Kembali ke Ibu Perlu Tahu

6 Cara Mengatasi Pilek Pada Bayi dan Jurus Rahasia Antisipasi Penyebabnya

Tahukah Ibu, ternyata anak di bawah 2 tahun bisa mengalami pilek atau common cold hingga 6 kali dalam setahun. Untungnya seiring bertamb...

4 min
11 Apr 2022
Apa ya yang harus dilakukan untuk mengatasi pilek pada bayi?

Artikel ini belum diulas

Tahukah Ibu, ternyata anak di bawah 2 tahun bisa mengalami pilek atau common cold hingga 6 kali dalam setahun. Untungnya seiring bertambah usia, akan semakin jarang pula frekuensinya.1 Tapi, memang tidak tega, ya, kalau si Kecil yang masih bayi mengalami pilek. Apalagi kalau sampai napasnya berbunyi. Pasti Ibu pun ingin tahu, bagaimana cara mengatasi pilek pada bayi. Yuk, kita simak penjelasannya. 

Penyebab Napas Bunyi pada Bayi  

Ibu mungkin menyadari, napas si Kecil berbunyi seperti bunyi dengkuran ketika ia pilek. Nah, ini biasanya muncul akibat hidung tersumbat. Akibat sumbatan, saluran napas jadi menyempit, sehingga udara sulit untuk keluar-masuk. Akhirnya muncullah bunyi seperti mendengkur.2

Hidung tersumbat sendiri, bisa terjadi karena pembuluh darah dan jaringan pada rongga hidung dipenuhi cairan. Ini bisa dipicu oleh pilek akibat infeksi virus maupun bakteri, ataupun alergi. Untuk mengantisipasi penyebab pilek, penting untuk menjaga asupan nutrisi si Kecil, serta memastikannya mendapat cukup vitamin D yang penting untuk imunitas tubuh.3,4

Ibu juga bisa belajar cara mengatasi pilek pada bayi, untuk mencegah napas berbunyi akibat hidung mampet. Berikut ini beberapa hal yang bisa Ibu lakukan di rumah. 

6 Cara Mengatasi Pilek pada Bayi

Cara mengatasi pilek pada bayi cukup beragam. Ada baiknya mempelajari dulu plus minus serta cara melakukannya dengan tepat, agar hasilnya maksimal dan si Kecil terhindar dari risiko lain. Yuk, Bu, kita sama-sama belajar.

1. Berjemur di bawah sinar matahari

Ibu bisa mengajak si Kecil berjemur untuk meningkatkan imunitasnya dan mengatasi infeksi penyebab pilek.

Bukan rahasia lagi kalau vitamin D penting untuk mencegah peradangan dan infeksi. Salah satu sumber vitamin D alami, tentu saja sinar matahari, khususnya UVB. Tapi perlu Ibu perhatikan, bayi hanya membutuhkan UVB dalam kadar rendah. Jadi sebaiknya, hindari membawa si Kecil berjemur antara pukul 10 pagi hingga 3 sore, karena pada waktu tersebut, radiasi UVB sangat tinggi. Tidak perlu terlalu lama berada di bawah sinar matahari, cukup sekitar 5 menit saja.4,5

Saat berjemur, jangan lupa pakaikan topi dan baju untuk melindungi kulit si Kecil dari paparan sinar matahari yang berlebihan. Yang penting, kedua lengan dan kaki bayi terkena matahari.5

2. Menjaga kelembaban rongga hidung bayi

Menguapkan bayi dengan nebulizer, tentu harus dengan rekomendasi dokter, ya, Bu. Nah, yang bisa Ibu lakukan di rumah adalah menjaga kelembaban rongga hidung bayi dengan menyalakan humidifier. Ibu bisa memasang humidifier di dekat bayi saat ia tidur atau bermain, tapi pastikan jauh dari jangkauannya ya, Bu. jangan lupa untuk mengganti airnya setiap hari, dan membersihkan alat secara berkala.3

