perilaku-empati-anak

10 Kegiatan Seru untuk Menumbuhkan Perilaku Empati Anak

detail-fb detail-wa detail-twitter

Kecerdasan emosi dan perilaku empati pada anak perlu diasah sejak dini, sama seperti kecerdasan intelektual. Kenapa? Karena ternyata, kemampuan anak dalam memahami emosi dan menunjukkan perilaku empati  berhubungan dengan kesuksesan akademik, kompetensi sosial, dan regulasi perilaku, Bu1. Memang betul apa kata orang tua kita dulu: “Anak jangan cuma pintar, tapi juga harus berbudi luhur”. Karena itu, anak perlu diajari untuk berlatih empati. Apa sih empati? Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain.

10 Aktivitas untuk Menumbuhkan Perilaku Empati si Kecil

Ada banyak aktivitas yang bisa Ibu lakukan di rumah untuk menumbuhkan perilaku empati pada anak. Pada dasarnya, respons empati terkait erat dengan kemampuan anak untuk memahami emosi orang lain. Ketika si Kecil tidak hanya fokus pada dirinya sendiri, dan bisa merasakan rasa sakit yang dialami orang lain, ia pun bisa menunjukkan empatinya2.

Nah, beberapa aktivitas berikut ini bisa Ibu lakukan bersama si Kecil, untuk mengasah kepekaannya terhadap orang lain dan menumbuhkan perilaku empati.  

1. Storytelling

Ada beberapa cara melatih empati, salah satunya dengan storytelling yang tidak hanya menstimulasi kecerdasan dan kemampuan berbahasa si Kecil. Riset pada otak menemukan, storytelling merangsang sebuah area di otak yang berkaitan dengan emosi dan empati3.

Jangan biarkan si Kecil hanya menjadi pendengar pasif, ya, Bu. Ajak dan libatkan ia dalam proses bercerita. Berikan juga kesempatan kepada si Kecil untuk ikut terlibat dalam menyusun cerita3. Inilah inti dari storytelling, agar anak bisa menjelaskan gagasannya, serta merasakan cerita tersebut seperti pengalamannya sendiri.

2. Menonton bersama

Contoh empati di rumah adalah melakukan nonton film bersama anak. Di waktu senggang, Ibu bisa menonton film-film anak bermutu bersama si Kecil sebagai cara meningkatkan empati. Seperti Brave, How to Train Your Dragon, Frozen, atau film-film animasi Ghibli Jepang. Bisa juga menonton film animasi buatan anak negeri, seperti Nussa Rara atau Adit & Sopo Jarwo. Sebaiknya, dampingi ia selama menonton ya, Bu. Ini akan jadi momen yang menyenangkan bagi Ibu dan si Kecil.

Empati adalah perkembangan sosial yang bisa diasah. Usai menonton, Ibu bisa membahas film tadi bersama si Kecil, untuk merangsang empatinya. Misalnya, betapa sedih dan marah Hiccup (How to Train Your Dragon) saat ayahnya meninggal karena terbunuh oleh Toothless, serta betapa sedih dan takut si Toothless ketika Hiccup mengusirnya dengan marah.

Untuk menemani momen santai ini, Ibu bisa memberi si Kecil segelas susu Bebelac 4 kesukaannya. Seperti Ibu ketahui, susu bisa menjadi menu selingan yang bernutrisi untuk anak. Asupan nutrisi yang tepat akan mendukung kecerdasan sosial dan emosi si Kecil. Apalagi, selain diperkaya minyak ikan, omega 3 dan omega 6, Bebelac juga mengandung serat. yang dapat membantu melancarkan saluran cerna si Kecil, sehingga ia bisa memiliki mood yang baik.

3. Merawat hewan peliharaan

Si Kecil pasti senang sekali punya hewan peliharaan. Ibu bisa melibatkan si Kecil melakukan pekerjaan sederhana sebagai cara meningkatkan empati, seperti memberi makan dan minum, dan menyisiri bulu peliharaan. Merawat hewan adalah pengalaman yang sangat baik untuk melatih tanggung jawab si Kecil terhadap makhluk hidup lain, Bu. Hal ini juga bisa mendukung tumbuhnya perilaku empati anak, bahkan sudah terbukti berkaitan dengan perilaku yang lebih manusiawi di kemudian hari4.

