Kembali ke Pencernaan & Alergi

Cek Penyebab Bayi Sering BAB Sedikit-sedikit, Normal atau Tidak, Sih?

Ada banyak hal baru dan unik yang akan dirasakan ketika menjadi ibu untuk pertama kalinya. Salah satunya mengenai frekuensi buang air be...

4 min
17 Jun 2022
bab bayi normal

17 ibu tandai artikel ini bermanfaat

Ada banyak hal baru dan unik yang akan dirasakan ketika menjadi ibu untuk pertama kalinya. Salah satunya mengenai frekuensi buang air besar atau BAB Si Kecil yang berubah-ubah. Apa penyebab bayi sering BAB sedikit-sedikit?

Mari baca artikel ini sampai habis untuk menjawab pertanyaan di atas. 

Perbedaan BAB Normal dan BAB Akibat Gangguan Pencernaan

Sebelum usianya dua bulan, si Kecil mungkin akan sering BAB setiap hari, dengan jumlah yang sedikit-sedikit. Banyak para Ibu yang merasa khawatir melihat hal ini dan menganggapnya sebagai masalah pada gangguan pencernaan1.

Untuk mencari tahu penyebab Si Kecil sering BAB sedikit-sedikit, ibu perlu mencari tahu lebih dulu perbedaan antara BAB normal dengan BAB akibat gangguan pencernaan. Baru setelah itu, Ibu bisa menentukan apakah BAB yang sedikit-sedikit tapi sering ini adalah hal yang normal atau merupakan gangguan pencernaan.

1. Kenali frekuensi BAB bayi

Berdasarkan usianya, bayi memiliki frekuensi BAB yang berbeda-beda. Bayi yang baru lahir hingga berusia 2 bulan memiliki frekuensi BAB bahkan hingga sepuluh kali dalam sehari. Ini terjadi karena refleks gastrokolika atau refleks tubuh yang meningkatkan pergerakan usus besar yang timbul akibat makan dan minum sehingga bayi buang air besar setelah minum susu1.

Tingginya frekuensi BAB pada bayi baru lahir, membuat Ibu kerap menganggapnya sebagai diare. Padahal, belum tentu juga ia mengalami diare, lho, Bu. Bayi yang mengalami diare biasanya akan disertai demam dan didahului dengan muntah2.

Nah, menjelang 2 bulan, frekuensi BAB bayi mulai berkurang. Di masa ini, bayi bahkan bisa tidak BAB dalam lima atau tujuh hari, lho, Bu. Refleks gastrokolika yang menimbulkan sensasi mulas di usus besar ketika lambung diisi, mulai berkurang di usia ini, sehingga ia tak lagi sering BAB1.

2. Perhatikan tekstur kotoran bayi

Tahukah ibu, kotoran bayi rupanya mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Saat baru lahir hingga berusia 2 bulan, bayi memiliki tekstur kotoran yang cair, berbusa, dan berbau asam. Ini terjadi karena sebagian laktosa belum dicerna dengan sempurna. Laktosa yang tidak dicerna akan masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri1

Memeriksa tekstur kotoran jadi salah satu cara mengetahui bayi sehat atau tidak.

Meski tekstur kotoran normal di usia ini sulit dibedakan dengan diare, namun Ibu tak perlu khawatir selama kenaikan berat badan bayi normal dan ia tampak sehat. Saat berusia 2 bulan, kotoran bayi akan berubah jadi lebih padat dan berbentuk seperti pasta namun tidak keras1.

3. Cek warna kotoran bayi

Di awal kelahirannya, bayi akan mengeluarkan kotoran berwarna hitam yang bernama mekonium. Selanjutnya, kotoran bayi yang normal bisa berwarna kuning (terutama untuk bayi yang minum ASI) dan kehijauan. Jika kotoran bayi berwarna hitam artinya ada campuran darah di dalamnya, sementara jika berwarna dempul mengindikasikan adanya penyakit hati1,3

Warna kotoran bayi bisa mengindikasikan ia sehat atau tidak.

Ibu perlu waspada jika warna kotoran bayi masih hitam beberapa hari setelah lahir, ada bercak merah atau darah pada kotoran, atau bahkan berwarna putih. Segera hubungi dokter jika Ibu menemukan tanda-tanda tersebut, ya3.

Cara Mencegah Diare pada Bayi

Nah, berdasarkan penjelasan di atas, kini Ibu sudah tahu penyebab bayi sering BAB sedikit-sedikit. Selama si Kecil terlihat nyaman, keinginan menyusu tetap kuat, dan berat badannya pun bertambah secara konstan, maka Ibu tak perlu khawatir mengenai frekuensi BAB si Kecil1

Tapi, jika penyebab bayi sering BAB sedikit-sedikit adalah diare, maka ada beberapa tindakan pencegahan yang bisa Ibu lakukan, seperti yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan berikut ini4

  1. Memberikan ASI lebih sering dan lebih lama dari biasanya.

  2. Pemberian oralit untuk mencegah dehidrasi sampai diare berhenti.

  3. Memberikan obat zinc yang tersedia di apotek, Puskesmas, dan rumah sakit. Diberikan sekali sehari selama 10 hari berturut-turut meskipun diare sudah berhenti. Zinc dapat mengurangi parahnya diare, mengurangi durasi, dan mencegah berulangnya diare 2 sampai 3 bulan ke depan.

  4. Memberikan cukup cairan pada bayi yang sudah menerima MPASI, termasuk kuah sup dan air mineral.

  5. Segera membawa si Kecil yang diare atau diduga diare ke dokter atau rumah sakit, terutama jika si Kecil lemas, malas menyusu, atau menunjukkan tanda dehidrasi lainnya.

Baca Juga: 13 Jenis BAB Bayi: Ini Tekstur dan Warna pup yang Perlu Diwaspadai

Bagaimana, Bu, sudah tak khawatir lagi, kan? Untuk mengetahui lebih jauh tentang penyebab bayi sering bab sedikit-sedikit, yuk cek juga poop si Kecil di Bebejourney!


Reference:

  1. Agus Firmansyah. (2015). Tinja Bayi: Normal atau Tidak? (Bagian 1). Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/tinja-bayi-normal-atau-tidak-bagian-1 [Diakses 23 April 2022]
     
  2. Muzal Kadim. (2017). Gangguan Pencernaan pada Bayi (1). Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-2 [Diakses 23 April 2022]
     
  3. Jay L. Hoecker. 2022. I'm breastfeeding my newborn and my baby's bowel movements are yellow and mushy. Is this normal for baby poop? Diambil dari: https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/expert-answers/baby-poop/faq-20057971 [Diakses 23 April 2022]
     
  4. Oscar Primadi. (2017). Kenali Diare pada Anak dan Cara Pencegahannya. Diambil dari https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/tips-sehat/20170403/4620310/kenali-diare-anak-dan-cara-pencegahannya/ [Diakses 23 April 2022]


 
alt

Kenali apa itu

Kalkulator Nutrisi

Cek nutrisi si Kecil yuk! Sudah sesuaikah dengan kebutuhannya?

Artikel Terkait