4 Penyebab Diare Saat Hamil yang Harus Ibu Ketahui

Diare secara medis diartikan sebagai buang air besar yang encer dengan frekuensi sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari.1 Diare bisa...

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

4 min
21 Apr 2022
Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH


Diare secara medis diartikan sebagai buang air besar yang encer dengan frekuensi sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari.1 Diare bisa dialami siapa saja, mulai bayi hingga orang dewasa dan lansia, dan ibu hamil. Diare pada ibu hamil sering bikin khawatir. Saat sedang tidak hamil, ibu bisa mengobatinya dengan mengonsumsi obat diare yang dijual bebas. Namun, ibu hamil tentu tak berani mengonsumsi sembarang obat tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter, kan? Yuk, ketahui penyebab diare saat hamil hingga cara mencegahnya!

Penyebab Diare Saat Hamil

Penyebab diare yang paling sering adalah infeksi. Biasanya diare yang disebabkan infeksi di saluran cerna ini bersifat akut alias muncul secara tiba-tiba namun dapat sembuh dalam kurun waktu yang tidak lama. Sedangkan diare yang berkepanjangan atau kronis, umumnya disebabkan oleh penyebab noninfeksi.1 Selain itu, ada beberapa penyebab diare saat hamil lainnya yang juga penting untuk Ibu ketahui. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

1. Perubahan hormonal

Saat hamil, terjadi perubahan hormonal, salah satunya peningkatan prostaglandin. Hormon ini diteliti berkaitan dengan beberapa keluhan di perut, seperti mual, muntah, dan diare.2 Untuk itu, Ibu perlu lebih memperhatikan asupan makanan dan minuman selama hamil yang dapat mencegah keluhan tersebut.

2. Intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa adalah penyebab diare yang cukup umum. Kondisi ini disebabkan kurangnya enzim laktase, yaitu enzim yang berfungsi memecah laktosa dalam produk susu menjadi glukosa di usus halus. Tak hanya terjadi pada anak-anak, kondisi ini juga bisa terjadi pada orang dewasa. Bagi ibu hamil yang mengalami intoleransi laktosa, biasanya setelah minum susu atau produk turunannya, akan mengalami gejala seperti perut kembung, sering buang angin, dan diare.3,4

3. Pengaruh makanan

Makanan tertentu juga bisa menyebabkan diare. Misalnya, makanan yang tinggi lemak, makanan mengandung gluten, makanan pedas, dan seperti sudah disebutkan di atas, makanan yang mengandung laktosa dari produk susu. Biasanya diare yang disebabkan pengaruh makanan ini juga disertai gejala seperti perut terasa kembung.5

Tentunya, masing-masing ibu hamil memiliki sensitivitas berbeda-beda untuk setiap makanan. Ada yang tidak tahan pedas sehingga makan sambal sedikit saja bisa langsung menyebabkan diare, ada pula yang justru mengalami diare setelah mengonsumsi makanan tinggi lemak. Jadi, sebaiknya Ibu mulai mengamati makanan apa yang dikonsumsi, jika tiba-tiba Ibu mengalami diare, agar dapat menghindarinya.

4. Infeksi Virus atau Bakteri

Diare bisa disebabkan oleh infeksi kuman, seperti virus, bakteri, maupun parasit. Sumber infeksi bisa berasal dari mana saja, dari hewan, tumbuhan, makanan dan minuman yang dikonsumsi, atau dari lingkungan sekitar. Bakteri penyebab diare antara lain Escherichia coli, Campylobacter  dan Listeria. Bakteri ini banyak ditemukan di makanan atau air minum yang tercemar.6 Biasanya pada makanan yang tidak dimasak sempurna, seperti seafood mentah, susu yang belum disterilisasi, atau di akar sayuran seperti kecambah.7

Sedangkan virus penyebab diare yang paling umum adalah rotavirus. Infeksi oleh bakteri maupun virus akan merusak lapisan usus sehingga terjadi gangguan penyerapan sari-sari makanan dan menyebabkan diare.6

Cara Menangani Diare Saat Hamil

Langkah pertama yang harus dilakukan saat diare akut adalah rehidrasi, yaitu mengganti cairan yang hilang. Paling mudah adalah dengan minum air putih atau cairan elektrolit siap minum yang memang khusus untuk penderita diare, yaitu oralit setiap habis BAB. Larutan ini banyak dijual di apotek. Atau, ibu bisa membuat sendiri larutan gula garam. Pembuatan larutan gula garam menurut panduan WHO adalah mencampur 1/2 sendok teh garam, 6 sendok teh gula pasir, dan 1 liter air.7

Ibu juga dianjurkan  untuk tetap mengkonsumsi makanan seimbang untuk mempercepat penyembuhan.7 Sebagian besar diare pada ibu hamil akan sembuh sendiri dalam beberapa hari, terutama diare yang disebabkan oleh infeksi virus atau intoleransi makanan. Yang penting adalah rehidrasi yang cukup untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Bila langkah ini tidak berhasil, atau diare bertambah berat, jangan tunggu terlalu lama, ibu hamil harus segera ke dokter untuk mendapatkan terapi atau obat-obatan yang tepat dan aman dikonsumsi ibu hamil.

