Kembali ke Pencernaan & Alergi

Penyebab Anak Muntah dan Cara Tepat Mengatasinya

Melihat anak muntah pasti membuat Ibu bingung dan khawatir. Alhasil, pasti Ibu bertanya-tanya, kira-kira apa penyebab Si Kecil muntah, y...

4 min
02 Feb 2022

Artikel ini belum diulas

Melihat anak muntah pasti membuat Ibu bingung dan khawatir. Alhasil, pasti Ibu bertanya-tanya, kira-kira apa penyebab Si Kecil muntah, ya? Jangan panik Bu, yuk kita kupas tuntas semua kemungkinan penyebab muntah pada anak dalam artikel ini!

Setelah mencermati penyebabnya, penting juga bagi Ibu untuk mengetahui cara mengatasinya dan mengenali tanda-tanda muntah pada anak yang memerlukan pertolongan dari dokter. Yuk, disimak!

Apa Penyebab Anak Muntah?

Sebenarnya, ketika anak sesekali muntah adalah hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan kok, Bu. 

Meski begitu, Ibu tetap perlu mengetahui penyebab muntah pada anak supaya bisa mengantisipasi kemungkinannya terjadi lagi di kemudian hari.

Berikut ulasan selengkapnya, Bu: 

1. Alergi Makanan

Jika anak muntah, coba Ibu perhatikan makanan atau minuman apa yang baru saja dikonsumsi Si Kecil? Sebab, bisa jadi muntah pada anak disebabkan oleh alergi makanan. 

Alergi makanan pada anak lebih banyak dialami ketimbang orang dewasa. Hal Ini terjadi karena sistem kekebalan mereka belum sempurna. 

Zat pemicu alergi (alergen) yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh, oleh sistem imun disalahartikan sebagai zat berbahaya. Maka, muncullah respon berupa reaksi atau gejala alergi. 

Selain muntah-muntah, biasanya ada beberapa gejala alergi lain yang sering menyertai, yaitu:

  • Ruam atau gatal-gatal pada kulit.

  • Hidung meler.

  • Kesulitan bernapas atau asma.

  • Kolik, perut kembung, dan sakit perut.

  • Diare.

  • Konstipasi atau sembelit. 

Baca Juga: Anak Alergi Susu Sapi? Susu Soya Bisa Jadi Alternatif!

2. Gastroenteritis atau Flu Perut

Penyebab anak muntah yang paling umum adalah gastroenteritis atau flu perut. Mungkin, Ibu lebih familiar dengan istilah muntaber.

Kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri yang juga menjadi penyebab diare pada anak

Muntah akibat muntaber pada anak biasanya berlangsung kurang dari 24 jam dan akan cepat membaik dalam beberapa hari. Selain muntah, Si Kecil bisa saja mengalami gejala lain, seperti mual, sakit perut, dan diare. 

3. Keracunan Makanan

Selain alergi makanan, keracunan makanan ternyata juga bisa menjadi penyebab umum anak muntah, lho!

Keracunan makanan biasanya terjadi akibat makanan yang terkontaminasi oleh bakteri atau virus. 

Anak Ibu bisa mengalaminya setelah mengonsumsi makanan yang diolah dengan tidak higienis, tidak dimasak hingga matang, atau tidak disimpan dengan benar. 

Gejala keracunan makanan mirip dengan gastroenteritis, tetapi cenderung lebih parah. Jika Ibu mencurigai penyebab anak muntah akibat keracunan makanan, segera bawa si Kecil ke klinik atau rumah sakit terdekat guna mencegah risiko dehidrasi. 

4. Radang Usus Buntu atau Apendisitis

Pada beberapa kasus, penyebab anak muntah bisa karena radang usus buntu atau apendisitis. Kondisi ini kerap memunculkan rasa sakit pada area pusar yang bergerak ke perut bagian kanan bawah. 

Selain muntah, radang usus buntu dapat menyebabkan anak demam, sakit perut parah, merasa tidak nyaman saat berdiri atau duduk, dan sakit saat bergerak. 

