melancarkan pencernaan anak

Ini Makanan yang Wajib Dikonsumsi dan Dihindari untuk Melancarkan Pencernaan pada Anak

detail-fb detail-wa detail-twitter

Ibu pasti sudah sering mendengar, kesehatan berawal dari perut. Kesehatan saluran cerna si Kecil antara lain bisa dilihat dari pola buang air besar atau BAB-nya. Apakah BAB lancar, rutin dan teratur, tinjanya padat dan lembut (tidak keras), sampai perlukah ia mengejan, merasa kesakitan saat BAB, hingga warna tinjanya hijau kehitaman. Untuk itu, pencernaan yang lancar merupakan hal penting yang harus terus diupayakan. Pasalnya semua nutrisi yang masuk diserap di saluran pencernaan kemudian dibawa ke seluruh tubuh sehingga kesehatan saluran cerna digelar sebagai otak kedua. Ia adalah kunci utama yang mampu mendukung daya tahan tubuh, mood dan tumbuh kembang si Kecil secara optimal.

Perhatikan Asupan Makanan untuk Melancarkan Pencernaan Anak

Diare dan konstipasi (susah buang air besar atau BAB) termasuk gangguan pencernaan yang banyak dialami anak. Untuk melancarkan pencernaan anak, asupan nutrisi sehari-hari perlu diperhatikan, terlebih bila si Kecil sedang mengalami gangguan pencernaan. Makanan tertentu bisa membantu meredakan, dan sebaliknya ada pula makanan yang perlu dihindari sementara waktu.

Berikut ini adalah jenis asupan yang wajib diperhatikan saat anak mengalami masalah pencernaan seperti diare dan konstipasi.

Asupan yang Baik untuk Anak Diare

Diare adalah kondisi dimana frekuensi buang air besar lebih sering dengan konsistensi tinja
lebih encer. Agar Ibu  tidak bingung, Ibu bisa cek kondisi tinja si Kecil di Tummypedia. Di sana, Ibu bisa memeriksa apakah konsistensinya sudah cukup baik atau tidak.

Pada kondisi diare, tubuh kehilangan cairan dan elektrolit dengan cepat yang berujung pada dehidrasi (kekurangan cairan secara berlebihan). Dibandingkan dewasa, bayi dan anak kecil lebih mudah mengalami dehidrasi saat terjadi diare1. Dehidrasi berpotensi
memburuk karena bayi atau anak cenderung menolak makan saat mengalami diare. Oleh karenanya, perhatikan asupan yang sebaiknya diberikan pada si Kecil saat ia
mengalami diare.

Berikan oralit sesuai takaran

Hati-hati ya Bu, diare bisa membuat si Kecil dehidrasi. Untuk pencegahan, berikanlah ia oralit dengan dosis 10 ml/kg berat badan (BB). Maka, bila BB si Kecil 12,5 kg, berikan oralit sebanyak 125 ml. Ini tidak harus langsung dihabiskan. Ibu bisa memberinya sedikit-sedikit, apalagi bila anak muntah setelah minum oralit2.

Pastikan si Kecil cukup minum ya Bu. Selain air putih, untuk mencegah dehidrasi, Ibu juga bisa memberinya air kelapa jika si Kecil sudah makan makanan padat2. Jika anak memiliki keluhan seperti bibir kering,  kekenyalan kulit berkurang, dan mata agak cekung, yang merupakan tanda dehidrasi ringan-sedang sebaiknya segera bawa si Kecil ke dokter, karena ia memerlukan cairan dengan pengawasan medis. Bila sampai dehidrasi berat, maka perlu segera ditangani dengan cara diinfus3.

Tetap Berikan ASI

Ada anggapan, anak sebaiknya dipuasakan saat diare, agar cepat berhenti. Ini anggapan yang salah karena  puasa justru bisa memperburuk kondisi si Kecil, lho, Bu. Makanan bisa membantu mempercepat penyembuhan, jadi jangan dibatasi3. ASI atau susu formula bisa diberikan seperti biasa2,3. Ibu tidak perlu khawatir, karena kandungan laktosa dalam ASI tidak akan memperparah diare2.

Beberapa penelitian menemukan, mengganti susu dengan yang bebas laktosa saat si Kecil diare, bisa bermanfaat2. Namun ini masih kontroversi. Sebagian ahli berpendapat bahwa hal tersebut hanya diperlukan bila ia mengalami dehidrasi berat, atau menunjukkan gejala intoleransi laktosa dan diarenya bertambah parah saat ia minum susu3. Untuk itu, Ibu bisa melakukan konsultasi terlebih dulu ke dokter untuk memilih jenis susu terbaik yang dapat diberikan saat si Kecil mengalami diare.

Makanan yang Mengandung Banyak Air

Ingat Bu, si Kecil rentan mengalami dehidrasi gara-gara diare. Ibu disarankan memberinya makanan yang banyak mengandung air, seperti sup, atau yogurt. Bila si Kecil merasa mual atau muntah, berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering, misalnya 3-4 jam sekali. Ini penting, agar kebutuhan gizi si Kecil tetap terpenuhi1.

Makanan Tinggi Kalium

Ibu mungkin sering mendengar, pisang bagus untuk anak diare. Ini bukan isapan jempol. Pisang memang disarankan, karena mengandung kalium1. Ini untuk mencegah si Kecil mengalami hipokalemia, karena kalium banyak keluar melalui tinja. Penelitian di India juga menemukan, pisang lumut yang dimasak, membantu mempercepat penyembuhan anak diare3.

