anak tantrum

6 Penyebab Anak Tantrum dan Cara Menghadapinya

detail-fb detail-wa detail-twitter

Mungkin hampir semua Ibu pernah menghadapi anak tantrum, ya. Perilaku ini biasanya muncul di usia 2-3 tahun, Bu, meski bisa pula tampak sejak usia 1 tahun. Tak perlu terlalu panik dan langsung berpikir bahwa ada yang tak beres pada si Kecil, Bu. Kondisi ini normal, kok. Mungkin Ibu langsung berpikir langkah apa ya yang harus dilakukan saat mengadapi anak tantrum? Apakah time-out sesekali diperlukan? Namun sebelum melangkah kesana, kenali dulu penyebabnya agar bisa diatasi secara lebih bijak.

5 Penyebab Anak Tantrum

Ada berbagai faktor yang membuat anak tiba-tiba melampiaskan emosinya dalam bentuk tantrum. Bisa jadi karena ia kecapekan, lapar, tidak nyaman, merasa tubuhnya tidak enak atau sakit, bisa pula karena rasa kecewa atau frustasi.

Rasa tidak nyaman di perut akibat masalah pencernaan juga bisa lho, Bu, membuat si Kecil rewel. Salah satu cara yang bisa Ibu lakukan untuk menjaga kesehatan pencernaan si Kecil adalah dengan nutrisi yang diberikan lewat makanan yang tinggi serat, seperti buah-buahan dan sayur. Sebagai tambahan nutrisi, Ibu bisa memberikan si Kecil segelas susu Bebelac 3 yang mengandung FOS GOS 1:9 minyak ikan, 13 vitamin, dan 9 mineral. Dengan pencernaan yang baik, diharapkan juga akan membuat mood si Kecil lebih baik dan bisa berpikir lebih optimal.

Kemungkinan lain, tantrum adalah cara si Kecil untuk mendapatkan keinginannya secara instan, atau menghindari hal yang tidak ingin dilakukannya. Biasanya, hal ini dilakukan oleh balita berusia 3-5 tahun atau anak yang lebih besar.

Anak tantrum itu normal kok, Bu, khususnya pada batita. Bahkan, diperkirakan, sekitar 20% batita tantrum setidaknya sekali sehari1. Sebabnya, di usia ini ia mulai bisa berkomunikasi, tapi kemampuannya masih terbatas. Ia belum bisa mengungkapkan dengan jelas apa yang diinginkan, dibutuhkan, atau dirasakannya, sehingga menjadi kesal sendiri. Akhirnya muncullah tantrum2. Seiring usianya bertambah, dan kemampuan bahasanya makin baik, frekuensi tantrum biasanya pun makin berkurang. Nah, apa ya yang harus dilakukan oleh Ibu, terutama jika tiba-tiba si Kecil cranky?

6 Penyebab Anak Tantrum

1. Faktor ketakutan

Ketakutan bisa menjadi salah satu penyebab anak tantrum. Misalnya, anak takut dengan hewan tertentu. Hal ini bisa diatasi dengan bantuan orang tua. Sebaiknya, orang tua memikirkan cara mengendalikan rasa takut anak.

2. Lingkungan

Penyebab tantrum bisa karena lingkungan di sekitar balita terlalu berisik, terlalu sempit, atau terlalu banyak warna. Jika anak tantrum disebabkan hal tersebut, buatlah lingkungan di sekitar anak senyaman mungkin.

3. Waktu

Perhatikan pada saat apa anak mengalami tantrum. Misalnya, Si Kecil tantrum saat Ibu dan Ayah pergi bekerja. Jika demikian, cobala Anda memberikan pemahaman terhadap anak.

4. Tidak Menyukai Orang di Sekitarnya

Salah satu penyebab tantrum bisa terjadi karena anak baru bertengkar dengan saudara atau teman mainnya. Hal ini bisa teratasi dengan sendirinya. Namun, jika berlangsung dalam beberapa hari, sebaiknya orang tua memberikan pemahaman kepada anak.

5. Orang Tua Kurang Konsisten

Tantrum bisa disebabkan oleh inkonsistensi orang tua. Misalnya, suatu hari ada saat di mana anak boleh bermain hujan. Namun, keesokan harinya anak tidak dibolehkan bermain hujan. Hal ini dapat menyebabkan anak tantrum. Untuk mengatasinya, pastikan orang tua memiliki sikap yang konsisten terhadap anak.

6. Kata-kata Orang Tua

Penyebab tantrum selanjutnya adalah adanya kata atau kalimat dari Ayah atau Ibu yang pernah menyakiti hati anak. Hal ini bisa diatasi dengan meminta maaf kepada anak.

Tenang dan Pahami 4 Langkah Efektif Menghadapi Anak Tantrum

Saat momen penting ini terjadi, mungkin rasanya bingung ya, Bu. Namun ternyata ini bisa diatasi dengan mengubah sedikit cara pandang. Anggaplah tantrum sebagai kesempatan untuk mengajarkan pengendalikan emosi, tak hanya kepada si Kecil tetapi juga pada diri kita sendiri.

Untuk itu, Ibu harus tetap tenang. Jika Ibu bertindak sedikit agresif dalam meminta si Kecil berhenti menangis, ia mungkin malah akan meniru Ibu untuk bertindak agresif juga. Tarik napas panjang, lalu ingatkan diri bahwa peran Ibu sangat penting dalam membantu si Kecil untuk tenang.

Sudah merasa sedikit tenang, Bu? Selanjutnya, lakukan 4 langkah ini, yuk!

