Kembali ke Tumbuh Kembang

Stimulasi yang Tepat Bisa Tingkatkan Kecerdasan Emosional Anak? Simak Faktanya!

Dalam proses tumbuh kembang si kecil, selain memerhatikan kecerdasan kognitif, penting bagi Ibu untuk memerhatikan pula kecerdasan emosi...

4 min
29 Jun 2022
 Kecerdasan emosional anak bisa diasah dengan stimulasi dan nutrisi yang tepat.

Artikel ini belum diulas

Dalam proses tumbuh kembang si kecil, selain memerhatikan kecerdasan kognitif, penting bagi Ibu untuk memerhatikan pula kecerdasan emosional anak. Kecerdasan emosional di sini adalah kemampuan yang dimiliki si Kecil untuk memantau dan beradaptasi dengan emosi diri sendiri, termasuk kemampuan berempati dengan orang lain di sekitarnya.1 

Sama halnya seperti kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional merupakan bekal penting untuk masa depan anak, karena akan memengaruhi perilaku si Kecil hingga ia dewasa kelak. Itu sebabnya, Ibu perlu tahu cara tepat untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak, termasuk stimulasi dan nutrisi apa saja yang dibutuhkan. 

Baca Juga: Pahami 5 Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 1-5 Tahun

Stimulasi Tepat untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional si Kecil dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor keturunan, lingkungan, dan faktor lainnya seperti jenis kelamin dan status kesehatan.2 Jadi, tak heran jika pada beberapa anak, mereka sepertinya memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi, di mana si Kecil tak sungkan saat bertemu orang baru, mudah berbaur di lingkungan baru, dan ramah pada orang-orang yang bahkan baru ditemuinya. Hal ini mungkin karena faktor genetik, di mana kedua orangtuanya memang memiliki pembawaan yang luwes dan mudah bergaul. 

Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk memantau dan beradaptasi dengan emosi diri sendiri.

Tapi, Ibu tak perlu khawatir kalau si Kecil bukan termasuk anak yang luwes dan mudah bergaul. Dengan stimulasi yang tepat, Ibu bisa meningkatkan kecerdasan emosional anak sejak dini. Apa saja stimulasinya?

1. Dorong anak untuk mengekspresikan perasaannya

Keluarga adalah tempat anak-anak belajar pertama kali untuk mengekspresikan perasaan, mengelola konflik, dan menegosiasikan perbedaan. Interaksi yang sehat dalam keluarga dapat membantu mengembangkan kecerdasan emosional pada anak.3

Misalnya saja, sejak dini, orangtua bisa memberi peraturan pada si Kecil agar mengungkapkan kekecewaannya dengan kata-kata alih-alih marah atau menangis. Atau, bisa juga Ibu memberinya contoh bagaimana cara mengelola emosi dengan baik, yang nantinya bisa ditiru oleh si Kecil.3 

Ingat, Bu, si Kecil adalah peniru ulung. Apa yang Ayah dan Ibu ajarkan dan contohkan padanya, terutama di tahun-tahun awal kehidupannya, akan sangat membekas dan ditiru olehnya.

2. Mengajak anak bersosialisasi

Salah satu kunci penting dalam kecerdasan emosional adalah sosialisasi, tak hanya dengan anggota keluarga di rumah, tetapi juga dengan orang di sekitarnya, baik yang sebaya ataupun orang dewasa. Dengan bersosialisasi, si Kecil akan belajar cara memahami diri, orang lain, dan lingkungannya.4 

Langkah awal untuk mendorongnya bersosialisasi adalah dengan mengajak si Kecil bermain dengan teman atau sepupunya yang sebaya. Ketika bermain, si Kecil mungkin akan mengalami konflik dengan temannya. Ia mungkin akan mengalami rasa takut, malu, khawatir, atau marah dalam proses interaksi tersebut. Tapi tidak apa-apa, Bu, justru ini semua merupakan bagian dari tahap perkembangan emosi yang harus dihadapinya.4 Jadi, sering-seringlah mengajak si Kecil bermain, ya. 

