perkembangan-anak-2-tahun

6 Kemampuan Kognitif yang Terjadi pada Perkembangan Anak 2 Tahun

detail-fb detail-wa detail-twitter

Sesaat setelah meniup lilin ulang tahun yang menunjukkan angka 2, mungkin dengan kagum Ibu bisa melihat jika pada usia ini, anak terlihat makin aktif. Dengan kata lain, si Kecil lagi lucu-lucunya. Di usia ini pulalah dia cenderung mulai menunjukkan kebiasaan berbeda dari tahun sebelumya.

Apa saja yang sebenarnya terjadi pada perkembangan anak 2 tahun? Pastinya akan banyak keunikan yang Ibu dapatkan. Dari hal yang paling simpel, mungkin Ibu menyadari, di usia ini, si Kecil tak bosan-bosan bertanya. Selain itu, ia juga makin aktif bergerak, seperti tak ada lelahnya. Ini memang bagian dari perkembangannya. Tak cuma itu saja, karena ada sederet daftar ‘keunikan’ lain yang dijamin membuat Ibu semakin takjub.

Kemampuan Komunikasi yang Makin Lancar

Ibu, jangan kaget bila si Kecil makin banyak berceloteh. Di usia ini, ia sudah bisa merangkai kalimat sederhana dengan 2-4 kata, lho. Si Kecil juga mulai lebih banyak berbicara ketimbang hanya menggunakan gestur seperti menggeleng atau mengangguk. Dan sekitar 50% pembicaraannya sudah bisa dipahami, termasuk oleh orang lain yang bukan anggota keluarga.

Pasti rasanya asyik ya, Bu, karena sekarang bisa lebih banyak mengobrol dengan si Kecil. Namun di sisi lain, Ibu pun perlu menyadari kalau si Kecil bukan bayi lagi. Kini ia sudah bisa mengungkapkan keinginannya2. Jadi, jangan kaget bila ia tidak langsung menuruti permintaan Ibu, tapi malah bertanya kenapa harus melakukan hal tersebut, atau tidak setuju pada ucapan Ibu. Ini adalah bagian dari tahapan perkembangan si Kecil.

Tetap berpikir positif dan arahkan si Kecil untuk selalu berbicara dengan sopan ya, Bu, karena ia akan cenderung meniru hal-hal yang Ibu katakan sedari kecil. Jadi, pastikan untuk menberi contoh kata-kata yang baik saat si Kecil tidak setuju. Misal dengan memulai dengan kata “Maaf mama”, serta menggunakan nada suara yang tidak agresif. Semangat ya, Bu untuk selalu mengajari si Kecil untuk menggunakan kata-kata yang baik.

Terlihat Makin Mandiri

Si Kecil ingin memakai baju sendiri? Inilah salah satu perkembangan anak 2 tahun. Ia makin mandiri dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya mencuci tangan, makan menggunakan sendok, dan membersihkan mulut sehabis makan. Termasuk juga belajar memakai baju sendiri. Di usia ini, si Kecil juga bisa mengikuti perintah dua langkah. Misalnya, Ibu bisa meminta si Kecil untuk mencuci tangan sebelum makan, lalu mengeringkan tangan.

Ibu, dukunglah si Kecil melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana, seperti mengembalikan mainan pada tempatnya setelah puas beraktivitas seharian atau biarkan ia membantu Ibu dalam menyiapkan makanan dan minumannya. Berilah sedikit ruang untuk berkembang dengan tidak menunjukan rasa khawatir berlebihan saat dia mencoba melakukan hal-hal baru sendiri. Jika Ibu memberikan kepercayaan bagi si Kecil, ia bisa menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh di kemudian hari.

Tambah Lincah dan Aktif

Bermain dengan teman sebaya, berlari, melompat, berjinjit, memanjat, bergelantungan, serta menendang dan mengoper bola, adalah aktivitas yang disenangi si Kecil. Memang di usia 2 tahun, ia makin tertarik dengan beragam kegiatan fisik, Bu. Wajar kok, bila Ibu sedikit khawatir si Kecil terluka saat bermain. Yang penting, pastikan area bermain aman ya, Bu.

Sayang memang, saat ini si Kecil tidak bisa bermain dengan teman-teman, atau bermain keluar karena situasi sekarang masih dalam masa pandemi. Meski di rumah saja, biarkan si Kecil tetap aktif bermain ya, Bu. Ibu bisa mengajaknya bergerak mengikuti musik yang ceria, dengan gerakan yang melibatkan lompat, lari di tempat, berjinjit, dan lain-lain.

Imajinasi yang Makin Tinggi

Bukan hanya motorik kasarnya yang makin berkembang, motorik halus si Kecil pun makin baik, Bu. Selain aktif bergerak, si Kecil pun makin tertarik dengan permainan yang mengasah kemampuan berpikir, meningkatkan daya khayal, dan melibatkan gerakan halus. Misalnya, menyusun puzzle atau bentuk bangunan, bermain plastisin yang lebih dikenal dengan playdough, atau boneka dan mobil-mobilan

Sempatkanlah waktu untuk menemani anak bermain ya, Bu. Selain bisa menimbulkan koneksi yang lebih dekat dengan si Kecil, saat bermain bersama Ibu bisa lebih mengenali pola pikirnya. Selama positif, biarkan si Kecil mengembangkan daya khayalnya. Misalnya jika ia ingin membentuk istana dengan mainan menyusun bangunan, aktiflah bertanya, siapa yang tinggal di dalamnya, atau istana ini letaknya dimana. Dengan begitu secara tak langsung Ibu akan membuat si Kecil mengembangkan kemampuan berpikir dan imaginasinya dengan lebih tinggi.