Kenali kebutuhannya terlebih dahulu

Anak tantrum perlu dihadapi sesuai dengan penyebabnya. Bila penyebabnya karena ia mengantuk atau capek, Ibu bisa memeluk dan mengusap-usap punggungnya, atau menggendongnya, sehingga ia merasa nyaman. Bila penyebabnya karena lapar, Ibu bisa memberinya cemilan setelah ia tenang.

Tindakan mengacuhkan bisa Ibu gunakan bila si Kecil tantrum karena mencari perhatian, keinginannya tidak dituruti, atau ia tidak mau melakukan apa yang Ibu minta. Saat masih tantrum, Ibu tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengapa ia tidak bisa mendapat apa yang diinginkannya karena justru akan membuat anak lebih kesal dan cenderung berargumentasi lebih banyak . Lebih baik, alihkan perhatiannya dengan aktivitas lain, misalnya Ibu bisa membuat mimik wajah lucu untuk membuatnya tertawa dan lupa dengan marahnya. Saat marahnya sudah reda, baru Ibu bisa menasehati agar menghadapi hal-hal yang tidak sesuai keinginannya dengan lebih baik. Ajarkan pula jika tak semua yang diinginkannya harus didapatkan saat itu juga.

Gunakan nada netral

Katakan dengan tegas, namun gunakan nada netral ketika meminta si Kecil untuk berhenti menangis, mengamuk, atau melarangnya memukul atau menendang. Hindari nada tinggi atau teriakan ya, Bu.

Bila si Kecil tantrum di tempat umum, hal yang harus diutamakan adalah faktor keselamatannya. Ibu bisa memeluk si Kecil beberapa menit. Ini bisa membantu menenangkannya, serta menahannya berlari tak tentu arah, yang bisa membahayakan keselamatannya. Bawalah si Kecil ke tempat sepi untuk menenangkannya. Apalagi bila ia sampai membahayakan diri atau orang di sekitarnya saat mengamuk.

Jangan menyerah pada keinginan anak

Menuruti keinginan si Kecil saat ia tantrum tampaknya merupakan jalan paling mudah agar ia berhenti mengamuk. Namun hal ini dapat membuat si Kecil makin sering tantrum, untuk mendapatkan keinginannya. Untuk itu, pastikan Ibu selalu ada disampingnya dengan tetap tenang dan memberikan pengertian atau alternatif sebagai solusi dengan bahasa sederhana. Misalnya si Anak menangis karena ingin main gadget, Ibu tahu kamu sedih, tapi gimana kalau kita bermain mobil-mobilan yang udah lama tersimpan di kotak. Mainnya sama Ibu yuk!. Bersikap tegas juga kadang diperlukan, namun tetap sampaikan dengan tetap tenang ya, Bu.

Bila si Kecil tantrum karena tidak mau mengerjakan sesuatu yang Ibu minta, Ibu tetap perlu memintanya melakukan tugas itu sampai selesai, setelah ia tenang. Hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada si Kecil, dan ia belajar bahwa tidak ada alasan untuk mangkir dari tugas. Ibu boleh menawarkan bantuan, seandainya si Kecil kesulitan.

Konsisten dalam bertindak

Tak kalah penting, harus konsisten ya, Bu. Ibu perlu menunjukkan reaksi dan tindakan yang sama tiap kali si Kecil tantrum. Reaksi atau tindakan yang berbeda-beda, misalnya kadang Ibu menuruti keinginan si Kecil dan kadang tidak, akan membuatnya bingung. Si Kecil akan mudah tantrum, karena berharap Ibu akan menunjukkan reaksi seperti yang diinginkannya.

Pastinya, hindari 'main fisik’ pada si Kecil. Ini hanya akan memperburuk tantrumnya, serta membuat si Kecil berpikir bahwa tidak apa-apa menyakiti orang lain saat sedang kesal.

Apakah Time-out Diperlukan?

Time out adalah tindakan untuk memberi si Kecil waktu dan ruang untuk duduk menyendiri selama beberapa waktu. Metode ini bisa digunakan ketika tantrum si Kecil makin menjadi. Namun, sebaiknya tidak terlalu sering ya, Bu, karena bisa membuatnya jadi tidak efektif.

Cara menerapkannya bisa dengan mendudukkan si Kecil di kursi ruang tamu. Berapa lama? Teorinya yakni 1 menit time-out untuk tiap usia. Jadi misalkan usia si Kecil 2 tahun, maka beri time-out selama 2 menit; 3 menit bila usianya 3 tahun; dan seterusnya.

Bila si Kecil berjalan-jalan sebelum waktu time-out habis, kembalikan ia ke tempat semula. Saat si Kecil sudah tenang, Ibu bisa menjelaskan dengan singkat mengapa Ibu memberinya time-out, dan mengapa tindakannya tadi tidak sepatutnya dilakukan. Setelah itu, Ibu bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Mengatasi anak tantrum memang gampang-gampang susah, Bu. Saat menghadapinya, tenang dan coba praktikkan 4 langkah di atas. Semangat ya, Ibu pasti bisa!


Referensi

  1. Laura L. Sisterhen, Paulette Ann W. Wy. (update terakhir 2020). Temper Tantrums. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544286/ [Diakses 25 Juni 2021]
  2. Kids Health. (2018). Temper Tantrums. Diambil dari https://kidshealth.org/en/parents/tantrums.html [Diakses 25 Juni 2021]
  3. Mayo Clinic. (2020). Temper tantrums in toddlers: How to keep the peace. Diambil dari https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/tantrum/art-20047845 [Diakses 25 Juni 2021]