3. Mengajari anak berbagi

Salah satu perkembangan emosional si Kecil dapat Ibu lihat dari seberapa mampu ia mengendalikan sifat egoisnya. Ketika ia sudah bisa berbagi mainannya dengan rela, tidak menangis ketika diminta berbagi, itu berarti ia telah memiliki kemampuan sosial emosional yang baik.4

Lalu, bagaimana cara mengajarkan si kecil untuk berbagi? Mengajari anak berbagi sudah bisa Ibu lakukan sejak anak sudah bisa diajak berkomunikasi, setidaknya ketika si Kecil sudah menginjak usia 1 tahun. Misalnya dengan meminta anak berbagi makanan atau mainan yang sedang ia pegang.5 

Tapi ingat, ya, Bu, tak perlu memaksa jika di usia dini si Kecil masih menolak berbagi. Karena kemampuan untuk berbagi ini memang memerlukan latihan yang panjang agar si Kecil dapat menguasainya. 

Peranan Nutrisi untuk Mendukung Kecerdasan Emosional

Ibu, selain memberikan stimulasi yang tepat, penting juga memerhatikan asupan nutrisi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi si Kecil setiap harinya agar perkembangan kecerdasan emosionalnya lebih optimal.

Beberapa anak mungkin memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Otak merupakan organ tubuh yang menjadi pusat untuk memproses emosi, memecahkan masalah, dan berpikir dalam merespon setiap situasi. Bagian dalam anatomi otak yang berhubungan dengan proses emosi dan perilaku ini disebut amigdala.6 Oleh karena itu, nutrisi untuk otak sangat penting dikonsumsi untuk mendukung perkembangan kecerdasan emosional si Kecil.

Lalu, apa saja nutrisi untuk otak yang dapat mendukung kecerdasan emosional anak? Dalam daftar teratas, ada asam lemak sebagai nutrisi penting untuk perkembangan otak anak, yaitu omega 3.7 

Eicosapentaenoic Acid (EPA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA) merupakan dua jenis omega 3 yang perannya cukup esensial untuk perkembangan otak. DHA merupakan lipid utama di otak yang sangat penting, yang fungsinya memastikan fungsi otak normal. Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa kadar DHA di otak yang rendah menyebabkan gangguan belajar dan perilaku, termasuk memengaruhi kecerdasan emosional si Kecil. 

Selain asam lemak, nutrisi lain juga tak kalah penting dalam memaksimalkan perkembangan otak anak, seperti asam folat, zat besi, kolin, dan yodium. Jadi, pastikan si Kecil mengonsumsi makanan yang bervariasi untuk memenuhi semua kebutuhan nutrisinya, ya, Bu.

Selain itu, dalam menu harian si Kecil, Ibu juga bisa menambahkan Bebelac 3 yang diperkaya dengan omega 3, omega 6, Triple A (DHA, LA, ALA), 13 vitamin dan 6 mineral, serta serat FOS:GOS 1:9. Yuk, dukung daya pikir si Kecil dengan memberikan stimulasi dan nutrisi seimbang, serta tiga gelas Bebelac sehari yang mengandung nutrisi tepat! 


Reference:

  1. Scott A. McLeod and Lyn K. Sonnenberg. 2017. The emotional intelligence of pediatric residents – a descriptive cross-sectional study. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5344067/  [Diakses 10 Mei 2022]
     
  2. Nurjannah. 2017. Mengembangkan Kecerdasan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Keteladanan. Diambil dari: https://www.researchgate.net/publication/334511338_MENGEMBANGKAN_KECERDASAN_SOSIAL_EMOSIONAL_ANAK_USIA_DINI_MELALUI_KETELADANAN  [Diakses 10 Mei 2022]
     
  3. María Trinidad Sánchez-Núñez, et al. 2020. Emotional Intelligence and Mental Health in the Family: The Influence of Emotional Intelligence Perceived by Parents and Children. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7503667/  [Diakses 10 Mei 2022]
     
  4. Mira Yanti Lubis. 2019. Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Bermain. Diambil dari: https://core.ac.uk/download/pdf/322503389.pdf  [Diakses 10 Mei 2022]
     
  5. Celia A. Brownell, et al. 2013. Mine or Yours? Development of Sharing in Toddlers in Relation to Ownership Understanding. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3578097/   [Diakses 10 Mei 2022]
     
  6. Goran Simic, et al. 2021. Understanding Emotions: Origins and Roles of the Amygdala. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8228195/ [Diakses 7 Mei 2022]
     
  7. Connye N. Kuratko, et al. 2013. The Relationship of Docosahexaenoic Acid (DHA) with Learning and Behavior in Healthy Children: A Review. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3738999/ [Diakses 7 Mei 2022]


Artikel Terkait