Cinta akan Huruf dan Bacaan

Jika sebelumnya Ibu sering membacakan dongeng sebelum tidur, maka lanjutkan kegiatan ini bersama si Kecil, ya. Karena apapun yang dibacakan, jika si Kecil menyukainya akan membuatnya untuk senang akan buku nantinya.

Nah di usia ini, si Kecil sudah bisa mengenali sekitar 250-350 kata. Jadi, ini adalah saat keemasan untuknya dikenalkan pada jenis bacaan yang lebih beragam. Ibu bisa membacakan buku ensiklopedi untuk anak, dan ajaklah si Kecil secara interaktif untuk membaca dengan mengenali huruf-huruf. Selain membantunya lebih lancar membaca, ini juga akan membantu untuk memperkaya kosa katanya, serta menggugah minat bacanya lebih jauh lagi.

Karena kemampuan motorik halus si Kecil makin baik, Ibu bisa lho, mulai memperkenalkan pre-writing skill, dengan aktivitas sederhana dan menyenangkan untuk si Kecil. Misalnya, menarik garis, mewarnai, atau mengubungkan titik-titik menjadi bentuk. Agar si Kecil mudah memegang alat tulis, Ibu bisa memberinya krayon atau pinsil warna yang diameternya besar.

'Jago’ Berhitung

Betul Bu, belajar berhitung termasuk salah satu hal yang menjadi highlight pada perkembangan anak 2 tahun. Untuk itu, Ibu bisa mulai mengenalkan angka 1 digit pada si Kecil, bahkan menghitung banyak benda. Faktanya, di usia 2 tahun, si Kecil sudah bisa menghitung benda sampai 5, lho. Hebat ya, Bu.

Ibu juga bisa mulai mengajarinya untuk mengelompokkan benda menjadi 2-3 kelompok, menurut sifatnya6. Misalnya, mengelompokkan buku berdasarkan ukurannya: besar dan kecil. Ini bisa diterapkan dalam aktivitas sehari-hari lho, Bu. Misalnya, saat memasak, Ibu bisa meminta si Kecil untuk membantu mengambil 5 bawang putih dan 5 bawang merah. Lumayan kan Bu, sambil memasak ada yang bisa membantu mengambilkan bahan.

Sebagai tanda terimakasih karena sudah dibantu masak, ini saatnya Ibu menyajikan hasil masakan yang kaya gizi pada si Kecil. Jadi, perhatikan porsi protein, seperti ikan yang kaya Omega 3 dan Omega 6, sayur dan buah untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral, serta FOS GOS yang baik untuk pencernaan. Tahukah Ibu, jika Bebelac 3 mengandung berbagai nutrisi seperti yang disebutkan di atas? Jadi jangan lupa untuk melengkapi makanannya dengan segelas susu Bebelac 3 sebanyak tiga gelas sehari, ya, Bu. Dengan pemberian nutrisi yang cukup, diharapkan si Kecil bisa tumbuh lebih optimal.


Saat pencernaan terasa baik tentunya akan membuatnya mood-nya lebih baik sehingga ia bisa berpikir lebih optimal,terutama saat mulai berfikir mengenai huruf, angka atau aktivitas lain di usianya.


Referensi

  1. Sevan S. Misirliyan, Annie P. Huynh. (update terakhir 2021). Developmental Milestones. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557518/ [Diakses 23 Juni 2021]
  2. Bernie Endyarni Medise. (2017). Pemilihan Mainan Anak sesuai Fase Perkembangan. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/cerdas-memilih-mainan-anak [Diakses 23 Juni 2021]
  3. Imac M. Zambrana, Eivind Ystrom, Synnve Schjølberg, and Francisco Pons (2012). Action Imitation at 1 ½ Years is Better Than Pointing Gesture in Predicting Late Development of Language Production at 3 Years of Age.Diambil dari  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3572301/ [Diakses 28 Juni 2021]
  4. Cara F. Dosman, dkk. (2021). Evidence-based milestone ages as a framework for developmental surveillance. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3549694/ [Diakses 23 Juni 2021]
  5. Caharine Mayung Sambo. (2016). Memupuk Kemandirian Batita (Bagian I). Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memupuk-kemandirian-batita-bagian-i [Diakses 23 Juni 2021]
  6. Amanda Soebadi. (2013). Perkembangan Literasi Anak. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perkembangan-literasi-anak [Diakses 28 Juni 2021]
  7. Mary Tamer, Bari Walsh (2016). Raising Strong Readers. Diambil dari https://www.gse.harvard.edu/news/uk/16/03/raising-strong-readers [Diakses 28 Juni 2021]