alasan-bayi-cegukan

Bayi Sering Cegukan? Jangan Khawatir, Ini 3 Alasannya

detail-fb detail-wa detail-twitter

Ibu mungkin khawatir bila bayi sering cegukan. Tapi sebenarnya tak perlu terlalu cemas Bu, karena cegukan adalah hal yang normal pada bayi. Bayi yang baru lahir bahkan menghabiskan 2,5% waktu mereka dengan cegukan, lho. Seiring berjalannya waktu, cegukan pada bayi akan berkurang1.

Bayi Sering Cegukan, Apa Sebabnya?

Cegukan muncul akibat kontraksi mendadak yang tidak disengaja pada diafragma. Diafragma sendiri adalah otot di antara rongga dada dan rongga perut, yang bergerak naik turun ketika kita bernapas2. Nah, akibat kontraksi mendadak tadi, terjadilah gaya isap, yang membuat udara tiba-tiba masuk ke paru, diikuti dengan menutupnya laring atau pangkal tenggorokan. Akhirnya, muncullah suara hik yang khas2,3. Meski bayi sering cegukan, cegukan biasanya akan hilang sendiri, kok, Bu2.

Diafragma bisa tiba-tiba berkontraksi karena adanya rangsangan tertentu, misalnya saat makan cepat-cepat2. Dugaan lain, kontraksi tersebut sebenarnya merupakan refleks untuk mengeluarkan udara dari dalam lambung. Dengan dikeluarkannya udara dari lambung, lambung pun menjadi lebih kosong, sehingga bisa menerima ASI lebih banyak. Itu sebabnya, cegukan jauh lebih sering terjadi pada bayi1.

Berikut ini 3 hal yang bisa memicu cegukan pada bayi.

Minum ASI terlalu banyak

Minum ASI terlalu banyak membuat perut bayi membesar. Hal ini akan mendorong diafragma, sehingga merangsang kontraksi mendadak, yang menyebabkan cegukan4. Memang, senang rasanya kalau si Kecil banyak minum ASI, ya. Tapi, tetap perhatikan tanda-tanda jika dia sudah kenyang ya, Bu.

Menyusu terlalu cepat

Seperti telah disebutkan tadi, makan terlalu cepat bisa memicu kontraksi diafragma2. Nah, menyusu juga sama, Bu. Selain itu, menyusu terlalu cepat membuat si Kecil menelan udara lebih banyak, sehingga banyak udara terperangkap di lambungnya1. Muncullah reaksi cegukan, untuk mengeluarkan udara tersebut.

Terlalu banyak menelan udara

Banyak tertawa, menangis, dan posisi menyusu yang kurang baik, bisa membuat bayi menelan udara terlalu banyak, Bu. Udara yang terperangkap di lambung akan mendorong diafragma, dan merangsang terjadinya cegukan4.

Mencegah Cegukan pada Bayi

Meski cegukan tidak berbahaya dan bisa hilang sendiri, pasti Ibu khawatir kalau si Kecil terlalu sering cegukan. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa Ibu lakukan untuk mencegah bayi sering cegukan. Secara umum, Ibu bisa menyusui bayi atau memberinya makan sebelum ia sangat lapar, sehingga ia tetap tenang dan tidak sampai menangis keras atau menyusu terlalu cepat. Berikanlah si Kecil ASI atau MPASI dalam porsi kecil, jangan sekaligus banyak. Usai menyusu atau makan, biarkan ia dalam posisi duduk atau tegak selama 30 menit4.

Pada bayi usia 0-6 bulan yang masih mendapat ASI eksklusif, sendawakanlah si Kecil setelah ia menyusu2. Sendawa berfungsi mengeluarkan gas yang terperangkap di lambung, jadi cegukan bisa dicegah. Dan, setelah si Kecil menyusu, sebaiknya tidak langsung diajak bercanda ya, Bu. Biarkan ia beristirahat dulu sekitar 30 menit2. Ketika menyusu, pastikan mulut si Kecil menempel penuh pada bagian areola Ibu4.

Bila si Kecil sudah mendapat MPASI, sebaiknya jangan memberikannya makan atau minum terlalu cepat ya, Bu2. Ketika ia menyusu   atur posisinya  agar tidak ada udara di sekitar yang masuk saat menyusui4. Setelah diberikan ASI, Ibu bisa memberinya air putih sebanyak 1-2 sendok teh2.

Bayi sering cegukan memang normal, namun perhatikan kalau cegukan si Kecil tidak kunjung berhenti ya, Bu. Cegukan lebih dari 1 jam adalah lampu kuning. Sebaiknya segera bawa si Kecil ke dokter untuk mengetahui penyebabnya lebih lanjut2. Selalu semangat ya, Bu!


Referensi:

  1. Daniel Howes. (2012). Hiccups: A New Explanation for The Mysterious Reflex. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3504071/  [Diakses 10 Juni 2021]
  2. Muzal Kadim. (2012). Cegukan pada Bayi dan Anak. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/cegukan-pada-bayi-dan-anak [Diakses 9 Juni 2021]
  3. Full-Young Chan, Ching-Liang Lu. (2012). Hiccup: Mysteri, Nature and Treatment. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3325297/ [Diakses 10 Juni 2021]
  4. Lana Burgess. (last reviewed 2021). How to Stop Hiccups in Newborn. Diambil dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/321932 [Diakses 10 Juni 2021]