anak hebat, perkembangan emosi anak

Menjadikan Anak Hebat, Melatih Perkembangan Emosi Anak

detail-fb detail-wa detail-twitter

Apa sih yang menjadikan anak hebat? Ternyata kecerdasan intelegensia (IQ) saja tidak cukup, lho, Bu. Agar sukses di masa depan, si Kecil juga memerlukan kecerdasan emosi (EQ) yang baik. Studi menemukan, orang dengan EQ yang baik cenderung memiliki hubungan yang lebih baik, dan lebih sensitif terhadap perasaan orang lain. Karena itu selain merangsang kemampuan kognitif si Kecil, kita juga perlu melatih perkembangan emosi anak1.

Anak Hebat = IQ dan EQ Seimbang

Perlu IQ dan EQ yang sama baiknya agar si Kecil tumbuh jadi anak hebat. Ya, perkembangan emosi anak sama pentingnya dengan intelegensianya. EQ bisa diartikan sebagai kemampuan mengenali dan mengatur emosi diri sendiri dan orang lain1. Sejak pertama kali dikemukakan pada 19852, pengertian tentang kecerdasan emosi terus berkembang. Secara umum, EQ meliputi lima hal: kemampuan intrapersonal, kemampuan interpersonal, kemampuan beradaptasi, kemampuan mengelola stres, dan suasana hati atau mood yang baik1.

Melatih Perkembangan Emosi Anak

Semua orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang sukses di kemudian hari. Menurut studi, orang dengan kecerdasan emosi yang baik umumnya lebih sukses dalam pekerjaaannya3.

Seperti halnya kecerdasan kognitif, kecerdasan emosi pun perlu distimulasi sedini mungkin. Ada beberapa cara melatih perkembangan emosi anak yang bisa dilakukan di rumah:

 

Gunakan Mood Meter

Mood meter adalah cara sederhana untuk mengukur suasana hati. Gambarlah garis horizontal (sumbu X) dan vertikal (sumbu Y) yang berpotongan, hingga tercipta empat ruang yang saling bersisian. Garis horizontal menunjukkan tingkat kenyamanan, sedangkan garis vertikal mewakili energi.

Lalu, buatlah titik di sepanjang kedua garis tadi, yang menunjukkan angka -5 hingga +5. Nilai -5 pada sumbu X berarti sangat sedih, dan nilai +5 mewakili perasaan yang sangat senang. Pada sumbu Y, nilai -5 berarti energi yang sangat terkuras, dan nilai +5 sangat berenergi4.

Selanjutnya, warnai keempat ruang untuk mewakili masing-masing perasaan.

Beri warna merah pada bagian kiri atas, yang mewakili rasa marah. Warna kuning di kanan atas mewakili perasaan gembira. Hijau di kanan bawah berarti tenang, dan biru di kiri bawah menunjukkan rasa sedih4.

Latih si Kecil menggunakan mood meter. Misalnya ketika ia sedih karena buku kesayangannya sobek. Ajak ia mengenali apa yang dirasakannya, dengan memperhatikan reaksi tubuhnya: bagaimana detak jantungnya, napasnya, energi yang dirasakannya, hingga gestur tubuhnya. Ajak ia untuk mengekspresikan perasannya, lalu bantu ia menemukan cara untuk mengatasi perasaannya tersebut4.

Membaca dengan Suara Keras

Luangkanlah waktu setiap hari untuk membaca buku dengan suara yang keras bersama si Kecil. Bawa serta mood meter. Selama kegiatan ini, si Kecil dapat belajar kata-kata baru yang mengekspresikan perasaan4.

Saat membaca Matilda karya Roald Dahl misalnya, anak mengenal kata “berani”. Jelaskan arti kata tersebut, lalu terapkan dalam mood meter: bagaimana tingkat kegembiraan dan energi pada kata berani? Dengan cara ini, anak belajar bahwa berani masuk kelompok emosi warna kuning. Melalui perasaan dan reaksi para karakter dalam cerita, anak pun belajar untuk mempersiapkan diri untuk bisa mengatur emosi dan perilaku diri sendiri4.