4. Contoh Empati di Rumah adalah Berkebun

Ternyata Bu, manfaat berkebun itu banyak sekali. Dengan berkebun, si Kecil belajar untuk bekerja sama dalam tim, untuk mencapai tujuan yang sama5. Pastinya, Ibu dan si Kecil pun akan makin dekat. Selama berkebun, Ibu bisa bercerita dalam bahasa sederhana, tentang betapa kerasnya kerja para petani untuk menyediakan makanan untuk kita. Dan bahwa tidak semua anak bisa makan makanan enak dan bergizi setiap hari. Ibu juga bisa menceritakan betapa pentingnya tanah yang subur, atau keberadaan serangga untuk penyerbukan, sehingga si Kecil memiliki empati terhadap lingkungan dan makhluk lain.

5. Belajar Berdonasi

Mengajarkan si Kecil untuk berbagi, bisa mengembangkan perilaku empati anak. Ini bisa dilakukan dengan kegiatan yang menarik bagi anak. Misalnya, Ibu bisa membeli celengan lucu. Ajaklah si Kecil untuk mengisi celengan itu bersama, dengan menyisihkan sebagian uang setiap hari.

Di akhir bulan, Ibu bisa mengajak si Kecil menghitung isi celengan, lalu mendonasikan jumlah uang itu secara virtual ke organisasi, yayasan, atau badan amal yang dituju. Ibu bisa lho mengajak si Kecil ikut memilih, organisasi atau yayasan yang akan diberikan donasi.

Ibu juga bisa mengajak si Kecil memilah pakaian, boneka, dan mainannya yang sudah tidak terpakai, untuk didonasikan. Ajak serta si Kecil untuk mengemas barang-barang tersebut dengan rapi ke dalam kardus, dan menempelkan label di atasnya. Untuk membatasi mobilitas di masa pandemi ini, Ibu bisa mengirimkan donasi menggunakan jasa kurir.

Ada beberapa cara menumbuhkan empati di rumah lainnya, berikut contohnya:

6. Memperhatikan dan membersihkan lingkungan di sekitar rumah.

7. Mengajak anak menolong orang tua saat melakukan aktivitas.

8. Terapkan kedisiplinan waktu kepada anak.

9. Beri apresiasi saat anak telah menunjukkan sikap empati yang baik.

10. Berikan anak edukasi untuk membela yang benar dan tidak mengucilkan yang salah.

Menumbuhkan perilaku empati pada anak tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa instan ya, Bu. Lakukanlah pelan-pelan, dan berikan contoh sikap empati dalam keseharian. Perlahan anak akan belajar bagaimana merespons emosi yang ditunjukkan orang lain dengan sikap empati.


Referensi

  1. Erin C. Tully, dkk. (2015). Children’s Empathy Responses and Their Understanding of Mother’s Emotions. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4170047/ [Diakses 4 Juni 2021]
  2. The South African College of Applied Psychology. (2018). What is empathy and can it be taught? Diambil dari https://www.sacap.edu.za/blog/applied-psychology/what-is-empathy/ [Diakses 22 November 2020].
  3. William Ian O’Byrne, dkk. (2018). Digital Storytelling in Early Childood: Student Illustrations Shaping Social Interactions. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6191536/ [Diakses 4 Juni 2021]
  4. Roxanne D. Hawkins, Joanne M. Williams. (2017). Childhood Attachment to Pets: Associations between Pet Attachment, Attitudes to Animals, Compassion, and Humane Behaviour. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5451941/ [Diakses 4 Juni 2021]
  5. Heather Ohly, dkk. (2016). A systematic review of the health and well-being impacts of school gardening: synthesis of quantitative and qualitative evidence. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4807565/ [Diakses 4 Juni 2021]
Tag