Kembali ke Kehamilan

8 Manfaat Menyusui bagi Ibu untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Menatap wajah si Kecil, merasakan nafasnya yang lembut, dan mendekapnya dengan lembut saat menyusui, sungguh membuat hati terasa tentram...

4 min
21 Apr 2022

Artikel ini belum diulas

Menatap wajah si Kecil, merasakan nafasnya yang lembut, dan mendekapnya dengan lembut saat menyusui, sungguh membuat hati terasa tentram ya, Bu. Rasanya, segala penat hilang seketika. Momen menyusui memang ajaib. Dan ternyata, begitu banyak manfaat menyusui bagi ibu, fisik maupun mental. Cari tahu lebih lanjut yuk, Bu.

Manfaat Menyusui bagi Ibu

Ibu pasti tahu ada begitu banyak manfaat ASI untuk si Kecil yang baru lahir, di antaranya sebagai sumber nutrisi, meningkatkan kekebalan tubuh, hingga berkontribusi pada kecerdasan si Kecil.1

Nah, manfaat menyusui bagi ibu secara khusus ternyata tak kalah hebatnya, Bu. Menurut penelitian, ibu yang menyusui akan lebih sehat dan risiko gangguan kesehatan berkurang.2

Uniknya lagi, manfaat menyusui untuk kesehatan Ibu tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga jangka panjang.2 Agar lebih jelas, yuk, kita simak, apa saja manfaat menyusui bagi ibu.

Manfaat Menyusui Jangka Pendek dan Panjang

Ada banyak manfaat yang dapat langsung Ibu rasakan ketika menyusui si Kecil, yang akan langsung Ibu rasakan dalam jangka pendek. Apa saja?

1. Risiko Perdarahan Menurun

WHO merekomendasikan inisiasi menyusui dini (IMD) dalam 1 jam pertama setelah bayi lahir. Selain bertujuan menurunkan angka kematian bayi dan melindungi si Kecil dari infeksi,3 isapan bayi pada payudara bermanfaat menstimulasi hormon oksitosin ibu. Oksitosin akan membuat rahim berkontraksi sehingga mengembalikan rahim ke ukuran semula seperti sebelum hamil. Selain itu, IMD mengurangi risiko perdarahan pascamelahirkan.

2. Berat Badan Cepat Turun

Menyusui itu membutuhkan banyak kalori lho, Bu. Jadi jangan heran bila berat badan cepat sekali turun selama periode menyusui.1 Sebuah penelitian menemukan, memberikan ASI eksklusif berhubungan dengan penurunan berat badan ibu pada 6 dan 18 bulan setelah melahirkan. Studi tersebut juga menemukan, makin tinggi intensitas menyusui dan makin lama waktu menyusui, makin besar pula penurunan berat badan ibu.2

3. Bonding Lebih Kuat

Manfaat bonding tidak hanya dirasakan oleh bayi, melainkan juga oleh ibu. Bonding adalah ikatan emosional yang terjalin secara timbal balik antara ibu dan bayi. Ibu yang memberikan ASI ternyata memiliki respons otak yang lebih tinggi terhadap tangisan bayi, serta lebih sigap, responsif, dan sensitif terhadap kebutuhan bayinya.2,4

Diduga, hal ini berkaitan dengan peningkatan hormon oksitosin selama periode menyusui. Hormon ini berperan menimbulkan rasa kasih sayang ibu kepada si Kecil. Selain itu, oksitosin ternyata juga menurunkan tekanan darah dan denyut jantung ibu, lho. Hormon ini juga membuat Ibu lebih relaks, serta mengurangi rasa cemas.4

4. Menghemat Waktu

Mengurus bayi baru lahir membutuhkan energi, waktu, dan perhatian yang luar biasa besar. Dengan menyusui langsung, ibu akan lebih menghemat waktu, karena ketika si Kecil menginginkan ASI maka dapat segera Ibu berikan kepada si Kecil baik siang maupun malam hari. Bonusnya, Ibu pun bisa relaks selama menyusui si Kecil.

