Kembali ke Ibu Perlu Tahu

4 Penyebab Kolik pada Bayi yang Umum Terjadi

Melihat bayi kolik rasanya pasti membuat bikin hati cemas ya, Bu? Namun, jangan panik jika ini terjadi pada si Kecil! Kolik sebenarnya ...

4 min
11 May 2022

1 ibu tandai artikel ini bermanfaat

Melihat bayi kolik rasanya pasti membuat bikin hati cemas ya, Bu? Namun, jangan panik jika ini terjadi pada si Kecil!

Kolik sebenarnya umum terjadi pada bayi yang baru lahir. Akan tetapi, kolik memang tidak boleh terus dibiarkan. Sebab, bayi tentu akan makin rewel dan kecapekan kalau dibiarkan menangis terus. 

Nah supaya bisa cepat teratasi, ibu harus tahu dulu ciri dan penyebab kolik pada bayi.

Baca Juga: Kolik Adalah Keadaan Si Kecil Menangis Terus: Simak Tips Ini!

Yuk, simak artikelnya!

Apa Itu Kolik?

Kolik adalah kondisi ketika bayi menangis berjam-jam tanpa alasan yang jelas dan sulit ditenangkan.

Kolik umum terjadi pada bayi yang berusia 2 minggu sampai 4 bulan,5 dan akan memuncak paling intens di minggu ke-6. 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kolik sebenarnya adalah hal yang umum dialami bayi. Kira-kira ada 1 dari 4 bayi baru lahir yang bisa mengalami kolik.8

Apakah Kolik pada Bayi Berbahaya?

Kolik pada bayi tidak berbahaya, kok Bu, dan tidak juga dianggap sebagai gangguan kesehatan.1 

Kolik juga bukanlah kondisi yang permanen. Umumnya kolik akan menghilang dengan sendirinya ketika usia bayi menginjak 4 bulan. 9

Para ahli mengatakan kolik tidak berdampak jangka panjang pada tumbuh kembang bayi.10

Apa Ciri-Ciri Kolik pada Bayi?

Setiap bayi pasti rewel dan menangis, terutama di 3 bulan pertama usianya. Akan tetapi, Ibu mungkin belum tahu bagaimana caranya membedakan tangisan bayi biasa dengan tangisan karena kolik.

Cara paling mudah untuk bisa tahu apakah bayi menangis karena kolik atau bukan adalah dari kondisinya.

Bayi menangis bisa jadi karena kolik ketika ia sebenarnya tampak sehat dan tidak mengalami tanda-tanda atau gejala penyakit seperti demam yang biasanya bikin rewel.1

Kemudian, perhatikan berapa lama tangisannya, Bu.

Kolik ditandai dengan tangisan kencang yang sulit ditenangkan selama 3 jam atau lebih dalam sehari. Kolik juga biasanya terjadi 3 kali seminggu selama 3 minggu atau lebih.11 

Beberapa ciri-ciri kolik pada bayi yang juga umum adalah:

  • Wajah bayi memerah

  • Kedua kaki dan tangan terangkat tegang ke atas perut dengan mengepalkan tinju.

  • Si Kecil terlihat melengkungkan punggung.2

Kolik pada bayi umumnya juga terjadi pada sore sampai malam hari menjelang waktu tidur tanpa penyebab yang jelas.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Bayi Menangis dan Penyebabnya

Apa Penyebab Kolik pada Bayi?

Hingga saat ini, penyebab kolik masih belum dapat diketahui secara pasti. Tapi, ada beberapa penyebab umum yang diduga memicu kondisi ini. Apa saja?

1. Kondisi kesehatan tertentu

Kolik umumnya bukan karena bayi sakit. Namun meski jarang, kolik juga bisa disebabkan oleh masalah kesehatan tertentu. Hanya kurang dari 10% kasus kolik pada bayi yang diakibatkan oleh penyakit.1

Masalah kesehatan ini diduga berasal dari saluran pencernaan. Bisa berupa sembelit, alergi, intoleransi laktosa, hingga infeksi lain yang disebabkan oleh virus maupun bakteri.3

Menurut IDAI, pada sebagian bayi kolik bisa disebabkan oleh alergi susu sapi.5

Supaya lebih yakin, bawalah si kecil ke dokter untuk memastikan apakah penyebab kolik pada bayi benar akibat penyakit atau hal lainnya. Jika setelah pemeriksaan tak ditemukan bukti bahwa si Kecil mengalami masalah kesehatan, dokter biasanya hanya menyarankan agar bayi ditenangkan atau dibuat nyaman saat kolik.

2. Perut bayi tidak nyaman

Selain karena masalah pencernaan, penyebab kolik pada bayi juga mungkin disebabkan oleh kondisi perut si Kecil.

Bayi seringkali kolik karena perutnya kembung, lapar, atau justru terlalu kenyang.9 Jadi, Ibu bisa coba sering-sering membuat bayi sendawa ketika dan setelah menyusui.

