Kembali

Pertanyaan Ayah Dan Ibu

Kami menemukan "Category: Pola Asuh Anak Hebat" Sebanyak 23 hasil.

Pola Asuh Anak Hebat

Pola Asuh Anak Hebat

Hai Ibu, senangnya si Kecil sudah mulai bersekolah ya. Sebaiknya tidak memarahi si Kecil saat ia berbuat kesalahan. Ibu bisa memberikan pengertian kepadanya secara perlahan dalam suasana yang tenang.

 

Ibu bisa bertanya alasan si Kecil menggoda temannya. Pada umumnya ini adalah cara si Kecil berinteraksi untuk membangun kemampuan bersosialisasi dengan temannya. Bermain peran bagaimana berinteraksi yang baik dan tetap menyenangkan bisa Ibu lakukan di rumah untuk melatih si Kecil bagaimana bersikap di sekolah. Tetap semangat mendampingi si Kecil menjadi anak hebat ya Bu :)

 

 

Boleh saja Bu, selain itu jangan lupa untuk mengapresiasi dengan memberikan pujian apabila si kecil telah berhasil melakukan tugasnya.

 

Berikut contohnya Wah, pilihan baju kamu bagus sekali. Kamu terlihat tampan memakai ini. atau Apakah ini baju favorit kamu? Ibu baru tau kalau kamu cocok dengan warna kuning.”

 

Hal tersebut akan membuat si kecil merasa dihargai dan ia akan mencoba bekerjasama dengan instruksi ibu di waktu-waktu berikutnya. Usahakan untuk mengurangi kritik apabila menurut Ibu usaha si kecil masih kurang baik. Pada tahap ini ia belum siap menerima kritik, tetapi masih membutuhkan penghargaan dan penguatan psikologis dari Ibu.

 

Hai Ibu sering kali si Kecil ngambek dan tantrum di karenakan menginginkan sesuatu namun sulit untuk menyampaikannya karena kosa kata dan cara komunikasi masih terbatas dan hal ini terkadang terjadi di tempat umum. Cara mengatasinya, Ibu tetap harus bersikap tenang , abaikan reaksi sekitar, tidak memarahi siKecil. Ibu juga dapat memberikan waktu si kecil ketika mengalami emosi besar dengan membawanya ke tempat yang tenang dan sepi untuk meluapkan emosi sambil ditemani. Perlahan-lahan ketika konsisten dilakukan anak akan menyesuaikan sendiri strategi untuk mengelola perasaannya.

Bebeclub memiliki beberapa tips untuk mengatasi si Kecil yang sedang tantrum, seperti:

  1. Tunjukkan empati. Hindari mengekang si Kecil saat tantrum, apalagi mencubit atau memukul. Berikan si Kecil pelukan lembut sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan. Bentuk suasana positif dan tunjukkan empati Ibu kepadanya, misalnya dengan mengatakan, ""Adik marah ya, mainannya diambil teman? Nanti kita bujuk dia untuk mengembalikannya, ya."" Pengertian Ibu terhadap masalah si Kecil akan membuatnya tenang.
  2. Pastikan si Kecil aman. Jauhkan si Kecil dari benda-benda yang membahayakan, terutama bila si Kecil berguling-guling di lantai atau memukul-mukul.
  3. Pahami si Kecil. Kenali keinginan dan kebutuhan si Kecil bila bepergian, mungkin si Kecil tantrum karena lelah atau kelaparan. Jadwalkan kegiatan sebelum pergi mengacu pada kemampuan dan kebutuhan si Kecil.
  4. Sabar dan tenang. Jangan memarahi si Kecil saat tantrum. Kalau perlu menjauh sebentar, tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum menghadapinya.

 

Hai Ibu,ada banyak sekali ide untuk menstimulasi si Kecil. Kalau dilihat dari tahapan usianya, memang di usia si Kecil 2 tahun 1 bulan, terkesan bahwa ia masih malu-malu dan takut saat bertemu dengan orang lain. Hal ini sangat wajar. Tidak berarti ia kelak tidak akan bisa bersosialisasi, karena ini adalah tahap awal baginya untuk belajar bersosialisasi.

 

Justru pada usia ini, ketika ia terlihat takut bertemu orang lain, bisa jadi adalah indikator baik bahwa ia sudah memahami siapa orang yang ""aman"" baginya dan siapa yang ""tidak aman"". Ini merupakan cara untuk melindungi dirinya.

