Kembali ke Pencernaan & Alergi

Kenali 5 Penyebab Konstipasi pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Sembelit pada anak sebenarnya adalah hal yang wajar. Biasanya terjadi ketika si Kecil tidak cukup makan serat atau minum air. Meski...

4 min
05 Feb 2022

2 ibu tandai artikel ini bermanfaat

Sembelit pada anak sebenarnya adalah hal yang wajar. Biasanya terjadi ketika si Kecil tidak cukup makan serat atau minum air. Meski terkesan sepele, sembelit yang berlangsung lama dapat mengganggu aktivitas harian si Kecil. Itu sebabnya, penting bagi Ibu untuk segera mencari cara mengatasi sembelit pada anak.

1. Kurang Makanan Berserat

Salah satu penyebab utama dari konstipasi pada anak adalah kurangnya konsumsi makanan berserat. Sebuah studi menemukan bahwa anak-anak usia TK yang mengonsumsi lebih banyak serat mengalami kasus konstipasi yang lebih sedikit dibanding anak-anak seusianya yang kurang makan makanan berserat.

Makanan tinggi serat contohnya adalah buah, sayuran dan kacang-kacangan. Jangan langsung menyerah bila anak sulit sekali makan sayur. Coba alternatif lain, make over sayuran menjadi sajian yang menggugah selera anak, seperti Resep Green Smoothie Bowl yang terbuat dari pisang, mangga dan daun kale. Teksturnya yang creamy dan disajikan saat dingin membuat anak serasa menikmati ice cream. Wah, anak-anak pasti tidak keberatan menyantap semangkuk penuh green smoothies-nya!

2. Faktor Psikologis: Stres

Konstipasi yang disebabkan oleh faktor psikologis lebih banyak dialami pada anak usia sekolah. Tuntutan yang besar pada prestasi anak di sekolah, pelajaran yang sulit, ujian naik kelas, perundungan (bullying) di sekolah, hubungan anak dengan teman-teman di sekolah, hingga masalah orang tua yang diketahui oleh anak, dapat memicu stres pada anak. Ternyata, stres pada anak bisa menyebabkan konstipasi yang berkelanjutan. Faktanya, stres pada anak dapat memengaruhi fungsi usus sehingga menyebabkan konstipasi pada anak.

Bagaimana stres bisa berujung konstipasi? Pencernaan dan otak saling berkaitan dan memengaruhi atau disebut dengan gut-brain axis. Pencernaan memengaruhi otak dalam hal mengatur perilaku, emosi dan logika. Sedangkan otak memengaruhi pencernaan saat menyerap nutrisi yang dikonsumsi tubuh.

Ketika otak anak memiliki beban pikiran yang sulit diselesaikannya, maka hal itu akan memengaruhi kesehatan sistem pencernaannya. Bila Ibu melihat gejala stres terjadi pada si Kecil, segera ajak ia bicara. Jika perlu, komunikasikan dengan ahlinya agar kondisi stres si Kecil tidak berlarut.

Baca Juga: Ini yang Terjadi saat Anak Konstipasi

3. Obesitas

Berlarian, melompat, bersepeda dan segudang permainan outdoor lainnya sering kali membuat Ibu kewalahan menjaga si Kecil. Tapi, tahu kah, Bu, ternyata, aktivitas fisik tersebut sangat berguna untuk mencegah si Kecil dari obesitas yang bisa berujung pada konstipasi?

Anak-anak dengan obesitas memiliki resiko lebih tinggi mengalami konstipasi dibandingkan dengan yang memiliki berat badan ideal. Hal ini dipengaruhi oleh pola makan yang buruk, aktivitas fisik yang kurang dan masalah kepatuhan.

Sesekali ibu juga bisa ikut bersama si Kecil melakukan aktivitas outdoor bersama-sama. Pasti seru!

