Ragam Penyebab Sakit Perut Pada Anak, Kapan Harus Ke Dokter_

Ragam Penyebab Sakit Perut pada Anak, Kapan Harus ke Dokter?

detail-fb detail-wa detail-twitter

Sakit perut merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami anak1. Wajar bila Ibu khawatir, tapi jangan panik berlebihan, ya, karena ini bisa membuat anak ikut panik, dan rasa sakitnya malah makin menjadi-jadi. Penyebab sakit perut pada anak sangat bervariasi. Sebagian besar ringan, tapi sebagian lain ada juga yang serius2.

Beberapa Penyebab Sakit Perut pada Anak

Ada banyak sekali penyebab sakit perut pada anak. Umumnya tidak berbahaya dan akan sembuh dengan sendirinya. Tapi sebagian kecil butuh tindakan khusus, seperti operasi. Ini dikarenakan keluhan nyeri perut pada anak secara umum dapat dibagi dua, yaitu kondisi bedah dan non-bedah2. Tentu, dokterlah yang bisa mendiagnosis penyebabnya, dan menyarankan penanganannya secara lebih akurat. Namun sebagai Ibu, kita pun perlu mengenali tanda-tanda khas dari sakit perut yang dialami si Kecil. Ini membantu kita lebih tenang saat menghadapinya, dan bisa mengambil keputusan kapan harus ke dokter.

Berikut ini beberapa penyebab sakit perut pada anak yang perlu Ibu ketahui, beserta ciri-cirinya:

1. Gastroenteritis

Ini adalah penyebab sakit perut pada anak yang akut dan paling sering terjadi. Umumnya disebabkan oleh virus (rotavirus, adenovirus, dan enterovirus), tapi bisa pula karena bakteri akibat keracunan makanan (misalnya: Salmonella). Gejalanya: kram perut hebat, diare, muntah, nafsu makan berkurang, dan demam/sakit kepala pada beberapa anak2,3. Gastroenteritis ringan umumnya sembuh dalam beberapa hari, tapi feses mungkin masih encer hingga seminggu kemudian3.

Jangan sampai lengah ya, Bu. Diare, muntah, dan kurang minum bisa menimbulkan dehidrasi berat. Inilah yang paling sering menyebabkan kematian pada anak 3.  Pastikan si Kecil untuk selalu cukup minum. Perhatikan tanda kegawatan, seperti demam tinggi atau demam yang berlangsung beberapa hari, diare berat dan berair, dehidrasi berat, ada darah atau nanah di feses, dan diare berlangsung selama >2 minggu8

2. Radang Usus Buntu Akut

Ibu perlu waspada bila si Kecil mengeluhkan nyeri yang terpusat pada perut bawah bagian kanan2,4. Ini salah satu gejala khas radang usus buntu (apendisitis). Gejala lain misalnya perut menegang, nyeri menyebar, hingga perut nyeri saat ditekan. Pada anak kurang dari 5 tahun, kadang disertai muntah, demam, diare, dan kehilangan nafsu makan. Bila Ibu mencurigai tanda-tanda tadi, segeralah bawa si Kecil ke dokter. Apendisitis akut perlu segera dioperasi, karena usus bisa pecah dalam 48 jam. Inilah penyebab operasi yang paling sering pada keluhan sakit perut akut anak2,.

3. Konstipasi

Konstipasi paling sering dialami oleh anak usia 2 – 4 tahun, saat mulai toilet training5. Nyeri konstipasi biasanya terjadi pada perut bagian bawah, dan si Kecil kesakitan saat BAB. Curigai kemungkinan konstipasi bila anak BAB <3x seminggu2. Terlebih bila si Kecil memang kurang makan serat dan kurang bergerak5. Susu dengan kandungan serat FOS dan GOS seperti (insert Bebelac 4 dapat Ibu berikan untuk membantu menambah asupan serat si Kecil.

Sekitar 95% konstipasi disebabkan kelainan fungsional yang tidak berbahaya. Namun Ibu tetap perlu mewaspadai kemungkinan konstipasi yang terjadi karena kelainan organ. Tanda-tandanya antara lain demam, darah di feses, dan luka parut di sekitar lubang anus.

