belajar-berhitung-si-kecil

10 Metode Belajar Berhitung untuk Anak Cerdas

detail-fb detail-wa detail-twitter

Mengajar anak belajar berhitung itu memang susah-susah gampang ya, Bu. Namun Ibu jangan patah semangat, karena bisa dilakukan secara menyenangkan. Pembelajaran tentang hitung menghitung dan numerik ini sebaiknya dimulai sejak anak masih kecil. Menurut penelitian, kemampuan numerik semasa TK akan membentuk pondasi kemampuan matematik di masa dewasa kelak1.

Oleh sebab itu, membangkitkan ketertarikan anak terhadap sains sejak dini itu penting untuk diupayakan agar kepercayaan diri mereka terhadap bidang ini terpupuk sejak awal. Dan, matematika bisa dibilang merupakan kontak pertama anak dengan dunia sains2.

8 Metode Belajar Berhitung untuk Anak

Tentu saja aktivitas untuk belajar berhitung perlu disesuaikan dengan usia dan tahapan perkembangan si Kecil ya, Bu3. Di usia 2-3 tahun misalnya, Ibu bisa mengajarkan aktivitas sederhana kepada si Kecil, seperti menghitung benda sampai dengan angka 5. Tingkat kesulitan bisa ditambah ketika si Kecil berusia 4-5 tahun.  Misalnya, menghitung sampai 20, menghitung loncat, dan mengelompokkan benda ke dalam 3 kelompok atau lebih2.

Di usia 6 tahun, pembelajaran berhitung bisa lebih kompleks lagi, Bu. Di sekolah, anak kelas 1 SD biasanya mulai belajar penjumlahan dan pengurangan. Kelas 3 SD, pelajaran matematika umumnya meningkat jadi perkalian dan pembagian2.

Tak perlu panik, Bu, sekarang sudah banyak metode berhitung yang bisa membantu anak lebih mudah berhitung dan memahami konsep numerik atau matematika. Berikut ini 3 contoh metode belajar berhitung yang populer di Indonesia, dan bisa menjadi referensi bagi Ibu.

Baca Juga: Cara Mendidik Anak Semangat Belajar

1. Kumon sebagai Metode Berhitung Anak

Metode Kumon dikembangkan oleh Toru Kumon, seorang guru matematika SMA di Jepang. Keunikan metode ini Bu, pengajarannya bersifat personal disesuaikan dengan kemampuan tiap anak, dan anak didorong mandiri untuk bisa belajar sendiri. Jadi sebelum mulai, kemampuan anak akan dites dulu Bu, untuk menentukan titik awal yang tepat untuknya2. Menurut website resminya, Kumon bisa dimulai sejak si Kecil berusia 3 tahun Bu, sehingga bisa mempersiapkannya untuk PAUD dan TK nanti4.

Ada 21 level matematika di Kumon Bu, dengan tingkat kesulitan yang ditingkatkan secara bertahap. Pembimbing akan menentukan tugas yang perlu dikerjakan oleh anak, dan anak diharapkan belajar sendiri di rumah selama 30 menit setiap hari2. Dengan berlatih setiap hari, diharapkan si Kecil terbiasa menghadapi soal-soal, dan memiliki kebiasaan belajar. Selanjutnya, pembimbing akan mengoreksi dan menilai kemampuan anak2. Menarik sekali ya Bu.

Baca Juga: Cara Seru Belajar lewat Lagu

2. Jarimatika

Metode ini cukup populer di Indonesia. Jarimatika adalah metode untuk belajar berhitung anak menggunakan jari jemari mungilnya sebagai alat bantu. Metode Jarimatika efektif untuk menghitung bilangan yang hasilnya dua angka. Manfaat metode Jarimatika  dalam meningkatkan kemampuan matematika anak telah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Di antaranya, ditemukan bahwa metode Jarimatika mampu meningkatkan kemampuan perkalian pada anak yang kesulitan belajar matematika4.

3. Sempoa sebagai Metode Belajar Menghitung

Waktu SD, Ibu pernah diajarkan menggunakan sempoa untuk belajar berhitung? Sempoa bisa digunakan untuk menghitung operasi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dan ternyata, menurut penelitian, mereka yang mahir menggunakan sempoa bisa melakukan penghitungan aritmatika dengan cepat dan akurat. Hebatnya lagi, kemampuan ini tak hanya dengan penggunaan sempoa secara fisik, melainkan juga dengan membayangkan sempoa dalam pikiran5. Wah, terdengar menarik sekali ya, Bu!

