potty-training-anak

3 Metode Potty Training yang Bisa Dicoba untuk Diterapkan ke Anak

detail-fb detail-wa detail-twitter

Ingin mulai melatih si Kecil untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) di toilet? Meski kelihatannya cukup sederhana, tapi melatih si Kecil untuk menggunakan toilet, atau istilahnya potty training, ternyata bukanlah hal yang mudah. 

Lalu, apa saja yang harus Ibu ketahui sebelum mulai menjalani potty training?

Tanda Anak Siap Menjalani Potty Training

Yang perlu Ibu perhatikan sebelum menerapkan metode potty training adalah memperhatikan kesiapan si Kecil. Pada dasarnya, potty training merupakan proses kompleks yang keberhasilannya dipengaruhi oleh kondisi anatomi, fisiologis, dan perilaku si Kecil1.

Dilihat dari segi usia, banyak ahli merekomendasikan proses potty training sudah dimulai sejak si Kecil berusia 18 bulan1. Selain patokan usia, Ibu juga bisa mengamati tanda-tanda kesiapan lain pada si Kecil, misalnya saja popok si Kecil tetap kering dalam jangka waktu cukup lama, ia menunjukkan ketidaknyamanan saat popoknya basah, dan tampak tertarik menggunakan toilet1.   

Ada kalanya si Kecil masih sering mengompol ketika tak lagi dipakaikan popok, atau ia menolak untuk duduk di toilet saat hendak BAB. Duh, harus bagaimana, ya? 

Jangan putus asa, Bu. Mungkin metode potty training yang Ibu lakukan kurang tepat, sehingga belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Berikut adalah beberapa metode yang mungkin bisa diterapkan dan cocok untuk si Kecil.

1. Metode Meniru

Pada metode ini, Ibu memberikan contoh langsung kepada si Kecil cara buang air di toilet. Dengan memberikan contoh langsung, si Kecil bisa langsung mempraktikkannya dengan benar2. Dimulai dari membuka celana, duduk di toilet, buang air kecil atau buang air besar di toilet, menyiram toilet, membersihkan diri, memakai celana, hingga ia mencuci tangan usia menggunakan toilet. 

Ingat, Bu, anak-anak akan membentuk perilakunya dengan mencontoh atau meniru apa yang dilihatnya. Dalam hal ini, Ibu dan Ayah, serta orang-orang yang  berada  disekitarnya  akan menjadi  model  yang  akan ditirunya untuk belajar menggunakan toilet2

Tapi ingat, ya, Bu, tak perlu memarahinya ketika si Kecil masih gagal. Ibu bisa mencobanya lagi dan lagi. Jika memungkinkan, Ibu bisa membelikannya toilet duduk khusus yang berbentuk lucu, khusus untuk potty training. Dijamin, si Kecil semakin bersemangat latihan ke toilet. 

2. Metode Terjadwal

Metode ini menjadwalkan waktu BAK dan BAB si Kecil. Ibu akan mengajak si Kecil untuk ke toilet di waktu-waktu tertentu, misalnya setiap baru bangun tidur, saat mandi, atau sebelum tidur1. Beberapa bahkan ada yang menjadwalkan ke toilet setiap 3-4 jam sekali. 

Selain itu, Ibu juga akan mendudukkan si Kecil di toilet setiap kali ia habis makan untuk merangsang BAB1.

Metode terjadwal ini butuh konsistensi, karena tujuannya adalah membangun kebiasaan baik dan rutinitas. Jangan buru-buru mengangkat si Kecil ketika ia tidak pipis atau BAB. Tunggu dan dampingi dulu si Kecil selama 15 menit. Sambil menunggu, Ibu bisa sambil membacakannya cerita atau mengajak si Kecil ngobrol agar ia rileks.  

Kuncinya, Ibu harus mendorong rasa percaya diri si Kecil bahwa ia mampu melakukannya. Hindari memaksa, karena itu hanya akan membuat si Kecil tertekan dan tidak nyaman, sehingga ia mungkin akan menahan untuk buang air3

3. Metode Reward

Metode ini akan memberikan reward setiap kali si Kecil berhasil BAK ataupun BAB di toilet. Reward tidak selalu harus dalam bentuk hadiah besar, tapi juga bisa berupa stiker, mengajaknya bermain air di halaman rumah, atau bahkan hanya berupa pujian. 

Hadiah dan pujian juga bisa memotivasi si Kecil untuk melakukan keberhasilan yang sama di lain waktu2. Jadi, Ibu perlu kreatif dalam memberi hadiah agar si Kecil tetap termotivasi, ya.

Terlepas dari metode apa pun yang Ibu gunakan, pastikan Ibu menjalaninya dengan sabar. Seperti telah disinggung di awal, potty training bukanlah proses yang mudah. Bahkan, bisa jadi dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga si Kecil 'lulus' potty training.

Sementara itu, untuk mendukung kesuksesan dan kelancaran potty training, Ibu bisa memberinya susu pertumbuhan yang juga dapat mendukung saluran pencernaan si Kecil, seperti susu Bebelac 3 yang mengandung FOS dan GOS. FOS dan GOS membantu memberikan konsumsi serat yang cukup demi menjaga kesehatan pencernaan si Kecil. 

Bebelac juga dilengkapi dengan minyak ikan yang mengandung omega 3 dan 6, serta vitamin dan mineral yang penting untuk tumbuh kembang si Kecil. Tetap semangat mendampingi si Kecil ya, Bu. Semoga proses potty training-nya berjalan lancar!


Referensi:

  1. Darcie A. Kiddoo. 2012. Toilet training children: when to start and how to train. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3307553/ [Diakses 7 Oktober 2021]
  2. Kiftiyah, et al. 2018. Pengaruh Metode Demonstrasi Tentang Toilet Training Terhadap Peningkatan Pembelajaran Toilet Training Pada Anak Usia 3 Tahun di PAUD I Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. Diambil dari: https://www.researchgate.net/publication/336788986_PENGARUH_METODE_DEMONSTRASI_TENTANG_TOILET_TRAINING_TERHADAP_PENINGKATAN_PEMBELAJARAN_TOILET_TRAINING_PADA_ANAK_USIA_3_TAHUN_DI_PAUD_I_DESA_SOOKO_KECAMATAN_SOOKO_KABUPATEN_MOJOKERTO [Diakses 16 Oktober 2021]
  3. Catharine M. Sambo. 201. Toilet Training. Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/toilet-training [Diakses 7 Oktober 2021]
Tag