bayi-sembelit-6-bulan

5 Trik Jitu Mengatasi Bayi Sembelit di Atas Usia 6 Bulan

detail-fb detail-wa detail-twitter

Selamat, Bu! Kini, di usia si Kecil yang sudah beranjak 6 bulan, banyak momen penting yang akan Ibu dan si Kecil lewati, salah satunya menikmati masakan Ibu lewat makanan pendamping ASI (MPASI). Namun, jangan kaget ya, Bu, di momen ini, bukan hanya menikmati momen lahap makannya si Kecil, Ibu pun akan sedikit diuji karena anak  yang mulai mengonsumsi MPASI biasanya mengalami sembelit. Tetapi Ibu tidak perlu khawatir karena ini adalah hal yang wajar terjadi. Dengan mengetahui penyebabnya, Ibu dapat dengan mudah mengatasi bayi sembelit.

Mengatasi Bayi Sembelit karena MPASI

Pusing dan sedih pastinya ketika melihat si Kecil sulit buang air besar ya, Bu. Hal ini biasa disebut dengan sembelit atau konstipasi, yaitu ketidakmampuan tubuh mengeluarkan feses secara sempurna yang terlihat dari berkurangnya frekuensi buang air besar, feses lebih keras, dan rasa nyeri saat buang air besar. Selain itu, massa feses akan terasa saat perut diraba1

Hal ini umum terjadi pada si Kecil, terutama ketika ia sudah mulai bisa makan makanan padat, serta mengalami perubahan rutinitas2. Lalu, bagaimana cara  mengatasi sembelit pada bayi yang telah melewati usia 6 bulan? Yuk, kita cari tahu bersama.

1. Ubah pola makan si kecil

Ibu dapat mengubah pola makan si Kecil dengan meningkatkan asupan cairan dan memilih karbohidrat yang mudah diserap tubuh untuk melunakkan fesesnya, terutama yang mengandung sorbitol. Senyawa yang dipercaya mampu membantu pergerakan usus dan melunakkan feses ini banyak ditemukan dalam aneka buah beri, buah pir, dan apel. Di samping itu, Ibu juga bisa menerapkan pola makan seimbang, yang mencakup biji-bijian, buah-buahan, dan pada MPASI si Kecil untuk mengurangi sembelitnya3.

Baca Juga: 16 Penyebab Sembelit pada Bayi

2. Konsumsi makanan berserat

Untuk membantu mengurangi sembelit, Ibu bisa memberikan si Kecil makanan berserat dan aneka makanan yang mengandung air dalam menu MPASI. Untuk itu, Ibu bisa menambahkan beberapa bahan makanan seperti:

  • Kacang polong
  • Buah beri
  • Buah-buahan dengan kulit, seperti pir dan apel
  • Aneka kacang-kacangan
  • Roti dengan gandum utuh atau sereal

Pastikan si Kecil mendapatkan porsi serat yang tepat ya, Bu. Sebenarnya, setiap anak membutuhkan serat yang berbeda-beda. Menurut Angka Kecukupan Gizi yang ditetapkan oleh Kemenkes RI lewat Peraturan Menteri Kesehatan no. 28 tahun 2019, jumlah kebutuhan serat harian anak berbeda berdasarkan usianya. Anak usia 0—6 bulan belum memiliki kecukupan serat yang dianjurkan, sedangkan untuk bayi usia 7—11 bulan, hanya membutuhkan 11 gram serat setiap hari4. Nantinya, kebutuhan ini akan bertambah seiring dengan bertambahnya usia.

Tak hanya menyajikan bubur buah, Ibu juga bisa lho membuat sup yang berisi aneka sayuran yang lezat serta kaya serat dan tinggi kandungan air. 

3. Cukupi kebutuhan cairannya

Mencegah sembelit tidak hanya bisa lewat pilihan makanannya saja lho, Bu. Kebutuhan cairan dalam tubuh juga berperan penting untuk mengatasi bayi sembelit. Jumlah kebutuhan cairan bisa berbeda berdasarkan usia dan jenis kelamin bayi. Namun pada umumnya berikut jumlah kebutuhan cairan si Kecil5:

  • Bayi 7 – 12 bulan memerlukan cairan 800 ml cairan/hari
  • Balita 1 – 3 tahun memerlukan 1300 ml/hari

Minum air putih memang menjadi cara paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan cairan. Tapi selain itu, Ibu juga bisa memberi aneka buah dan sayuran dengan kandungan air tinggi seperti semangka dan tomat, atau menu berkuah seperti sup.