Perlu diketahui juga, Bu, bahwa radang usus buntu termasuk kondisi medis yang darurat. Jadi bila si Kecil memiliki usus buntu, jangan ragu untuk membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin. 

5. Infeksi Penyakit Lainnya

Anak muntah juga bisa menjadi tanda adanya infeksi penyakit lain pada tubuh Si Kecil, lho, Bu. Misalnya, infeksi saluran kemih (ISK) hingga meningitis. 

Jika penyebab muntah pada anak disebabkan oleh infeksi, biasanya akan disertai dengan gejala lain, seperti demam, lesu, mual, diare, mual, atau pusing. 

Baca Juga: Ragam Nutrisi Anak agar Pencernaan Si Kecil Baik

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Muntah?

Bila anak muntah, Ibu tak perlu khawatir. Hal yang paling utama adalah untuk Ibu bisa tetap tenang di hadapan anak. Jika Ibu tenang, anak juga akan ikut merasa tenang sehingga tidak lagi menganggap kondisinya menakutkan.

Kemudian, Ibu bisa ikuti cara berikut ini untuk mengatasi muntah pada anak:

1. Istirahatkan Perut Si Kecil

Setelah anak muntah, Ibu jangan terburu-buru memberinya minum atau makanan. Mungkin Ibu merasa dengan ini anak bisa kembali mengisi ulang nutrisi atau cairan tubuh yang hilang. 

Akan tetapi, baiknya beri jeda dulu sekitar 30-60 menit setelah ia muntah sebelum memberikannya asupan apa pun. Tujuannya, untuk memberi kesempatan bagi perut anak bisa pulih sepenuhnya. 

Selain itu, menurut dokter anak Matthew Goldman, MD, sebetulnya wajar apabila anak menjadi tidak nafsu makan sesaat setelah muntah. Maka jangan paksakan si kecil untuk makan apa pun dulu setelah ia muntah. 

2. Berikan Air Putih

Setelah anak muntah, Ibu tetap harus pastikan si Kecil tidak mengalami dehidrasi. Ingat, Bu, muntah-muntah bisa menyebabkan tubuh anak kehilangan banyak cairan. Jika tidak segera diganti, anak bisa makin merasa lemas dan tidak enak badan.

Tapi, ada baiknya untuk beri jeda waktu sekitar 30-60 menit setelah anak muntah sampai ia merasa tenang sebelum memberikan air putih hangat.

Tunggu sampai Si Kecil merasa cukup baikan untuk minum, dan jangan memaksanya untuk minum saat ia masih merasa mual dan tidak enak badan. Jangan pula membangunkannya untuk minum bila Si Kecil sedang tidur.

Cara memberikan minum setelah anak muntah-muntah juga perlu diperhatikan, ya, Bu! Pertama-tama, cobalah berikan 1 sendok teh air air putih tiap 5-10 menit setelah muntah. Bila ia masih memuntahkan cairan, tunggu setidaknya 30 menit lagi. Kemudian, coba mulai lagi dengan mengurangi jumlah airnya dan berikan setiap 5-10 menit. 

Secara perlahan, perbanyak jumlah air putih untuk Si Kecil setelah ia tidak lagi muntah-muntah selama 3-4 jam. 

3. Berikan cairan lain

Setelah perutnya agak baikan, Ibu bisa membuat larutan rehidrasi oral atau cairan oralit untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang karena anak muntah-muntah. 

Selain itu, Ibu bisa memberikan si Kecil susu tinggi serat seperti Bebelac Gold yang sudah dilengkapi dengan prebiotik FOS:GOS 1:9. Prebiotik adalah jenis serat tak larut yang baik untuk sistem pencernaan anak.

Prebiotik menjaga perut si Kecil tetap sehat (happy tummy) dengan membantu mengendalikan kuman-kuman berbahaya penyebab masalah pencernaan, seperti bakteri penyebab muntah.

Prebiotik juga membantu meningkatkan penyerapan nutrisi yang optimal bagi anak-anak, Bu, sehingga ia bisa kembali bertenaga setelah lemas karena muntah-muntah.

