mpasi-bayi-6-bulan

Tips Atur Jadwal MPASI 6 Bulan agar Si Kecil Tumbuh Optimal

detail-fb detail-wa detail-twitter

Yeay, si Kecil sudah masuk usia 6 bulan! Saatnya mulai MPASI (makanan pendamping ASI). Seperti Ibu ketahui, 1000 HPK (hari pertama kehidupan) yakni hingga si Kecil berusia 2 tahun, adalah saat yang kritis bagi perkembangan potensi anak. Pada masa ini pula risiko si Kecil mengalami gangguan pertumbuhan, kekurangan nutrisi, hingga stunting, adalah yang paling besar1. Untuk itu, Ibu perlu cermat membuat jadwal MPASI 6 bulan hingga si Kecil 2 tahun, atau selama periode penyapihan.

Nutrisi MPASI

Si Kecil memerlukan MPASI karena selewat 6 bulan, ASI saja tidak cukup Bu, untuk menunjang kebutuhan nutrisi dan energinya2. Di usia 6-8 bulan misalnya, bayi membutuhkan 800 kkal/hari, tapi ASI hanya mampu mencukupi 600 kkal/hari1. Nah, selisih 200 kkal/hari ini harus ditambahkan dari MPASI. Ketika mengatur jadwal MPASI 6 bulan, perhatikan juga kandungan nutrisi pada MPASI ya Bu.

MPASI perlu mengandung semua makronutrisi sebagai sumber energinya, Bu. Yakni karbohidrat, lemak, dan protein, khususnya protein hewani karena mengandung asam amino esensial lengkap1,2. Selain makronutrisi, juga mikronutrisi yakni vitamin, dan mineral. Terutama zat besi, seng, dan vitamin A2. Untuk inspirasi menu MPASI, Ibu bisa mendapatkannya di sini.

Tips Sederhana Mengatur Jadwal MPASI 6 Bulan

Ketika memberikan MPASI, bukan hanya kandungan nutrisinya yang perlu diperhatikan. Konsistensi atau kepadatan/tekstur MPASI, serta porsinya pun perlu diperhitungkan, Bu. Di awal MPASI, Ibu bisa memberi si Kecil bubur saring encer, agar mudah ditelan si Kecil. Pelan-pelan, bubur bisa dikentalkan. Setelah itu, tekstur MPASI bisa ditingkatkan secara bertahap. Di usia 9-11 bulan, si Kecil sudah bisa diberi bubur kasar tanpa disaring, finger food, dan nasi lunak dengan lauk yang dicincang. Akhirnya di usia 12 bulan, si Kecil diharapkan sudah bisa makan makanan keluarga1,2.

Nah, untuk mengatur jadwal MPASI 6 bulan, ada beberapa tips sederhana yang bisa Ibu terapkan di rumah.

Buat Jadwal Teratur

Ibu, sebaiknya beri si Kecil makan saat ia lapar. Untuk membuat jadwal MPASI 6 bulan, Ibu perlu memperhitungkan pengosongan lambung si Kecil. Sebagai patokan, pengosongan lambung berlangsung sekitar 100 menit untuk makanan padat. Maka, Ibu bisa memberi makan si Kecil tiap 2-3 jam. Disarankan memberi si Kecil MPASI 3x sehari, ditambah snack 1-2x sehari, di samping pemberian ASI 2-3x sehari1,3.

Ibu bisa memulai jadwal makan pada pukul 6 pagi, dengan ASI. Dua jam kemudian berikan MPASI untuk sarapan, lalu snack pada pukul 10. Jam 12 makan siang (MPASI), dilanjutkan dengan ASI pada jam 14, lalu snack dua jam berikutnya. Selanjutnya beri si Kecil MPASI untuk makan malam pada pukul 18, lalu ASI pada jam 9 malam, sebelum waktu tidur3.

Oh iya, jangan berikan cemilan di luar jadwal makan tadi ya, karena akan membuat si Kecil kenyang di jam makan. Untuk mengatasinya, di antara waktu makan, lebih baik cukup berikan air putih saja ya Bu3.

Berikan dalam Porsi Kecil

Porsi MPASI bisa dimulai dengan 2-3 sendok makan sekali makan, dan secara bertahap dinaikkan menjadi setengah cangkir ukuran 250 ml1. Inilah yang dianjurkan untuk bayi usia 6-8 bulan. Mungkin bagi Ibu, porsi demikian sedikit sekali ya. Tapi coba Ibu pikirkan, di usia ini bayi hanya butuh tambahan 200 kkal/hari dari MPASI, jadi porsinya tidak perlu banyak-banyak. Lagipula, ukuran lambung bayi pun masih sangat kecil kan.

Terapkan Responsive Feeding

Ibu perlu peka mengenali tanda lapar dan kenyang anak. Jangan memaksa si Kecil untuk makan ya Bu. Bila ia hanya mau makan 1-2 suap saat makan, biarkan. Ibu boleh memotivasinya untuk makan lebih banyak, tapi kalau setelah 15 menit ia tidak juga makan, atau rewel dan melepeh/membuang-buang makanan, sebaiknya hentikan pemberian makan3. Jangan takut si Kecil akan kelaparan. Biarkan Ibu bisa memberinya ASI atau snack di jadwal makan berikutnya. Ini akan melatihnya mengenali rasa lapar dan kenyang.

Ciptakan suasana yang kondusif saat makan ya Bu. Jangan memberi makan sambil menonton TV, atau bermain3. Lebih baik, Ibu mengajak si Kecil mengobrol, sambil melakukan kontak mata dengannya. Ibu juga bisa memotivasi si Kecil untuk mencoba makan sendiri. Ibu dan Ayah juga bisa makan bersama si Kecil. Dengan cara ini, si Kecil bisa mencontoh dan belajar bagaimana cara makan yang baik3.


Referensi

  1. Lina Ninditya, Siti Rayhani Fadhila. (2016). Memberi Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana? Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana [Diakses 9 Juni 2021]
  2. Motuma Adimasu Abeshu, dkk. (2016). Complementary Feeding: Review of Recommendations, Feeding Practices, and Adequacy of Homemade Complementary Food Preparations in Developing Countries – Lessons from Ethiopia. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5065977/ [Diakses 10 Juni 2021]
  3. Sri S. Nasar. (2015). Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pentingnya-mengatur-jadwal-makan-anak [Diakses 9 Juni 2021]