4. Kebiasaan Menahan BAB

Salah satu penyebab konstipasi pada anak yang sering dijumpai adalah akibat sering menahan BAB. Entah itu karena anak sedang asyik bermain, takut ke toilet sendirian, atau mengalami trauma toilet. Trauma toilet bisa disebabkan karena kondisi toilet yang kurang bersih, bau tak sedap, atau ada binatang kecil yang membuatnya takut. Akibat trauma tersebut, anak jadi menahan BAB sehingga tinjanya akan semakin keras dan semakin sulit dikeluarkan. Trauma ini harus diatasi agar anak merasa nyaman saat BAB. Temani si Kecil di toilet dan pastikan kondisi toilet sudah bersih dan nyaman untuk membuatnya pelan-pelan bisa melupakan traumanya.

Baca Juga: Ciri-ciri Konstipasi pada Anak

5. Kurang minum air putih

Meski konstipasi lebih banyak ditemukan pada anak usia sekolah, tetapi anak-anak di bawah usia 2 tahun juga kerap mengalami konstipasi. Penyebabnya adalah kurang minum air putih. Bila si Kecil sudah anteng bermain atau menonton film kesukaan, kita memang kerap lengah dan lupa memberikan air putih, ya, Bu.

Saat anak mengalami konstipasi yang disebabkan oleh kurang minum air putih, pastikan kebutuhan cairannya terpenuhi, ya, Bu. Berikan pula buah-buahan selain pisang dan apel.

Nah, setelah mengetahui penyebab konstipasi pada anak, kini Ibu bisa lebih berjaga-jaga agar si Kecil tidak mengalami konstipasi. Untuk mendukung perut hebat si Kecil, Ibu juga bisa mengunjungi tummypedia untuk mengecek kondisi pup si Kecil dengan detektor pup, mengecek asupan serat dan nutrisinya dengan kalkulator nutrisi tummypedia. Hasilnya bisa diunduh dan dikonsultasikan kepada dokter. Praktis dan mudah, ya, Bu!

Saatnya mulai mempraktikkan cara-cara di atas dalam kehidupan sehari-hari bersama anak, yuk, Bu. Sambil mempraktikkannya, Ibu juga bisa lengkapi kebutuhan nutrisi anak dengan memberikan susu pertumbuhan Bebelac 4 setiap hari yang diperkaya dengan FOS:GOS 1:9, Triple A (DHA, LA, ALA), minyak ikan lebih tinggi, serta berbagai vitamin dan mineral lain yang diperlukan si Kecil.

Ternyata ada banyak cara mengatasi sembelit pada anak yang bisa dilakukan di rumah ya, Bu. Semoga pencernaan si Kecil tetap terjaga dengan baik (happy tummy), sehingga mendukung daya pikirnya menjadi lebih kreatif (happy brain) serta mood-nya terjaga menjadi lebih menyenangkan (happy heart) agar membantu proses tumbuh kembangnya menjadi optimal.



Reference:

  1. Dr Muzal Kadim, SpA(K). (2015). Sembelit (Konstipasi) pada Anak. Retrieved from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sembelit-konstipasi-pada-anak [Accessed on April 20, 2020]
  2. I Xinias and A Mavroudi. (2015). Constipation in Childhood. An update on evaluation and management. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4574579/ [Accessed on April 20, 2020]
  3. I Xinias and A Mavroudi. (2015). Constipation in Childhood. An update on evaluation and management. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4574579/ [Accessed on April 20, 2020]
  4. Marilia Carabotti, Annunziata Scirocco, Maria Antonietta Maselli, Carola Severi. (2015). The gut-brain axis: interactions between enteric microbiota, central and enteric nervous systems. Retrieved fromhttps://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4367209/ [Accessed on April 20, 2020]
  5. Nadeem A Afzal, Mark P Tighe, Mike A Thomson. (2011). Constipation in children. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3143086/ [Accessed on April 20, 2020]
  6. Dr Muzal Kadim, SpA(K). (2015). Sembelit (Konstipasi) pada Anak. Retrieved from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sembelit-konstipasi-pada-anak [Accessed on April 20, 2020]
  7. Muzal Kadim. (2017). Gangguan Pencernaan pada Bayi. Retrieved from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-2 [Accessed on April 21, 2020


Artikel Terkait