penyebab-kolik-pada-bayi

4 Penyebab Kolik Pada Bayi yang Umum Terjadi

detail-fb detail-wa detail-twitter

Kolik adalah kondisi ketika bayi rewel dan menangis hingga berjam-jam tanpa sebab yang jelas dan sulit untuk ditenangkan. Meski kondisi ini terlihat mengkhawatirkan, sebenarnya kolik wajar dialami bayi baru lahir dan tidak dianggap sebagai gangguan kesehatan.1 Tapi, Ibu perlu tahu apa penyebab kolik pada bayi agar dapat menghindarinya. Yuk, kita pelajari!

Ciri-Ciri Kolik pada Bayi

Tak sedikit Ibu yang kebingungan bagaimana cara membedakan apakah tangisan si Kecil termasuk kolik atau tangisan biasa. Hal pertama yang bisa diperhatikan adalah kondisi si Kecil saat menangis. Si Kecil yang kolik sebenarnya berada dalam kondisi sehat, sehingga Ibu tidak akan menemukan tanda-tanda atau gejala penyakit seperti demam atau lainnya.1

Tanda kedua yang bisa Ibu perhatikan adalah waktu tangisan yang biasa terjadi pada sore menjelang malam hari, tanpa penyebab yang jelas. Tangisan si Kecil begitu kencang, sangat sulit untuk ditenangkan, wajahnya memerah, dan si Kecil terlihat menarik kaki, mengencangkan lengan, melengkungkan punggung, atau mengepalkan tinju.2

Tak hanya kencang, tangisan si Kecil juga biasanya berlangsung lama, yaitu lebih dari 3 jam per hari dan terjadi 3 kali seminggu atau lebih. Kondisi ini biasanya dialami oleh bayi usia 2 minggu hingga 4 bulan.2

Penyebab Kolik pada Bayi

Hingga saat ini, penyebab kolik masih belum dapat diketahui secara pasti. Tapi, ada beberapa penyebab umum yang diduga memicu kondisi ini. Apa saja?

1. Kondisi kesehatan tertentu

Meski di awal telah disebutkan bahwa bayi yang mengalami kolik umumnya dalam kondisi sehat, kolik juga bisa disebabkan oleh masalah kesehatan. Hanya saja, jumlahnya kurang dari 10% dari seluruh kasus kolik yang terjadi pada bayi.1

Masalah kesehatan ini diduga berasal dari saluran pencernaan, bisa berupa sembelit, alergi susu sapi, intoleransi laktosa, hingga infeksi lain yang disebabkan oleh virus maupun bakteri.3

Untuk mengetahui apakah penyebab kolik benar akibat penyakit atau kondisi kesehatan tertentu, Ibu perlu memeriksakan si Kecil ke dokter. Jika setelah pemeriksaan tak ditemukan bukti bahwa si Kecil mengalami masalah kesehatan, dokter biasanya hanya menyarankan agar bayi ditenangkan atau dibuat nyaman saat kolik.

2. Kondisi tidak nyaman pada perut si Kecil

Sebagian besar orang meyakini bahwa penyebab kolik pada bayi adalah kondisi tidak nyaman pada perut si Kecil, misalnya kembung, lapar, atau terlalu kenyang.1

Coba Ibu perhatikan, saat kolik, apakah si Kecil tampak sering menarik kakinya dan mengeluarkan gas saat menangis?3 Jika iya, hal tersebut yang menjadi dasar dugaan bahwa kolik disebabkan oleh gangguan di pencernaan.

Pada si Kecil yang baru lahir, teknik menyusui yang salah bisa menjadi salah satu penyebab ketidaknyamanan pada perut si Kecil. Misalnya, puting kurang pas di mulut si Kecil, sehingga mulut si Kecil berisi udara.4

3. Lingkungan yang tidak nyaman

Kolik juga bisa terjadi ketika si Kecil berada dalam lingkungan yang tidak nyaman, misalnya ruangan yang terlalu dingin atau panas. Cobalah bawa si Kecil ke luar ruangan untuk mendapatkan udara yang lebih sejuk. Atau, coba buka bajunya untuk melihat apakah ia kegerahan atau tidak. Perhatikan juga apakah ada ruam atau kemerahan di kulitnya akibat udara yang terlalu panas.5

Kehausan yang dibiarkan terlalu lama juga bisa membuat si Kecil menangis tanpa henti, lho, Bu. Coba Ibu cek, apakah si Kecil telah melewatkan waktu menyusunya?

Jangan lupa, cek juga popok si Kecil. Bisa jadi popoknya sudah terlalu basah dan ia merasa tak nyaman karena hal itu. Popok basah yang dibiarkan terlalu lama bisa menimbulkan iritasi pada kulit di sekitar genitalnya sehingga membuat si Kecil tak nyaman.5

4. Faktor psikologis

Menjadi ibu baru mungkin memang melelahkan. Tapi, jangan biarkan tekanan ini mempengaruhi pengasuhan Ibu pada si Kecil. Pasalnya, orang tua yang stres bisa jadi salah satu alasan si Kecil sering menangis.6

Suara Ibu sudah dikenal oleh si Kecil sejak ia di dalam rahim. Mungkin saja, si Kecil kangen dengan suara lembut Ibu yang sering ia dengar saat di dalam rahim. Jadi, cobalah menenangkan si Kecil dengan suara yang lembut, belaian, pelukan, atau bahkan nyanyian ketika ia menangis.7

Cara orang tua zaman dulu juga bisa Ibu coba, yaitu mengikat kain di antara dua tiang, letakkan si Kecil di atas kain, goyangkan dan nyanyikan lagu nina bobo.7 Namun tentunya Ibu harus memastikan kain sudah terikat kuat, ya.

Bila perlu, Ibu bisa mengajak si Kecil naik mobil mengelilingi kompleks perumahan. Ayunan lembut di dalam mobil biasanya akan membuat si Kecil berhenti menangis dan kemudian tertidur.7

Nah, itulah 4 penyebab kolik pada bayi beserta dengan cara penanganannya yang Ibu bisa terapkan di rumah. Semoga menginspirasi dan dapat membantu, ya, Bu.


Referensi:

 

  1. Valerie Sung. 2018. Infantile Colic. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6091773/ [Diakses Oktober 2021]
  2. Michelle M. Karten. 2019. What is Colic? Diambil dari: https://kidshealth.org/en/parents/colic.html [Diakses Oktober 2021]
  3. Amy A. Gelfand. 2015. Infant Colic. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4809021/ [Diakses Oktober 2021]
  4. IDAI. 2015. Kembung pada Anak. Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kembung-pada-anak [Diakses Oktober 2021]
  5. Agus Firmansyah. 2015. Kolik pada Bayi (Bagian 1). Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-1 [Diakses Oktober 2021]
  6. Siel Daelemans, et al. 2018. Recent advances in understanding and managing infantile colic. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6134333/ [Diakses Oktober 2021]
  7. Agus Firmansyah. 2015. Kolik pada Bayi (Bagian 2). Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-2 [Diakses Oktober 2021]
Tag