4. Intoleransi Laktosa

Apakah si Kecil mengeluh sakit perut setelah minum susu? Bisa jadi ia mengalami intoleransi laktosa atau tidak mampu mencerna laktosa (gula susu) yang ia konsumsi. Intoleransi laktosa biasanya juga disertai dengan gejala kembung, banyak kentut, diare, dan kadang mual-muntah. Gejala tersebut biasanya muncul dalam 30 menit hingga 2 jam setelah anak minum susu6. Jika kondisi tidak membaik, disarankan untuk segera ke dokter agar dapat mendapatkan konseling atau konsultasi nutrisi anak.

5. Migrain Perut

Migrain kepala kita sudah sering dengar, tapi migrain perut mungkin terdengar asing. Rasa sakit yang ditimbulkan migrain perut khas di sekitar atau belakang pusar, dan cukup berat hingga aktivitas si Kecil jadi terganggu. Wajar bila Ibu panik saat serangan terjadi, karena rasa sakitnya bisa berlangsung lama, hingga 1 –  72 jam. Serangan biasanya terjadi beberapa kali dalam setahun, dengan jarak beberapa minggu atau bulan. Rasa sakit juga diiringi dengan minimal dua dari beberapa keluhan berikut, yaitu sakit kepala/sakit kepala di satu sisi, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, pucat, dan seperti silau melihat cahaya7 ,8. Selain itu, akan muncul gejala aura yang ditimbulkan akibat gangguan pada system saraf yang terjadi sesaat sebelum atau bersamaan dengan gejala migrain lainnya. Gejala aura misalnya adalah melihat kilatan cahaya, pandangan kabur, kesemutan, telinga berdenging, kepala seperti berputar, atau pandangan ganda.

Migrain perut biasanya muncul pada anak  usia 3 – 10 tahun. Menurut studi, kondisi ini biasanya berkembang menjadi migrain kepala saat anak dewasa. Diduga, migrain perut berhubungan dengan adanya riwayat migrain dalam keluarga7.

Kapan Harus ke Dokter?

Bawa si Kecil ke dokter bila ia mengalami tanda-tanda kegawatan, atau gejala lain yang mengarah ke penyakit yang lebih berat. Juga bila keluhan sakit perut pada anak muncul berulang-ulang. Perlu dicari penyebabnya, agar bisa diobati dengan tepat. Intoleransi laktosa atau migrain perut jarang membahayakan, tapi tak ada salahnya membawa anak ke dokter, karena mungkin diperlukan modifikasi dalam gaya hidup.

Kini sudah lebih paham tentang gejala dan penyebab sakit perut pada anak, ya, Bu. Dengan mengenali gejalanya, Ibu jadi bisa lebih tanggap dalam menghadapinya.

 

 

Sumber sitasi:

 

1.       Seng Hock Quak. (2015). Recurrent Abdominal Pain in Children: A Clinical Approach. Retrieved from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4371190/ [Diakses 20 November 2020].

2.       Joon Sung Kim. (2013). Acute Abdominal Pain in Children. Retrieved from: https://www.researchgate.net/publication/260132338_Acute_Abdominal_Pain_in_Children [Diakses 20 November 2020].

3.       Harvard Health Publishing.  (2017). Gastroenteritis in Children. Retrieved from: https://www.health.harvard.edu/a_to_z/gastroenteritis-in-children-a-to-z [Diakses 21 November 2020].

4.       Pierluigi Marzuillo, et al. (2015). Appendicitis in children less than five years old: A challenge for the general practitioner. Retrieved from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4438437/ [Diakses 21 November 2020].

5.       I Xinias dan A MAvroudi. (2015). Constipation in Childhood. An update on evaluation and management. Retrieved from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4574579/ [Diakses 21 November 2020].

6.       Ali Mohamed ElShafie. (2015). Lactose intolerance among pediatrics: systematic review. Retrieved from: http://www.mmj.eg.net/article.asp?issn=1110-2098;year=2015;volume=28;issue=2;spage=315;epage=318;aulast=ElShafie [Diakses 21 November 2020].

7.       Beatrice Scicchitano. (2014). Abdominal migraine in childhood: a review. Retrieved from: https://www.researchgate.net/publication/287517642_Abdominal_migraine_in_childhood_a_review [Diakses 21 November 2020].

8.       Badriul Hegar. (2014). Sakit Perut Berulang pada Anak. Retrieved from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sakit-perut-berulang-pada-anak-2 [Diakses 21 November 2020].

9.       Danger signs of acute gastro. (2020). Retrieved 23 November 2020. Retrieved from: https://www.thechildren.com/health-info/conditions-and-illnesses/danger-signs-acute-gastro [Diakses 21 November 2020].

 

Tag