4. Hindari makanan yang berisiko menyebabkan sembelit

Ada makanan yang bisa melancarkan sembelit, tapi juga ada lho, Bu, makanan yang bisa menyebabkan si Kecil sulit buang air besar. Biasanya makanan yang berisiko menyebabkan sembelit ini tinggi lemak tapi rendah serat6.

Nah, beberapa makanan yang bisa Ibu hindari sebagai menu MPASI-nya yaitu seperti:

  • Makanan cepat saji dan makanan olahan lainnya, seperti sosis dan nugget yang mengandung banyak lemak
  • Aneka camilan yang rendah serat, seperti keripik, biskuit manis, wafer
  • Makanan yang tinggi garam, gula, dan pengawet

Tidak hanya membuat si Kecil susah buang air besar, makanan-makanan di atas juga kurang baik untuk kesehatannya, ya, Bu. Sebagai gantinya, Ibu bisa mengganti camilan si Kecil dengan aneka buah tinggi serat yang disajikan dengan kreatif. Si Kecil pasti enggan menolaknya.

5. Berikan pijatan ‘I Love You’ pada si kecil

Jika Ibu sudah mencoba mengatasi bayi sembelit melalui asupannya, sekarang saatnya untuk memberinya perawatan istimewa, yaitu pijatan ‘I love you’. Tak hanya menjadi salah satu kegiatan bonding time, pijatan ini juga bisa mengatasi bayi sembelit, lho, Bu. Ini karena pijatan pada bagian bawah perut dapat merangsang usus untuk proses buang air besar7.  Berikan  pijatan ini setelah si Kecil mandi atau 30 menit setelah menyusu.

Baca Juga: Pijatan I Love U Baik untuk Pencernaan Si Kecil

Pijatan ini dilakukan dengan membuat sebuah gerakan yang membentuk inisial I, L, dan U dengan langkah berikut8:

  1. Dengan jari, perlahan bentuk huruf I di sebelah kiri perut si Kecil sebanyak 10 kali
  2. Kemudian bentuklah huruf L terbalik dari arah kiri ke kanan sebanyak 10 kali
  3. Lalu, bentuk huruf U terbalik dari arah kiri ke kanan
  4. Jangan lupa ucapkan kata I LOVE YOU saat memijat si kecil ya, Bu

Sekarang, tidak perlu khawatir lagi ya, Bu. Sembelit memang umum terjadi, terutama pada si Kecil yang mulai makan makanan padat. Ibu bisa mulai mencoba beberapa cara di atas untuk mengatasi bayi sembelit. Namun, jika sembelit masih belum mereda hingga lebih dari 4 hari, berdarah saat BAB, atau si Kecil tidak mau makan, segera konsultasikan pada dokter ya.


 

REFERENSI

 

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Gangguan Pada Pencernaan Bayi (2). Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-2 [Diakses 10 Agustus 2021] 
  2. Lisa Philici. (2017). Management of Childhood Functional Contipation. Diambil dari https://www.jpedhc.org/action/showPdf?pii=S0891-5245%2817%2930131-1 . [Diakses pada 10 Agustus 2021] 
  3. Sun Hwan Bae. (2014). Diets for Constipation. Diambil dari 10.5223/pghn.2014.17.4.203. [Diakses pada 10 Agustus 2021] 
  4. Kementerian Kesehatan RI. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan bagi Bangsa Indonesia. Diambil dari http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf [Diakses pada 12 Agustus 2021]
  5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kebutuhan Air pada Anak. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kebutuhan-air-pada-anak. [Diakses pada 10 Agustus 2021]
  6. Xinias dan A Mavroudi. (2015). Constipation in Childhood. An Update on Evaluation and Management. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4574579/. [Diakses 10 Agustus 2021]
  7. Ying MM, Tang, dkk. (2020). Short and Long-term Efficacy of Massage for Functional Constipation. Diambil dari https://journals.lww.com/md-journal/fulltext/2020/06190/short_and_long_term_efficacy_of_massage_for.48.aspx. [Diakses 10 Agustus 2021
  8. Kadir Şerafettin Tekgündüz, et al. 2014. Effect of abdomen massage for prevention of feeding intolerance in preterm infants. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4236471/ [Diakses 29 September 2021]
Tag