Hindari memberikan minuman olahraga atau minuman manis yang mengandung banyak gula karena justru dapat memperburuk gejala.

3. Berikan Makanan Padat

Jika Si Kecil mulai merasa lapar dan meminta makanan, Ibu bisa memberikan sedikit makanan bertekstur padat. Misalnya, biskuit cracker atau sereal kering. Ibu juga dapat memberikan makanan mengandung karbohidrat kompleks, seperti kentang, nasi, atau roti.

Hindari memberikan Si Kecil makanan berminyak, berlemak, atau pedas selama beberapa hari sampai ia bisa pulih sepenuhnya.

4. Berikan Obat

Apabila anak muntah dan demam, Ibu bisa membawa Si Kecil ke dokter. Dokter mungkin akan memberikan obat sesuai dengan kondisi Si Kecil dokter. Umumnya, obat yang dijual bebas di apotek seperti paracetamol bisa membantu meredakan gejala demam yang dialami. 

Dokter mungkin juga meresepkan obat supositoria jika anak masih muntah. Namun, hindari memberikan aspirin untuk Si Kecil. 

Penggunaan aspirin untuk mengobati demam pada anak bisa berisiko menyebabkan kondisi serius yang disebut sindrom Reye. Selain itu, ibuprofen juga tidak disetujui penggunaannya untuk anak di bawah usia 6 bulan. 

Baca Juga: Tips Cegah Gangguan Pencernaan pada Anak

Kapan Anak Muntah-Muntah Perlu Diwaspadai?

Pada umumnya, anak muntah bukan merupakan kondisi yang membahayakan. Akan tetapi, Ibu perlu segera membawa Si Kecil ke dokter apabila ia mengalami gejala sebagai berikut:

  • Demam tinggi.

  • Muntah berdarah.

  • Muntah berwarna kehijauan atau kecokelatan (dengan lendir).

  • Muntah beberapa kali dalam kurun waktu 1 jam.

  • Nyeri pada perut.

  • Adanya keluhan ruam dan sakit kepala.

  • Tampak lesu, pucat, mata anak cekung.

  • Ada tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, bibir pecah-pecah, sering mengantuk, menangis tidak mengeluarkan air mata, hingga anak jarang pipis.

  • Anak tidak mau makan dan minum, serta memuntahkan apa yang ia konsumsi.

  • Kondisi anak tidak kunjung membaik.

Dokter akan memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi Si Kecil. 

Selain itu, jangan lupa Ibu tetap perlu mendukung kesehatan saluran cernanya tiap hari. Sebab, sistem pencernaan yang baik dapat menentukan tumbuh kembang optimalnya.

Bu, kalau ingin tahu lebih banyak lagi seputar tumbuh kembang dan pencernaan anak? Yuk, daftar di Bebeclub! Di sini, Ibu juga bisa dapatkan berbagai aktivitas stimulasi kreatif untuk dukung anak tumbuh hebat.
 

*direview oleh dr. Tania Savitri


Referensi

  1. Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/vomit.html. Diakses pada 16 Agustus 2022.
  2. Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/food-poisoning.html. Diakses pada 16 Agustus 2022.
  3. Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/vomiting-sheet.html. Diakses pada 16 Agustus 2022.
  4. Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/abdominal/Pages/Infant-Vomiting.aspx. Diakses pada 16 Agustus 2022.
  5. Fair View. https://www.fairview.org/patient-education/89539. Diakses pada 16 Agustus 2022.
  6. Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/why-your-child-vomits-and-when-to-see-a-doctor/. Diakses pada 16 Agustus 2022.
  7. Pregnancy Birth Baby. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/vomiting-in-children. Diakses pada 16 Agustus 2022.
  8. Health Direct. https://www.healthdirect.gov.au/vomiting-in-children. Diakses pada 16 Agustus 2022.
  9. NHS Inform. https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/stomach-liver-and-gastrointestinal-tract/vomiting-in-children-and-babies. Diakses pada 16 Agustus 2022.

 



Artikel Terkait