 

Di usia 3 tahun pertama, yang sangat penting dikuasai oleh si Kecil adalah keyakinannya pada diri sendiri atau percaya diri. Hal ini mungkin terjadi jika ia mendapatkan tanggapan-tanggapan positif, misalnya pujian ketika ia melakukan perilaku baik. Setelah ia lebih yakin pada dirinya, ia cenderung lebih siap untuk bertemu dengan orang lain dan bersosialisasi.

Jadi tetap semangat untuk menstimulasi si Kecil menjadi anak hebat dengan Happy Tummy, Happy Brain dan Happy Heart ya :)

Hai Ibu, tantrum atau perilaku marah pada si Kecil umum terjadi di usia balita karena si Kecil belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi dan kesal karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

 

Namun, diusianya saat ini Ibu sudah mulai dapat membiasakan si Kecil untuk mengontrol rasa emosinya dan sebaiknya menghindari seketika menuruti atau langsung menolak keinginan si Kecil.

 

Hai Ibu, si Kecil yang kurang fokus saat belajar atau ditanya oleh Ibu bisa disebabkan beberapa faktor seperti si Kecil yang lelah dan kurang istirahat, asupan nutrisi yang belum terpenuhi dan lain-lain. Sebaiknya Ibu memastikan si Kecil mendapatkan istirahat dan asupan nutrisi yang cukup serta konsumsi air putih yang cukup. Namun jika tidak ada perubahan pada kondisi si Kecil maka Ibu bisa berkonsultasi kembali dengan dokter.

Hai Ibu, mengajarkan suatu hal pada si Kecil tentunya harus disertai dengan memberikan contoh kepada si Kecil terlebih dahulu dan menjelaskan tujuan dan alasan mengapa kita sangat penting untuk menjaga kebersihan dan mengunakan masker pada saat pandemi seperti saat ini. Tentunya penjelasan ini disampaikan dengan bahasa yang mudah di pahami oleh usia si Kecil ya bu.

Untuk penjelasan ini Ibu dapat memberikan edukasi si Kecil dengan cara bercerita mengunakan boneka tangan koleksi si Kecil sebagai alat bantu bercerita. Misalnya apa akibatnya apabila tidak mencuci tangan dengan bersih dan tidak mengunakan masker, kuman bahkan virus bisa menempel di tubuh dan menjadi terpapar. Atau bisa juga Ibu memberikan info ke si Kecil dengan menonton video kartun yang menarik dan interaktif yang berisikan edukasi tentang bahayanya virus Covid 19 karena kita tidak menjaga kebersihan dan tidak menggunakan masker. Hal ini mungkin akan mudah di pahami oleh si Kecil, tentunya dengan didampingi oleh Ayah & Ibu untuk mempertegas maksud dari video tersebut.

Hai Ibu, untuk mendukung proses belajar online si Kecil Ibu biasakan memulainya dengan mengajak sarapan terlebih dahulu agar kondisi si Kecil bisa fokus dan konsentrasi dalam belajar, di saat istirahat Ibu dapat menyiapkan cemilan sehat seperti buah buahan, puding ataupun snack yang di suka si kecil. Berikan 2 jam sebelum makan siang dan juga sore harinya.

Ajak si kecil untuk melakukan proses belajar online dengan tetap semangat dan juga fokus dengan tugas tugas sekolahnya. Ibu dapat menjelaskan atau membujuk ke si Kecil apabila belajar onlinenya sudah selesai si Kecil dapat melakukan kegiatan lainnya seperti bersantai atau memainkan mainannya. Tetap semangat ya Bu, untuk mengajarkan si Kecil untuk memahami kondisi saat ini.

Hai Ibu, speech delay atau terlambat bicara dapat dibantu stimulasi dengan mengajak si Kecil berkomunikasi atau membaca buku cerita bersama-sama.

Kami mengerti kekhawatiran Ibu saat ini, namun dengan stimulasi yang terus menerus secara berlahan dan bertahap dapat membantu si Kecil lancar berbicara. Saat mengajak si Kecil mengobrol, Ibu juga dapat memandang wajahnya dan sesering mungkin kontak langsung dengan matanya ya. Ada baiknya juga Ibu berkonsultasi dengan tim ahli tumbuh kembang untuk mendapatkan penanganan yang lebih sesuai dengan kondisi si kecil.

Hai Ibu, nafsu makan si Kecil dipengaruhi oleh banyak faktor seperti makanan yang diberikan memang makanan yang disukai, bentuk dan warna nya menarik, aromanya yang nikmat serta rasanya yang enak.

