Pentingnya Stimulasi EQ Untuk Dukung IQ Si Kecil

Pentingnya Stimulasi EQ untuk Dukung IQ di Masa Depan

detail-fb detail-wa detail-twitter

Memiliki buah hati yang pintar adalah dambaan setiap orang tua. Agar Si Kecil tumbuh dan berkembang menjadi anak dengan tingkat kecerdasan intelegensi (IQ) yang tinggi, ada banyak hal yang harus Ibu persiapkan. Tak hanya menstimulasi IQ dan memberinya nutrisi yang baik, kecerdasan emosional alias EQ-nya juga harus diasah.

Ibu mungkin sudah sering mendengar bahwa kecerdasan emosional ini memainkan faktor yang sangat penting dalam perkembangan IQ Si Kecil. EQ adalah kemampuan seseorang untuk mengontrol emosinya dan menggunakan emosi tersebut untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.

Pentingnya Stimulasi EQ Sejak Dini

Tahukah Ibu, EQ ini sudah bisa distimulasi sejak dini, termasuk ketika bayi berusia 10-11 bulan, lho. Yuk, simak pentingnya kecerdasan emosional berikut ini.

1. Kecerdasan emosi adalah kunci dari perkembangan anak

Memperlihatkan emosi adalah bentuk komunikasi dasar manusia. Ingatkah Ibu ketika bayi baru dilahirkan, satu-satunya caranya untuk memberi tahu Ibu bahwa ia lapar, tidak nyaman, ngompol, dan ingin digendong hanyalah dengan menangis?

Nah, komunikasi ini memainkan peran yang sangat penting di tahun pertama usia Si Kecil lho, Bu. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa komunikasi yang baik antara orangtua dengan bayi adalah kunci dari perkembangan anak-anak di masa mendatang.

Kemampuan bayi untuk mengatur emosi, fokus, dan minatnya untuk belajar berkembang seiring dengan kualitas komunikasi yang terbangun dengan orangtua. Bila kualitas komunikasi orangtua dengan bayi baik, maka bayi memiliki tingkat kecerdasan emosi yang baik sehingga di kemudian hari bisa mengatur perilaku, hubungan sosial, dan adaptif dengan lingkungan.

2. Kecerdasan emosi memengaruhi kemampuan belajar anak

Anggapan yang menyatakan IQ anak sangat dipengaruhi oleh EQ-nya bukan isapan jempol. Menurut Daniel J. Siegel, MD, dalam tulisannya di Infant Mental Health Journal, kemampuan otak anak akan lebih berkembang bila ia menerima kasih sayang yang cukup dari orangtua atau orang yang disayanginya. Sebaliknya, jika bayi menerima stimulasi yang membuatnya sedih, maka keinginannya untuk belajar juga bisa terganggu.

Meski masih bayi, ia sudah bisa merasakan emosi ibu. Bila ibu cemberut saat menatapnya, bayi juga bisa ikut murung dan tidak semangat belajar. Jadi, jangan perlihatkan raut sedih, capek, dan gelisah setiap kali bertatap muka dengan Si Kecil ya, Bu.

3. Kombinasi stimulasi EQ dan IQ akan menghasilkan kecerdasan multipel

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menekankan pentingnya mencurahkan kasih sayang kepada bayi sedini mungkin. Salah satu tujuannya ialah membentuk kecerdasan multipel alias kecerdasan yang bervariasi dalam berbagai bidang.

Berbagai Stimulasi Meningkatkan EQ untuk Anak

Jangan membayangkan bahwa stimulasi EQ Si Kecil harus dilakukan dengan kegiatan yang rumit ya, Bu. Para psikolog menekankan bahwa stimulasi dasar kecerdasan emosi bayi 10-11 bulan sangat sederhana, yakni melakukan kontak mata dengan Si Kecil sesering mungkin.

Sambil menatap matanya, ajak bayi bicara tentang apa saja. Ibu juga bisa menyanyikannya lagu atau memutarkan musik yang menenangkan, meski tidak selalu harus dengan musik klasik.

Selain kontak mata dan komunikasi dengan Si Kecil, IDAI juga menyarankan agar orang tua menstimulasi kecerdasan anak dengan mengajak mereka bermain. Kecerdasan emosi interpersonal, bisa dilatih misalnya dengan membiarkan Si Kecil bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan muda. Di sana, ia dapat belajar untuk saling berbagi, mengalah, mengendalikan diri, dan sebagainya.

Sementara, melatih kecerdasan emosi intrapersonal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang cerita, dan sebagainya. Ibu bisa mengajaknya membaca buku-buku khusus bayi yang bertemakan keluarga dan kasih sayang. Ajari juga dia berbagai macam ekspresi dan emosi, misalnya dengan mengajaknya bermain boneka, rumah-rumahan, dan sebagainya.