Bila Ibu menyusui ASI lewat botol, posisikan bayi menyusu dalam posisi tegak untuk membantu mengurangi penumpukan gas di dalam perutnya.9

Baca Juga: 20 Cara Mengatasi Perut Kembung Pada Bayi

3. Lingkungan yang tidak nyaman

Kolik juga bisa terjadi karena si Kecil sensitif terhadap lingkungan sekitarnya. Misalkan, cahaya yang terang, suara yang kencang, dan berbagai hal baru lainnya.

Sebab, kini ia sudah berada di lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan di dalam rahim Ibu.

berada dalam lingkungan yang tidak nyaman, misalnya ruangan yang terlalu dingin atau panas.

Cobalah bawa bayi ke ruangan yang lebih sepi dan tenang. Pindahkan dulu si Kakak atau binatang peliharaan di ruangan lain supaya ia bisa merasa nyaman.

Ibu juga bisa memainkan video dengan suara-suara white noise yang menenangkan seperti suara ombak, suara jangkrik, atau suara hujan. Bisa juga dengan memperdengarkan suara ritmik menenangkan lainnya yang ada di rumah, seperti suara mesin cuci atau suara kipas angin.8,12 

Kemudian, coba untuk redupkan pencahayaan kamar tidur bayi atau matikan lampu, dan hindari bau-bau menyengat.

Tepuk-tepuklah punggung bayi dengan lembut dan timang-timang agar ia merasa nyaman di pelukan Ibu. Tapi, jangan menggoyang-goyangkan bayi terlalu keras, ya!3,12

4. Faktor psikologis

Menjadi ibu baru mungkin memang melelahkan. Tapi, jangan biarkan tekanan ini mempengaruhi pengasuhan Ibu pada si Kecil. Pasalnya, orang tua yang stres bisa jadi salah satu alasan si Kecil sering menangis.6,9,12

Maka, sebaiknya Ibu coba untuk menenangkan diri lebih dulu.

Alih-alih menenangkan bayi, orang tua yang frustrasi dapat secara tidak sengaja menyakiti bayi, misalnya dengan menepuk atau menggoyangkan bayi terlalu keras.12

Taruh bayi di dalam boksnya dan ayun-ayunkan sekitar 5-10 menit, kemudian menjauh sejenak untuk menenangkan diri.

Ibu dapat meminta tolong pasangan atau anggota keluarga yang lain untuk bergantian mengawasi bayi.

Ketika Ibu sudah agak tenang, yuk peluk anak untuk membuatnya jadi lebih nyaman!

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Kolik pada Bayi dan Tips Mencegahnya

Kalau semua cara sudah dilakukan tapi kurang manjur, cara orang tua zaman dulu juga bisa Ibu coba.

Misalnya dengan membuat ayunan dengan mengikat kain lebar di antara dua tiang. Letakkan si Kecil di atas kain, goyangkan pelan-pelan sambil nyanyikan lagu nina bobo.7 Namun tentu Ibu harus memastikan kain sudah terikat kuat, ya.

Bila perlu, Ibu bisa mengajak si Kecil naik mobil mengelilingi kompleks perumahan. Ayunan lembut di dalam mobil biasanya akan membuat si Kecil berhenti menangis dan kemudian tertidur.7

Nah, itulah cara mengatasi penyebab kolik pada bayi dan ciri-cirinya yang Ibu bisa perhatikan di rumah.

Jangan lupa terus pantau tumbuh kembang si Kecil lewat BebeJourney. Di sini ada berbagai fitur edukatif dan menarik untuk mendukung si Kecil tumbuh hebat.

Semoga artikel ini dapat membantu, ya, Bu!

 

*Direview oleh: dr. Tania Savitri

Terakhir diperbarui: 12 Agustus 2022


Sumber:

  1. Valerie Sung. 2018. Infantile Colic. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6091773/ [Diakses Oktober 2021]

  2. Michelle M. Karten. 2019. What is Colic? Diambil dari: https://kidshealth.org/en/parents/colic.html [Diakses Oktober 2021]

  3. Amy A. Gelfand. 2015. Infant Colic. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4809021/ [Diakses Oktober 2021]

  4. IDAI. 2015. Kembung pada Anak. Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kembung-pada-anak [Diakses Oktober 2021]

  5. Agus Firmansyah. 2015. Kolik pada Bayi (Bagian 1). Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-1 [Diakses Oktober 2021]

  6. Siel Daelemans, et al. 2018. Recent advances in understanding and managing infantile colic. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6134333/ [Diakses Oktober 2021]

  7. Agus Firmansyah. 2015. Kolik pada Bayi (Bagian 2). Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-2 [Diakses Oktober 2021]

  8. Colic. (2019, November 19). Hopkinsmedicine.org. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/colic ‌[Diakses Juli 2022]



 
alt

Kenali apa itu

Kalkulator Nutrisi

Cek nutrisi si Kecil yuk! Sudah sesuaikah dengan kebutuhannya?

Artikel Terkait