3. Mengeluarkan lendir

Tenang Bu, ini tidak dilakukan dengan cara menyedot lendir atau ingus langsung menggunakan mulut, seperti yang dulu biasa dilakukan oleh orangtua kita. Untuk mengeluarkan ingus bayi, Ibu bisa menyemprotkan atau meneteskan cairan NaCl yang bisa dibeli di apotek, ke hidung bayi. Tujuannya untuk mengencerkan ingus di hidung. Saat meneteskan NaCl, cukup 2 tetes saja, ya, Bu. Untuk memastikan NaCl masuk ke rongga hidung, Ibu bisa meletakkan gulungan handuk di bawah bahu bayi, sehingga Ibu bisa mendorong kepala bayi dengan lembut ke belakang.3

Setelah itu, masukkan alat penyedot yang berbentuk seperti balon ke rongga hidung si Kecil. Tapi sebelumnya, tekan dulu balonnya agar udara di dalamnya keluar, ya Bu. Begitu Ibu melepaskan tekanan, balon pun akan menarik ingus yang ada di sekitarnya.5

4. Mencuci hidung

 

Ternyata, cuci hidung bisa sangat membantu bayi yang sedang pilek. Cairan infus NaCl yang disemprotkan ke hidung akan melunakkan ingus dan membuatnya lebih mudah mengalir. Saat ingus dibuang keluar, zat-zat penyebab alergi dan peradangan pun ikut terbuang. Cairan juga akan membantu menjaga kelembapan di rongga hidung. Selain itu, ion-ion dalam NaCl juga membantu mengurangi peradangan dan mencegah kerusakan sel.6

Cuci hidung dilakukan dengan menyemprotkan NaCl ke rongga hidung bayi. Bisa menggunakan alat khusus, atau menggunakan alat suntik tanpa jarum, ke salah satu rongga hidung. Ketika cairan disemprotkan, cairan dan ingus pun akan mengalir melalui rongga hidung sebelahnya.6 Ibu bisa meminta kepada dokter untuk mengajarkan cara melakukan cuci hidung, agar merasa lebih aman saat melakukannya.

5. Meninggikan posisi kepala bayi

Meninggikan posisi kepala bayi sehingga lebih tinggi dari kakinya saat tidur, bisa membantu mengeluarkan ingus dari sinus. Ibu bisa meletakkan bantal atau gulungan di bawah kepala bayi. Namun hati-hati jangan sampai bantal menutupi wajah si Kecil, ya, Bu. Karena itu, tidak disarankan melakukan hal ini bila si Kecil tidur di boks bayi.3

6. Banyak minum

Cairan akan membantu mengencerkan ingus. Doronglah si Kecil untuk minum lebih banyak saat ia pilek. Tapi, jangan sampai memaksanya, ya Bu. Ibu bisa memberinya minum sedikit setiap beberapa waktu, atau memberinya jus buah buah buatan sendiri agar ia mau minum lebih banyak. Bila si Kecil masih mendapat ASI eksklusif, Ibu bisa menyusuinya lebih sering.3

Itulah 6 cara mengatasi pilek pada bayi yang bisa Ibu lakukan di rumah. Bila pilek si Kecil makin menjadi, jangan ragu untuk membawanya ke dokter, ya Bu.

 


Referensi:

  1. G Michael Allan, Bruce Arroll. (2014). Prevention and treatment of the common cold: making sense of the evidence. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3928210/
  2. Abby R Nolder, Gresham T Richter. (2015). The Infant with Noisy Breathing. Diambil dari https://link.springer.com/article/10.1007/s40746-015-0025-5
  3. Heidi Godman. (Diulas secara medis oleh Dan Brennan, MD, 2016). How to Treat Your Baby’s Stuffy Nose. Diambil dari webmd.com/children/features/help-child-stuffy-nose
  4. Natharina Yolanda. (2016). Perlukah Suplemen Vitamin D?  Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perlukah-suplemen-vitamin-d
  5. R Adhi Teguh P Iskandar. (2015). Menjemur Bayi dengan Tepat. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/menjemur-bayi-dengan-tepat 
  6. Dimas Dwi Saputro. 2017. Amankah Tindakan Cuci Hidung pada Anak? Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/amankah-tindakan-cuci-hidung-pada-anak


Artikel Terkait