4. Belajar dari Kegiatan Sehari-hari

Semua metode pembelajaran itu baik. Ibu dan Ayah bisa mempelajari tiap metode dengan lebih detil lagi, dari berbagai sumber terpercaya. Pertimbangkan juga dengan ketertarikan si Kecil ya Bu. Yang pasti, ia harus enjoy selama belajar. Sehingga ia benar-benar paham, dan belajar sepenuh hati, tak sekadar untuk mengejar nilai akademis di sekolah.

Si Kecil juga bisa belajar berhitung dari kegiatan sehari-hari lho Bu. Misalnya membantu Ibu menghitung uang kembalian belanja, menghitung isi celengannya, menghitung wortel yang Ibu pakai untuk membuat sop, atau menghitung kaos saat ia memasukkan baju ke lemari. 

5. Belajar dengan Krayon

Krayon warna-warni dapat menarik perhatian anak. Jika memberi krayon, Anda bisa katakan satu kepada anak dan seterusnya. Buatlah anak menghitung kembali setelahnya. Metode ini cenderung digunakan sebagai metode belajar berhitung anak TK.

6.  Menghitung Benda yang Ada di Sekitar

Ibu bisa mengajari anak untuk berhitung benda-benda yang ada di sekitar rumah atau sekeliling lingkungan anak dan Ibu.

7. Belajar Berhitung saat Memakai Sepatu atau Mengenakan Pakaian

Salah satu cara berhitung cepat untuk anak adalah dengan menerapkan anjuran menghitung saat anak mengenakan baju atau memakai sepatu. Dengan demikian, anak juga bisa belajar melatih fokus dan kecepatannya.

8. Belajar Berhitung melalui Aplikasi

Di zaman yang serba canggih, belajar berhitung bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan aplikasi. Kini, telah banyak tersedia aplikasi menghitung di mobile phone.

9. Gunakan Contoh yang Konkret atau Berhubungan dengan Kehidupan Sehari-hari

Untuk mengajarkan konsep berhitung pada anak, Ibu bisa menggunakan contoh konkret. Misalnya, mengajak anak menghitung jumlah buah yang ingin dibeli dan sebagainya.

10. Buat Progress Berkala

Ibu bisa menulis perkembangan yang telah anak kuasai. Misalnya, mulai dari mengenal angka, penjumlahan, hingga pengurangan. Hal itu bisa digunakan untuk mengetahui seberapa lama anak menyerap materi.

Ibu juga bisa mendukung kegiatan belajarnya dengan susu Bebelac 5 favoritnya. Pasti ia makin semangat belajar. Ini juga bisa menjadi cara untuk belajar menghitung lho Bu. Ibu bisa mengajak si Kecil menghitung berapa sendok susu Bebelac untuk membuat segelas susu. Apalagi, Bebelac dilengkapi dengan minyak ikan, omega 3, dan omega 6. Ketiganya adalah nutrisi yang bisa menunjang


Referensi

  1. Ilona Friso-van den Bos, dkk. (2018). Counting and Number Line Trainings in Kindergarten: Effects on Arithmetic Performance and Number Sense. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6018078/ [Diakses 1 Juni 2021]
  2. Lara Orcos, dkk. (2018). The Kumon Method: Its Importance in Improvement on the Teaching and Learning of Mathematics from the First Level of Early Childhood and Primary Education. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/330521380_The_Kumon_Method_Its_Importance_in_the_Improvement_on_the_Teaching_and_Learning_of_Mathematics_from_the_First_Levels_of_Early_Childhood_and_Primary_Education [Diakses 3 Juni 2021]
  3. Amanda Soebadi. (2013). Perkembangan Literasi Anak. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perkembangan-literasi-anak [Diakses 28 Mei 2021]
  4. Idham Sumirat, dkk. (2016). Pengaruh Praktik Jarimatika Terhadap Keterampilan Berhitung Perkalian Pada Siswa Kelas II SD. Diambil dari https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kreatif/article/viewFile/9368/6134 [Diakses 3 Juni 2021]
Tag