cara-mengatasi-emosi-pada-anak-prasekolah

7 Cara Mengatasi Emosi pada Anak Usia Prasekolah

detail-fb detail-wa detail-twitter

Menghadapi perilaku si Kecil di usia prasekolah (3-5 tahun) memang lebih menantang, ya, Bu. Di usia ini, si Kecil sudah semakin pintar dan banyak akal. Sayangnya, perkembangan emosinya belum matang. Nah, agar Ibu bisa lebih memahami emosi si Kecil, yuk, simak bagaimana cara mengatasi emosi pada anak di usia prasekolah.

Kenali Karakter dan Temperamen Anak

Perkembangan sosial emosional anak tidak bisa dilepaskan dari karakter bawaan dan pengaruh lingkungan atau orang terdekat1. Menurut penelitian, karakter anak dibedakan menjadi tiga, yaitu:1

1. Mudah atau fleksibel. Ini adalah karakter yang menggambarkan anak yang ramah dan santai. Biasanya anak mudah diajak mematuhi rutinitas, mudah beradaptasi dengan perubahan, dan memiliki watak yang tenang.

2. Aktif atau bersemangat. Nah, ini adalah karakter anak yang rewel dan susah mengikuti rutinitas. Saat berada di lingkungan baru, anak juga nampak khawatir dan menunjukkan reaksi yang intens.

3. Lambat panas atau berhati-hati. Anak dengan karakter ini nampak kurang terlibat dan bersifat  pemalu. Saat berada dalam situasi yang asing, ia mungkin akan menarik diri dan bersikap negatif. Namun, saat mulai nyaman, biasanya si Kecil akan bersikap hangat dan kembali ceria.

Meski ketiga karakter tersebut tidak mutlak, tapi kira-kira karakter mana yang mendekati si Kecil?

Dengan memahami karakter anak, Ibu dan Ayah akan lebih mudah membantu si Kecil memahami dan mengatasi emosinya. Antara lain dengan cara berikut ini:

4. Hadapi dengan Tenang

Umumnya, anak usia prasekolah belum mampu mengendalikan dan mengontrol emosi. Ini mengapa anak rentan mengekspresikan emosinya dengan perilaku tantrum seperti menangis, berteriak, memukul, atau tidak mau beranjak dari tempat tertentu2.

Menghadapi anak yang tantrum, Ibu harus tenang, ya. Lebih baik, berikan waktu sejenak agar anak merasa lebih tenang. Setelah itu, Ibu bisa mengalihkan perhatian si Kecil pada hal yang membuatnya tenang dan nyaman. Misalnya, mengajak si Kecil ke ruangan atau tempat yang berudara lebih segar di rumah dan tetap dampingi ia. 

5. Ajak Anak Bermain Permainan Peran dan Interaktif

Pada usia prasekolah, biasanya mulai muncul keterampilan bermain pura-pura1. Ibu bisa mulai mengajak si Kecil bermain peran di usia 3 tahun. Misalnya, si Kecil berjualan es krim, Ibu dan Ayah menjadi pembeli.

Permainan ini akan mengajarkan anak berbagai karakter, emosi, dan ekspresi. Selain praktis untuk dilakukan, permainan ini akan sangat berpengaruh pada perkembangan sosial emosinya. Antara lain meningkatkan kepercayaan diri, belajar empati, mengendalikan rasa marah, hingga membantu anak mengungkapkan perasaannya3.

6. Latih Anak Mengungkapkan Perasaannya

Marah dan bersikap agresif sebenarnya merupakan cara anak mengungkapkan perasaan. Nah, Ibu bisa mengajari si Kecil mengganti amarahnya dengan ungkapan kata-kata.  Langkah ini ternyata dapat membantu anak-anak memahami perasaan dengan lebih baik, lho, Bu.4

Misalnya, menjelang tidur, minta si Kecil bercerita apa yang ia lakukan hari itu sehingga ia bisa mengungkapkan perasaannya. Contohnya, jika si Kecil nampak tidak bersemangat, daripada bertanya, Adik lagi sedih, ya?” Ibu dapat menanyakan, "Apa yang bikin Adik sedih?"

Dengan begitu si Kecil terdorong untuk mengenali perasaannya dan apa yang menyebabkannya galau, sedih, atau bahagia.  Jika kebiasaan ini terus dilatih, anak akan semakin mengenali berbagai jenis emosi, bahkan yang lebih rumit, seperti frustrasi, bangga, kecewa.

7. Terapkan Sistem Parenting yang Positif

Hal-hal sederhana berikut ini juga harus terus dilakukan untuk mendukung perkembangan emosi dan sosial si Kecil:5

  • Tumbuhkan kecintaannya pada buku. Selain menambah ilmu, buku juga bisa menjadi sumber si Kecil belajar tentang berbagai jenis emosi. 
  • Dorong si Kecil bermain dengan saudara atau teman agar ia belajar berbagi dan mengenal arti persahabatan.
  • Bantu si Kecil mengembangkan keterampilan bahasa yang baik. Antara lain dengan berbicara kepadanya dalam kalimat lengkap dan tidak dibuat-buat, misalnya dicadelkan. 
  • Bantu si Kecil memecahkan masalah yang menyebabkan dia marah.

Jika Ibu menerapkan satu hingga empat hal sederhana di atas secara rutin, perlahan si Kecil mulai mengenal beragam emosi dan tahu cara mengekspresikan serta mengendalikannya.

Tidak lupa juga selalu berikan dukungan melalui nutrisi harian ya, Bu. Seperti yang kita ketahui, emosi itu berkaitan dengan kondisi pencernaan. Misalnya, jika kita merasa mulas saat sedang cemas, itu berarti usus sedang berkomunikasi dengan otak atau sistem saraf pusat yang bertanggung jawab mengatur emosi dan kemampuan berpikir6.

Oleh karenanya, penuhi kebutuhan nutrisi harian si Kecil dengan makanan bergizi dan seimbang. Ibu juga bisa memberikan Bebelac 4 yang mengandung FOS GOS, minyak ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk sebelumnya, serta 11 vitamin dan 4 mineral. Saat pencernaan si Kecil dalam kondisi baik (happy tummy) tentunya akan membuat mood-nya terjaga baik (happy heart), sehingga ia bisa berpikir lebih optimal (happy brain), serta bisa mengekspresikan emosinya dengan baik. 


Referensi

  1. Fatima Malik; Raman Marwaha. 2021. Developmental Stages of Social Emotional Development In Children. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534819/  (Diakses pada 4 Oktober 2021)
  2. Laura L. Sisterhen; Paulette Ann W. Wy. 2021. Temper Tantrums. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544286/ [Diakses pada 4 Oktober 2021]
  3. Yuli Kismawati. 2019. Main Peran, Dukung Perkembangan Sosial-Emosi Anak. Diambil dari: https://anggunpaud.kemdikbud.go.id/berita/index/20190723113437  [Diakses pada 4 Oktober 2021]
  4. Nicole Dempster, PhD. 2019. Using Emotional Language: How to Talk to Your Kids About Feelings. Diambil dari: https://www.nationwidechildrens.org/family-resources-education/700childrens/2019/01/using-emotional-language [Diakses pada 4 Oktober 2021]
  5. CDC. 2021. Preschoolers (3-5 years of age). Diambil dari: https://www.cdc.gov/ncbddd/childdevelopment/positiveparenting/preschoolers.html  (Diakses pada 4 Oktober 2021)
  6. Maria Caraboti dkk. 2015. The gut-brain axis: interactions between enteric microbiota, central and enteric nervous systems. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4367209/ [Diakses pada 4 Oktober 2021]
Tag