Berikut beberapa tips yang dapat Ibu lakukan.

  • Respon setiap ucapannya. Ibu bisa menjawab setiap ocehan Si Kecil dengan meniru ucapannya seperti bababa mamama maupun menambahkan kata-kata sederhana. Ibu bisa kok, menggunakan baby talk atau bahasa bayi, namun jangan lupa untuk selalu mencampurkan percakapan dengan kata-kata yang lafalnya benar ya, Bu.
  • Perhatikan nada. Tahukah Ibu, di usianya saat ini, Si Kecil semakin pintar dan peka terhadap nada suara dan cara Ibu mengucapkan kata maupun kalimat tertentu. Cara Ibu berkomunikasi dengannya dapat membuatnya mengerti mengenai kepribadian maupun perasaan Ibu hari itu. Jika Ibu berbicara dengan lembut dan nada riang, maka dia akan tersenyum bahkan menggumam. Namun, jika Ibu bicara dengan nada tinggi atau marah dia bisa jadi kaget dan menangis.
  • Gunakan kata-kata yang deskriptif. Ibu bisa menyelipkan nama-nama benda, warna, bentuk dan sebagainya. Ajak juga dia berbincang-bincang sambil membaca buku, misalnya softbook atau buku dengan bahan halus dan ringan khusus bayi untuk menambah kosa katanya.
  • Ceritakan keseharian Ibu. Gunakan aktivitas Ibu sebagai bahan cerita untuknya. Misalnya, “Halo sayang, sekarang Ibu mau menyiapkan peralatan mandi kamu ya.. Kita mandi yang bersih supaya wangi, yuk!”, dan sebagainya. Gunakan setiap kesempatan untuk bercerita, misalnya saat memberinya ASI, mengajaknya berjalan-jalan di stroller, dan sebagainya.

 

Jangan kecewa bila Si Kecil sedang tidak mood untuk diajak bermain atau berbicara. Ada kalanya ia merasa lelah atau lapar sehingga hanya ingin memejamkan mata. Bisa jadi dia sedang tidak ingin diajak bicara dan memilih untuk berkomunikasi dalam bentuk tangisan.

Yang jelas, jangan pernah ragu untuk menggendong Si Kecil ketika ia menangis. Jangan takut terhadap anggapan ‘bau tangan’ karena istilah itu cuma mitos kok. Sebaliknya, pelukan Ibu dapat membuat Si Kecil nyaman sehingga tangisannya akan mereda karena ia sudah merasa aman.

Nah, selamat berkomunikasi dengan Si Kecil ya, Bu.

Tag