Tahapan Perkembangan Kognitif Anak Yang Perlu Ibu Ketahui

Tahapan Perkembangan Kognitif Anak yang Perlu Ibu Ketahui

detail-fb detail-wa detail-twitter

Si Kecil tumbuh semakin pintar setiap harinya, ya, Bu? Ada saja hal baru yang kita temukan, mulai dari kata baru yang ia lontarkan hingga pertanyaan unik yang tak jarang membuat kita terkesima. Pada dasarnya, perkembangan kognitif anak memang memiliki beberapa tahapan. Sebagai orang tua, kita sebaiknya memahami setiap tahapannya dengan baik, agar bisa mendukung anak tumbuh cerdas.

Dalam teori yang dikemukakan Piaget, seorang ahli Psikologi, ada empat tahap perkembangan kognitif anak dari usia 0 sampai 15 tahun. Setiap tahapan memperlihatkan pemikiran dan konsentrasinya. Juga, bagaimana diri dan dunia luar di depan matanya4

Yuk, kita ulas satu persatu!

Perkembangan Kognitif Anak Usia 0-2 tahun: Sensori Motor

Di dua tahun kehidupan pertamanya, si Kecil mulai mempelajari sesuatu dengan ketiga inderanya, yakni mata, telinga, dan tangan1. Saat tertarik dengan benda yang baru dikenal, ia akan mengamatinya dengan mata, mencoba meraihnya dengan tangan, bahkan memasukkannya ke mulut untuk mengecap rasanya.

Ibu bisa memberikan stimulasi dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk memegang beragam benda dengan bentuk berbeda. Suara Ibu juga sangat penting, karena menjadi salah satu sarananya mempelajari sesuatu.

Saat ia memegang sebuah benda, dampingi dan berikan gambaran padanya tentang benda tersebut. Mulai dari warnanya, bentuknya, hingga fungsi dan kegunaannya. Meski mungkin ia belum bisa memahami sepenuhnya, tapi momen ini sangat penting untuk perkembangan kognisinya.

Di usia 18 bulan, si Kecil juga akan mulai memahami bahwa eksistensi sebuah benda akan tetap ada meskipun ia tidak melihatnya. Misalnya, ketika ibunya menyembunyikan mainan. Ia tahu mainan itu ada, tapi tersembunyi. Tidak semua yang tak terlihat matanya, benar-benar tidak ada2. Luar biasa pintarnya, ya, Bu?

Perkembangan Kognitif Anak Usia 2-7 tahun: Praoprasional Motor

Pada tahap ini, anak sudah mulai memahami dunia luar. Namun, jalan pikirannya masih belum terstruktur dan belum konsisten. Ia masih berpikir bahwa orang lain hidup seperti dirinya, sehingga ia belum sepenuhnya mampu memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain. Meski begitu, ia mulai mencari solusi sendiri terhadap masalah yang ia hadapi melalui apa yang ia lihat dan dengar3.

Karena masih berpusat pada dirinya sendiri, tahapan ini juga disebut sebagai egosentris. Si Kecil akan sulit menerima pendapat orang lain. Hal yang ia yakini adalah orang lain seharusnya berpikiran sama dengannya. Jangan heran, kalau ia mulai terlihat ‘sok tahu’, bahkan bisa menangis meraung-raung jika keinginannya tidak terpenuhi. Hal ini, karena ia memahami sesuatu berdasarkan pengalaman konkritnya saja, bukan pemikiran logis.

Meski begitu, kognisinya berkembang sangat pesat di tahap ini. Ia mulai mengenal bahwa kata-kata, gambar, dan gestur seseorang bisa menjadi sebuah simbol2. Misalnya, saat kita memperlihatkan sebuah gambar keluarga. Hal yang ia tangkap tidak hanya tentang bentuk gambarnya, tapi arti dari gambar tersebut, bisa jadi tentang kasih sayang atau kebersamaan. 

Ia juga bisa berimajinasi dengan mainan yang ia miliki. Misalnya ia bermain lego, ia bisa menggabungkan potongan-potongan menjadi bentuk baru sesuai imajinasinya.