Berbagi Cerita

Anak hebat mampu memahami emosinya sendiri, serta berempati kepada orang lain. Bangunlah kebiasaan untuk saling berbagi cerita. Di waktu santai misalnya sebelum tidur, ajaklah ia berbicara dari hati ke hati untuk menceritakan bagaimana perasaannya hari itu. Pengalaman apa yang membuatnya merasa demikian?

Ibu atau Ayah juga bisa menceritakan pengalaman pribadi yang menimbulkan emosi yang serupa dengan cerita si Kecil. Misalnya, dulu Ibu juga pernah ketakutan karena terpisah dari orang tua di pusat perbelanjaan. Lalu ceritakan juga bagaimana perasaan Ibu saat itu, dan apa yang Ibu lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dengan saling berbagi cerita, si Kecil merasakan dukungan sehingga ia merasa aman dan nyaman untuk mengungkapkan perasaannya. Dari pengalaman orang lain, ia pun belajar untuk mengatur emosinya4.

Melakukan Aktivitas Bersama dengan Musik

Bangun perkembangan emosi anak dengan aktivitas bersama yang merangsang emosi tertentu. Misalnya menggambar bersama sambil mengatur napas dan mendengarkan musik yang lembut dan menenangkan. Aktivitas seperti ini akan memunculkan emosi dalam warna hijau (tenang). Untuk merangsang emosi berwarna kuning, menarilah bersama si Kecil, diiringi musik yang ceria. Usai menari, ajaklah ia merasakan detak jantungnya yang meningkat, bercermin untuk melihat senyum yang terkembang, dan merasakan kegembiraan yang mengaliri tubuh.

Musik merupakan bahasa emosional yang dapat digunakan untuk mengungkapkan perasaan. Belajar alat musik dapat mengembangkan kepekaan emosi anak. Namun, pemilihan jenis alat musiknya perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan emosi dan perilaku si Kecil, ya, Bu. Misalnya, untuk anak yang sangat aktif, akan lebih cocok bermain drum daripada alat musik biola. Di sisi lain, anak yang pendiam akan lebih senang belajar bermain biola dibandingkan terompet. Untuk anak-anak yang lebih senang bermain sendiri, pilihannya adalah alat musik piano atau gitar5.

Sambil beraktivitas mengasah perkembangan emosi anak, jangan lupa untuk memberi si Kecil segelas susu kesukaannya. Anak hebat juga membutuhkan nutrisi lengkap yang terkandung dalam susu Bebelac 4, seperti omega 3 dan omega 6. Bebelac juga diperkaya dengan FOS:GOS 1:9 serta 13 vitamin dan 5 mineral. Ingat ya Bu, selain stimulasi yang tepat dari orang tua, pastikan si Kecil juga mendapatkan nutrisi yang lengkap untuk mendukung saluran cernanya baik (happy tummy), akalnya terus berkembang menjadi lebih kreatif (happy brain), serta tumbuh dengan jiwa besar (happy heart).

Setelah menerapkannya, Ibu bisa juga mencoba tips lain dalam melatih kecerdasan anak dengan membaca informasi lengkapnya di sini.

 


 Referensi

  1. Ramezan Hasanzadeha, Fatema Shahmohamadi. (2011). Study of Emotional Intelligence and Learning Strategies. Diambil dari https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042811028977 [Diakses 18 November 2020].
  2. Elena Liliana Danciu. (2010). Methods of developing children's emotional intelligence. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/271609610_Methods_of_developing_children's_emotional_intelligence [Diakses 18 November 2020].
  3. Mafuzah Mohamad, Juraifa Jais. (2016). Emotional Intelligence and Job Performance: A Study Among Malaysian Teachers. Diambil dari https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2212567116000836 [Diakses18 November 2020]
  4. Shauna L. Tominey. (2017). Teaching Emotional Intelligence in Early Childhood. Diambil dari https://www.naeyc.org/resources/pubs/yc/mar2017/teaching-emotional-intelligence [Diakses 18 November 2020]
  5. Evie Destiana. (2017). The Effect of Music On The Emotional Intelligence Development Of Early Childhood. Diambil dari http://ojs.umsida.ac.id/index.php/icecrs/article/view/1428 [Diakses 19 November 2020]
Tag