Si Kecil yang sudah genap berusia 1 tahun, sudah mulai bisa diperkenalkan dengan menu makanan keluarga. Ibu bisa berikan makanan yang rasanya enak dengan warna dan bentuk yang menarik. Misalnya nasi goreng telur yang nasinya dibentuk menyerupai kepala panda atau buatkan sup ayam yang rasanya segar ditambahkan dengan makaroni. Ibu juga bisa ajak si Kecil makan bersama dengan menggunakan peralatan makan yang bergambar menarik.

Hai Ibu, proses tumbuh kembang anak adalah masa-masa yang paling berharga, akan tetapi tidak semua anak dapat belajar percaya diri dengan lancar. Ibu dapat memberikan motivasi untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri si Kecil.

  • Berikan contoh role model yang baik untuk Si Kecil
  • Ajarkan Si Kecil mengekspresikan perasaan
  • Berikan rasa empati terhadap Si Kecil 
  • Berikan pujian
  • Berikan Perhatian Kepada si Kecil

 

Hai Ibu, di usia 3 tahun, kemampuan sosialisasi si Kecil memang masih belum berkembang optimal. Ada banyak keterampilan sosial yang belum betul-betul ia miliki. Kemampuan berbagi adalah salah satunya. Jadi wajar sekali kalau sesekali ia berbagi, sementara di lain waktu ia tak mau berbagi. Tak perlu terlalu khawatir.

 

Untuk memastikan tumbuh kembangnya terus optimal, Ibu bisa melatih keterampilan sosial si Kecil, seperti mengajaknya berbicara sambil melakukan kontak mata. Saat berbicara gunakan bahasa yang banyak digunakan anak seusianya, coba untuk mendengarkan pendapatnya dan bergantian Ibu menyampaikan pendapat. Lakukan role play atau bermain peran dengan berbagai skenario atau cerita. Tentunya nanti saat pandemi usai dan si Kecil bertemu lebih leluasa dengan orang lain, maka ia sudah lebih siap dengan semua kemampuan bergaul yang dibutuhkan.

 

Terus semangat dukung si Kecil memiliki kecerdasan sosial atau Happy Heart ya Bu :)

Hai Ibu, diusianya si Kecil mulai dapat menunjukkan ekspresi senang, sedih dan juga marah. Umumnya marah adalah bentuk ekspresi karena ia belum bisa menyampaikan keinginannya sementara lingkungannya tidak mengetahui maksud dari si Kecil.

 

Beberapa cara mengelola emosi si Kecil yang dapat dilakukan adalah:

 

  • Ajarkan cara menenangkan diri, misalnya dengan memintanya istirahat
  • Belajar mengungkapkan perasaan
  • Jangan biasakan memendam amarah
  • Ibu bisa berikan empati kepada si Kecil 
  • Berikan pujian
  • Berikan contoh yang baik untuk si Kecil
  • Luapkan kemarahan dengan aktiivtas fisik yang positif, seperti melampiaskannya ke bantal, menyobek kertas, dll

Semoga si Kecil tumbuh dengan kebaikan hati diduking nutrisi dan stimulasi dari Ibu ya :)

Hai Ibu, salah satu faktor yang menyebabkan si Kecil memukul kepalanya sendiri adalah karena Ia belum mampu mengomunikasikan keinginan atau kebutuhannya secara langsung atau sedang mencoba mencari perhatian dari lingkungannya.

 

Saat si Kecil melakukan kegiatan ini, coba untuk hentikan sejenak aktivitas yang Ibu lalu hampiri si Kecil berikan pelukan dan cari tahu penyebab amarahnya. Berikan pemahaman dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami tentang bahaya menyakiti di sendiri.

 

Tetap semangat mendampingi si Kecil ya Bu, untuk merubah kebiasaan memang tidak mudah namun Ibu pasti bisa melakukannya dengan baik dan dukung si Kecil menjadi anak Hebat.

Hai Ibu, usia 6 bulan merupakan fase awal memperkenalkan jenis makanan baru seperti cita rasa, tekstur termasuk pola makan atau waktu makan. Jika si Kecil sudah diberikan MPASI maka kami sarankan untuk jam makannya mulai diterapkan sehingga si Kecil bisa terbiasa dan lebih teratur saat waktu makan. Berikan jarak kurang lebih 1,5 - 2 jam antara waktu makan dan asupan lainnya seperti snack.

Hai Ibu, kesiapan untuk pracalistung adalah ketika si Kecil sudah bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan, serta sudah cukup aktif. Diusia 18 bulan sebetulnya si kecil sudah lebih siap untuk beragam kegiatan pracalistung.

 

Kegiatannya perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Contoh untuk kegiatan prabaca, si Kecil bisa dibacakan banyak buku cerita anak, supaya ia lebih tertarik untuk membaca.