Tips Agar Diare Tidak Berulang

Menentukan penyebab diare pada kenyataannya cukup sulit. Jika penyebabnya adalah intoleransi laktosa, maka sebaiknya menghindari susu dan produk turunannya. Hindari juga makanan yang memicu diare, seperti makanan pedas, berlemak, atau makanan mentah yang kemungkinan mengandung bakteri dan virus.

Selalu terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, yakni menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan baik, serta rajin mencuci tangan saat menyiapkan makanan. Pastikan sumber air minum di rumah tidak terkontaminasi.

Berikut ini empat tips mencegah infeksi bakteri yang bersumber dari makanan, yang bisa memicu diare akibat keracunan makanan:8

Jaga Kebersihan Peralatan Masak

Tak hanya rajin cuci tangan, namun peralatan makan dan memasak pun harus selalu bersih. Kuman dapat bertahan di banyak tempat, terutama di dapur, termasuk meja makan, peralatan makan, hingga talenan.

Mengolah Bahan Makanan dengan Benar

Pisahkan bahan makanan mentah (daging mentah, daging ayam, makanan laut, dan telur) dari makanan matang agar tidak terjadi kontaminasi silang. Gunakan talenan terpisah antara bahan mentah dan matang. Begitu juga saat menyimpan di kulkas, sebaiknya tidak mencampur makanan mentah dengan makanan yang siap dimakan.

Masak Makanan Hingga Benar-Benar Matang

Masak makanan dengan suhu yang tepat hingga bakteri berbahaya penyebab penyakit bisa mati. Saat memasak atau menghangatkan makanan, pastikan panasnya sudah merata ke semua bagian makanan yang dimasak, jangan hanya di bagian pinggir/luarnya saja.

Simpan Makanan di Lemari Es

Pastikan kulkas di rumah masih berfungsi baik dan memiliki fungsi pengatur suhu yang optimal. Selalu simpan makanan dalam kulkas jika sudah lebih dari 2 jam di suhu ruang untuk menghindari kontaminasi dan berkembang biaknya bakteri. Saat akan disantap kembali, hangatkan makanan dari lemari es hingga semua permukaannya benar-benar terkena panas secara merata.

Demikian penyebab diare saat hamil yang perlu Ibu ketahui agar dapat menghindari dan mengatasinya. Semangat sehat demi si Kecil yang masih di dalam perut ya, Bu!

 

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu


Temukan Topik Lainnya

  1. Valerie Nemeth.2021. Diarreha. Diambil daro: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448082/. [Diakses 4 November 2021
  2. Cameron Body. Gastrointestinal Diseases in Pregnancy: Nausea, Vomiting, Hyperemesis Gravidarum, Gastroesophageal Reflux Disease, Constipation, and Diarrhea. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27261898/. Diakses pada 2 November 2021
  3. M. Adi Firmansyah. 2016. Tatalaksana Diare Akut Pada Kehamilan. Diambil dari: http://cme.medicinus.co/cme/pluginfile.php/106/course/summary/TataLaksana%20Diare%20Akut.pdf. [Diakses 1 November 2021].
  4. Yanyong Deng. 2015. Lactose Intolerance in Adults: Biological Mechanism and Dietary Management. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4586575/. [Diakses: 3 November 2021].
  5. Kangwoo Nam. 2019. Can Certain Foods Cause Gastrointestinal Symptoms in Korean Patients With Irritable Bowel Syndrome? Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6474704/. [Diakses 4 November 2021]
  6. Michel Drancourt. 2016. Acute Diarrhea. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7148607/. [Diakses 3 November 2021].
  7. Wendy Barr. 2014. Acute Diarrhea in Adult. Diambil dari: https://www.aafp.org/afp/2014/0201/p180.html. [Diakses 3 November 2021].
  8. Centers for Disease Control and Prevention. 2021. Key Facts about Food Poisoning. Diambil dari: https://www.cdc.gov/foodsafety/food-poisoning.html. {Diakses 7 November 2021].


Artikel Terkait