5. Kontrasepsi Alami

Selama periode menyusui eksklusif, proses ovulasi atau pematangan sel telur ditekan. Artinya, tidak ada sel telur yang matang, sehingga membuat ibu tidak haid selama menyusui. Dengan demikian, ibu pun mendapat manfaat kontrasepsi alami sehingga terhindar dari kehamilan yang terlalu dekat.1,2,3

Meski demikian, sebaiknya kontrasepsi tetap digunakan ya, Bu,1 untuk mengurangi risiko kehamilan. Ibu bisa mendiskusikan pilihan kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui dengan dokter kandungan atau bidan.

WHO menyebut bahwa menyusui lebih lama dapat turut meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu.3 Apa saja manfaat menyusui bagi ibu dalam jangka panjang? Yuk, kita simak bersama.

6. Menurunnya Risiko Penyakit Metabolik

Selama hamil, terjadi perubahan metabolisme gula dan lemak dalam tubuh ibu. Perubahan ini menyebabkan peningkatan kadar gula darah, kolesterol, dan trigliserida yang dapat meningkatkan risiko diabetes mellitus pada ibu di kemudian hari.2

Nah, menyusui memberikan efek sebaliknya, Bu. Selama periode laktasi, sensitivitas insulin membaik. Artinya, tubuh ibu merespons insulin dengan baik sehingga peredaran gula dalam darah dapat masuk ke sel untuk digunakan sebagai energi. Menurut penelitian, menyusui mampu menurunkan risiko terjadinya diabetes tipe 2 pada ibu.2

Di samping itu, riset juga menemukan bahwa laktasi dapat menurunkan faktor risiko penyakit metabolik dan jantung. Ibu yang menyusui lebih tidak berisiko mengalami hipertensi, diabetes, gangguan lemak tinggi (hiperlipidemia), dan penyakit jantung serta pembuluh darah.2

7. Berkurangnya Risiko Kanker Tertentu

Laktasi menurunkan paparan estrogen pada tubuh ibu. Pada dasarnya estrogen memang hormon yang penting untuk perempuan. Namun, paparan estrogen terus menerus bisa memunculkan risiko kanker yang berhubungan dengan organ reproduksi, seperti kanker payudara dan indung telur.2

Menurut penelitian, terjadi penurunan risiko kanker payudara sebesar 4,3% untuk tiap tahun menyusui. Risiko kanker ovarium pun berkurang hingga 28% pada ibu yang menyusui selama minimal 12 bulan.2

8. Mempercepat Pemulihan Rahim

Selama kehamilan, rahim mengembang seiring dengan pertumbuhan janin. Setelah melahirkan, rahim mengalami involusi atau proses perubahan ukuran rahim ke ukuran semula. Proses ini dibantu oleh hormon oksitosin. Memberikan ASI dapat membantu Ibu memproduksi lebih banyak oksitosin.

Wah, betapa luar biasa ya Bu, manfaat menyusui bagi ibu. Ini mengapa menyusui sangat layak untuk diperjuangkan meski memang tidak selalu mudah. Jadi, semangat bagi semua ibu menyusui di mana pun dengan perjuangannya masing-masing.


Referensi:

  1. Badriul Hegar. (2013). Nilai Menyusui. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/nilai-menyusui [Diakses 2 November 2021]
  2. Christine M. Dieterich, dkk. (2012). Breastfeeding and Health Outcomes for the Mother-Infant Dyad. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3508512/ [Diakses 2 November 2021]
  3. WHO. (2021). Infant and Young Child Feeding. Diambil dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infant-and-young-child-feeding [Diakses 2 November 2021]
  4. Jennie Dianita S. (2014). Menyusui: Kunci Mother-Infant Bonding. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-kunci-mother-infant-bonding [Diakses 2 November 2021] 


Artikel Terkait