 

Terus dukung si Kecil dengan stimulasi yang tepat dan tumbuh dengan akal yang kreatif ya :)

Hai Ibu, stunting dapat dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.

 

Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan. Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

 

Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi.

Hai Ibu, pola asuh yang baik berpengaruh terhadap perkembangan si Kecil. Sedangkan faktor yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh si Kecil seperti asupan nutrisi, pola istirahat dll.

Beberapa tips yang dapat Ibu lakukan untuk menjaga daya tahan tubuh si kecil, yaitu:

  • Memberikan nutrisi yang seimbang, yaitu makanan bergizi mengandung makronutrien dan mikronutrien, maupun prebiotik
  • Pastikan kualitas dan kuantitas tidur si kecil terjaga dan cukup
  • Menjaga si kecil tetap aktif karena dapat meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh anak, serta membantu tumbuh kembangnya.
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan langkah yang penting untuk menjaga kesehatan, khususnya di musim pancaroba.
  • Ventilasi rumah harus dijaga baik agar sinar matahari masuk ke dalam rumah. Anak-anak membutuhkan vitamin D untuk menjaga imunitas tubuhnya.

Terus semangat dampingi si Kecil dengans timulasi tepat agar Ia tumbuh menjadi Anak Hebat ya Bu :)

Hai Ibu, cara mengarahkan si Kecil ajak dapat bergaul dengan banyak teman salah satunya dengan permainan kelompok karena secara tidak langsung si Kecil akan belajar mengenal temannya satu sama lain, misalnya petak umpat, menari bersama-sama, dll.

Ibu juga bisa mengajak si Kecil berbicara kenapa suka sekali bermain dengan si A? setelah itu coba berikan pandangan positif tentang teman-teman lainnya dan bagaimana mengasyikkan main dengan banyak teman. Bila si Kecil kesulitan untuk diajak berbicara secara langsung Ibu bisa menyampaikan menggunakan media dongeng atau cerita.

Terus semangat dampingi si Kecil dengan stimulasi tepat untuk dukung Happy Heart ya :)

Hai Ibu, imunisasi sebaiknya diberikan kepada si Kecil untuk memberikan perlindungan pada tubuhnya. Ada 5 jenis imunisasi yang wajib diberikan pada si Kecil sebelum usia 1 tahun yaitu :

  1. Imunisasi BCG.
  2. Imunisasi Campak.
  3. Imunisasi DPT-HB-HiB.
  4. Imunisasi Hepatitis B.
  5. Imunisasi Polio.

Masing-masing jenis imunisasi tersebut perlu diberikan sesuai jadwal yang Ibu bisa dapatkan dari dokter.

Hai Ibu, tantrum atau perilaku marah pada si Kecil memang umum terjadi di usia balita karena si Kecil belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi dan kesal saat tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Tantrum terbagi menjadi 2 tipe yaitu tantrum tempramental dan manipulatif.

Tantrum tempramental biasanya terjadi ketika si Kecil gagal mengontrol emosinya saat ia sedang merasa sangat tidak nyaman. Sedangkan tantrum manipulatif seringkali digunakan sebagai ""senjata"" untuk membuat orang tua panik dan mengabulkan keinginan si Kecil.

Untuk merubah kebiasaan Ayah, maka Ibu perlu berdiskusi dengan Ayah mengenai pola asuh yang akan diterapkan kepada si Kecil seperti apa. Sehingga bisa mencapai tujuan bersama mendampingi si Kecil menjadi Anak Hebat nantinya. Bila Ibu kesulitan untuk mengajak Ayah berdiskusi coba untuk minta bantuan dari pihak ketiga yang lebih dipercaya Ayah contohnya dokter.

Terus semangat ya Bu :)

Hai Ibu, untuk mendukung proses belajar online si Kecil Ibu biasakan memulainya dengan mengajak sarapan terlebih dahulu agar kondisi si Kecil bisa fokus dan konsentrasi dalam belajar, di saat istirahat Ibu dapat menyiapkan cemilan sehat seperti buah buahan, puding ataupun snack yang di suka si kecil. Berikan 2 jam sebelum makan siang dan juga sore harinya.

Ajak si kecil untuk melakukan proses belajar online dengan tetap semangat dan juga fokus dengan tugas tugas sekolahnya. Ibu dapat menjelaskan atau membujuk ke si Kecil apabila belajar onlinenya sudah selesai si Kecil dapat melakukan kegiatan lainnya seperti bersantai atau memainkan mainannya. Tetap semangat ya Bu, untuk mengajarkan si Kecil untuk memahami kondisi saat ini.