Untuk mengoptimalkan proses tersebut, fasilitasi setiap keingintahuannya, ya, Bu. Mungkin ia lebih banyak bertanya sesuatu yang abstrak dan unik. Tetap dampingi dan jadilah teman terbaiknya.

Cukupi juga nutrisinya agar ia tetap sehat dan aktif, ya Bu. Pastikan ia mengonsumsi pola makan seimbang kaya serat seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Sistem pencernaan juga disebut sebagai otak kedua, karena jika pencernaannya sehat, mood-nya akan lebih baik.

Beri juga si Kecil tiga gelas susu  Bebelac 4 yang dilengkapi Omega 3 dan Omega 6 untuk mendukung tumbuh kembang otaknya. Bebelac 4 juga diperkaya FOS:GOS 1:9, 13 vitamin, dan 5 mineral yang membantu melancarkan pencernaannya.

Perkembangan Kognitif Anak Usia 7-11 tahun: Operasional Kongkrit

Di usia sekolah ini, egosentris anak mulai berkurang. Ia mulai melangkah pada pemikiran yang lebih konkret. Ia tahu bahwa setiap orang itu berbeda, dan tak semua yang ia pikirkan itu sama dengan apa yang dipikirkan orang lain.

Si Kecil juga mulai memahami moral dan etika. Ia juga tahu, bahwa untuk memutuskan sesuatu, ia perlu berpikir terlebih dahulu karena ada keputusan yang salah dan benar1.

Namun, perkembangan di tahap ini adalah hasil akumulatif dari apa yang ia pelajari di dua tahapan sebelumnya. Di fase ini, ia juga bisa melakukan kesalahan jika tidak didampingi dengan baik2. Saat ia masuk sekolah nanti, pastikan Ibu jadi teman terbaiknya, ya, Bu.

Perkembangan Kognitif Anak Usia 11 tahun ke atas: Operasional Formal

Di usianya yang ke-11, cara berpikirnya sudah lebih terstruktur. Ia sudah mulai berpikir abstrak, tidak lagi berpikir konkret sesuai dengan apa yang ia lihat saja. Di fase ini, anak  sudah mulai menjalin hubungan baik dengan orang lain serta sudah mulai fokus pada solusi saat ia mengalami masalah3.

Fase ini juga disebut early adolescent2. Artinya si Kecil sudah memasuki tahapan remaja. Mungkin Ibu sudah tidak lagi bisa berada di sisinya terus menerus. Namun, untuk memasuki gerbang kedewasaan, usahakan untuk tetap jadi tempat keluh kesahnya, ya, Bu.

Empat tahap perkembangan kognitif di atas bisa jadi berbeda pada setiap anak. Mungkin saja ada anak yang berkembang lebih cepat, ataupun lebih lambat. Pastikan untuk selalu mendampingi si Kecil di setiap momen pertumbuhannya, ya, Bu, karena tiap tahap perkembangan kognitif anak tersebut tidak akan bisa terulang.

Referensi

1.       Jessyca Rodriguez. (2018). Theories of Cognitive Development. Post University. Retrieved from: https://www.researchgate.net/publication/324261184_Theories_of_Cognitive_Development. [Diakses pada: 20 November 2020]

2.       Azwihangwisi E Muthivhi.(2015). Piaget’s Theory of Human Development and Education. University of Cape Town, South Africa. Elsevier Ltd. Retrieved from: http://www.uct.ac.za/sites/default/files/image_tool/images/104/ELSEVIER_MUTHIVHI_%20PIAGET%27S%20THEORY%20OF%20DEVELOPMENT%20OFFPRINTS_2015%20.pdf. [Diakses pada: 20 November 2020]

3.       Fatimah Ibda. (2015). Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget. UIN Ar-Raniry. Intelektualita.

4.       Lefmann, T., & Combs-Orme, T. (2013). Early brain development for social work practice: Integrating neuroscience with Piaget's Theory of Cognitive Development. Journal of Human Behavior in the Social Environment, 23(5), 640-647. Retrieved from: https://www.researchgate.net/publication/272118570_Early_Brain_Development_for_Social_Work_Practice_Integrating_Neuroscience_with_Piaget's_Theory_of_Cognitive_Development [Diakses pada: 21 November 2020]

 

 

 

Tag