Hindari Minuman Manis

Si Kecil memang butuh banyak cairan saat diare, tapi jangan berikan ia minuman manis ya Bu. Gula, termasuk gula buah (sukrosa), justru bisa memperburuk diare, dan berisiko menyebabkan si Kecil mengalami hiponatremia (kekurangan natrium). Jadi, sebaiknya berikan ia air putih saja, hindari jus buah, sport drink, soda, dan teh manis.

Asupan yang Harus Diperhatikan Saat Anak Mengalami Konstipasi

Saat konstipasi, Ibu bisa memberi makanan tertentu yang bisa membantu melancarkan pencernaan anak. Sebaliknya, ada juga makanan yang perlu dihindari, atau dikurangi. Yang pasti, si Kecil harus cukup minum setiap hari.

Perbanyak Serat dan Cairan

Serat berperan untuk menstimulasi gerakan peristaltik usus, menyerap air sehingga tinja menjadi lembut, serta membuat usus besar jadi lebih sensitif terhadap rangsangan mulas5. Di usia 6 – 11 bulan, si Kecil membutuhkan serat sebanyak 11 gram, dan naik jadi 19 gram saat di usia 1-3 tahun6.

Untuk memenuhi angka ini tidak selalu mudah. Dalam 100 gram wortel yang dimasak misalnya, hanya mengandung 2,9 gram serat; jadi Ibu perlu memberi si Kecil sekitar 650 gram wortel matang atau setara dengan 800 gram pepaya potong.

Ibu bisa tambahkan kebutuhan seratnya secara bertahap ya, Bu, sampai asupannya sesuai dengan AKG atau Angka Kecukupan Gizi. Sebagai sumber serat, Ibu bisa memberikan biji-bijian, roti dari gandum utuh, sayur dan buah, kecuali pisang dan apel parut5.

Ibu juga bisa memberikan susu Bebelac Gold yang diperkaya dengan Advansfibre yaitu kombinasi 3 jenis serat, prebiotik FOS GOS dengan rasio 1:9 dan corn starch. Ia merupakan satu-satunya susu tinggi serat di Indonesia. Ia jusge dilengkapi dengan 13 vitamin dan 7 mineral, minyak ikan, omega 3, dan omega 6. Dengan mengonsumsi asupan bergizi dan minum Bebelac Gold 3 sebanyak tiga kali sehari, Ibu bisa memenuhi 100% kebutuhan serat harian dan nutrisi penting si Kecil. Ibu juga tidak perlu khawatir, karena Bebelac gold tidak mengandung sukrosa atau pemanis buatan, sehingga aman dikonsumsi si Kecil setiap hari.

Gangguan pencernaan pada anak seperti diare dan konstipasi mungkin terdengar sepele ya Bu. Tapi sebenarnya, dampaknya besar lho. Gara-gara diare, pertumbuhan si Kecil bisa terganggu Bu, karena penyerapan nutrisinya tidak optimal. Belum lagi rasa mulas, kembung, dan perut melilit yang kerap menyertai diare. Tentu sangat mengganggu si Kecil ya.

Kurangi Pisang dan kentang

Aneh memang, tapi pisang diduga bisa menimbulkan konstipasi, jadi sebaiknya jangan
terlalu banyak memberi si Kecil pisang ya Bu, terutama pisang belum matang7. Pasalnya bisa memicu atau memperburuk konstipasi. Kentang dan roti putih pun perlu dikurangi. Bila memungkinkan, sebaiknya ganti nasi putih dengan nasi merah, yang seratnya lebih tinggi.  Serat membantu melembutkan feses sehingga lebih mudah dikeluarkan 5.

Hindari Makanan Manis dan Berlemak

Makanan yang tinggi gula dan lemak, seperti makanan cepat saji dan donat sebaiknya dihindari ya Bu, karena jenis makanan itu minim serat. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah untuk menghindari minuman manis, khususnya yang bersoda. Secara keseluruhan, makanan dan minuman ini pun kurang baik untuk kesehatan si Kecil.

Kini, Ibu tidak perlu panik berlebih lagi jika si Kecil mengalami masalah pencernaan. Praktikkan tips di atas secara rutin, ya Bu. Dengan begitu, maka Ibu telah mendukung saluran pencernaan anak tetap nyaman, serta mendukung daya pikir maupun pertumbuhannya secara optimal. Ibu bisa cek asupan serat si Kecil di kalkulator nutrisi di Tummypedia.

 


Sumber sitasi:

  1. Cut Nurul Hafifah. (2017). Bagaimana Memberi Makan Anak saat Sedang Diare. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bagaimana-memberi-makan-anak-saat-sedang-diare [Diakses 6 Maret 2021]
  2. Badriul Hegar. (2014). Bagaimana Menangani Diare pada Anak. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bagaimana-menangani-diare-pada-anak [Diakses 6 Maret 2021]
  3. Dhandapany Gunasekaran. (2020). Effect of Green Banana (Musa paradisiaca) on Recovery in Children With Acute Watery Diarrhea With No Dehydration: A Randomized Controlled Trial. Diambil dari https://www.indianpediatrics.net/epub092020/RP-00244.pdf [Diakses 8 Maret 2021]
  4. Magdalena Gibas-Dorna, Jacek Piatek. (2014). Functional Constipation in Children – Evaluation and Management. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4178044/ [Diakses 7 Maret 2021]
  5. Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia. Diambil dari: http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf [Diakses 28 April 2020]
  6. Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia. Diambil dari: http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf [Diakses 8 Maret 2020]
  7. Sun Hwan Be. (2014). Diets for Constipation. Diambil dari:  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4291444/ [Diakses 24 Maret 2021]