alergi-susu-pada-bayi

Ini Akibatnya Jika Alergi Susu pada Bayi Terlambat Ditangani

detail-fb detail-wa detail-twitter

Ternyata, alergi susu pada bayi adalah alergi makanan yang paling banyak terjadi. Alergi susu sapi diperkirakan dialami sekitar 2–7,5% bayi di bawah usia satu tahun1. Alergi berkaitan erat dengan respons kekebalan (imunitas) tubuh. Namun, bukan berarti kekebalan tubuh si Kecil lemah ya, Bu. Justru sebaliknya, imunitas tubuhnya berlebihan atau terlalu sensitif (hipersensitif) terhadap antigen tertentu, dalam hal ini terhadap protein susu sapi2. Padahal, protein tersebut bukan merupakan zat berbahaya, tapi direspons secara berlebihan hingga muncul reaksi alergi. 

Apa Penyebab Alergi Susu pada Bayi?

Saluran cerna turut berperan dalam munculnya alergi susu pada bayi. Ini terjadi karena mukosa dan sistem imun pada saluran cerna pada bayi belum matang, serta pembatas pada dinding usus belum terbentuk sempurna. Kondisi ini menyebabkan antigen yang utuh seperti protein susu sapi, dapat menembus dinding usus dan memicu respons kekebalan1,3.

Gejala Alergi yang Muncul

Mungkin Ibu bingung, gejala alergi yang dialami bayi ada yang gatal-gatal, tapi ada juga yang mengalami muntah dan diare. Tanda dan gejala alergi susu sapi memang bisa berbeda-beda pada tiap anak, Bu. Secara umum, reaksi alergi susu sapi pada si Kecil biasanya muncul pada saluran cerna, saluran napas, dan kulit. Perbedaan ini turut dipengaruhi oles respons imun yang  terlibat dalam alergi2

Ada jenis gejala yang reaksinya lebih cepat terlihat, umumnya 30 menit sampai 1 jam setelah si Kecil terpapar protein susu sapi. Gejalanya cukup mudah dikenali. 

Gejala pada kulit, antara lain:

  • Bentol kemerahan disertai rasa gatal (urtikaria)
  • Bengkak, kemerahan, dan sedikit nyeri di sekitar bibir dan kelopak mata
  • Eksim atau dermatitis atopi pada kedua pipi, yang kerap disebut sebagai eksim susu

Gejala pada saluran napas, misalnya:

  • Hidung meler, pilek, bersin-bersin
  • Mata merah dan gatal
  • Batuk, hingga sesak napas2

Ada pula gejala alergi yang muncul lebih lambat, sekitar 1 – 3 jam setelah bayi terpapar protein susu sapi, bahkan bisa sampai beberapa hari kemudian1,2. Gejala alergi ini biasanya lebih sering muncul pada saluran cerna1, seperti:

  • Kolik
  • Muntah
  • Diare berdarah
  • Tidak nafsu makan dan perut kembung1,2

Baca Juga: Susu Soya untuk Alergi Susu Sapi

Alergi Susu pada Bayi Perlu Cepat Ditangani

Sekarang Ibu sudah paham tanda dan gejala alergi susu sapi pada si Kecil, sehingga bisa lebih waspada, ya. Bila si Kecil yang misalnya setelah menyusui mengalami muntah, diare, gatal-gatal, pilek, atau batuk-batuk, Ibu bisa mengingat kembali makanan yang dikonsumsi sebelumnya, apakah Ibu minum susu atau mengonsumsi produk turunan yang berbahan protein susu sapi. 

Bawalah si Kecil ke dokter segera bila Ibu curiga ia alergi susu sapi, terlebih bila ada riwayat alergi dalam keluarga. Apalagi, jika mengalami diare dan muntah yang bisa menyebabkan dehidrasi pada si Kecil bila terlambat ditangani. 

Di samping itu, alergi susu sapi yang berkepanjangan dan tidak ditangani juga bisa memperburuk kondisi si Kecil. Contohnya, anak dapat mengalami gangguan pada usus berupa peradangan usus. Akibatnya, si Kecil dapat  mengalami diare kronis hingga lebih dari 14 hari, hambatan pertumbuhan, hingga gangguan pencernaan dan penyerapan nutrisi yang bisa  menyebabkan anemia dan defisiensi nutrisi lainnya3,4.

Mengatasi Alergi Susu pada Bayi

Dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan si Kecil alergi terhadap protein susu sapi2. Bila sudah dipastikan, barulah bisa dilakukan penanganan yang tepat. Pada prinsipnya, penanganan dan pencegahan utama alergi adalah menghindari konsumsi protein susu sapi. 

Pada si Kecil yang mengonsumsi ASI, Ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan semua produk turunannya seperti mentega dan keju. Bila si Kecil sudah mengonsumsi MPASI (Makanan Pendamping ASI), jangan lupa hindarkan ia dari segala jenis susu sapi dan produk turunannya ya, Bu. Namun  konsultasikan ke dokter agar dapat mengetahui menu MPASI yang sesuai dengan kondisi si Kecil. 

Baca Juga: Perbedaan Susu Soya dan Susu Formula

Alergi tidak bisa sembuh, tapi bisa dikendalikan. Kabar baiknya, seiring waktu, alergi susu sapi pada anak bisa menghilang, meski bakat alerginya masih terus ada. Sebanyak 45-55% keluhan alergi susu sapi hilang pada tahun pertama. Pada tahun kedua meningkat jadi 60-75%, dan di tahun ketiga 90% anak yang pernah mengalami alergi tidak lagi merasakan gejala yang sama2. 

Tidak ketinggalan, selalu penuhi kebutuhan nutrisi yang tepat dan seimbang untuk si Kecil melalui asupan hariannya ya, Bu. Ibu tidak perlu khawatir ia kekurangan protein, serat, kalsium, vitamin D, dan vitamin B2 karena zat gizi tersebut dapat ditemukan dari berbagai jenis bahan makanan lain untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal. 

Nah, setelah mengetahui ciri-ciri dan akibat dari gejala alergi, Ibu tidak perlu panik lagi. Pantau si Kecil di setiap fase tumbuh kembangnya dan konsultasikan ke dokter untuk mengetahui asupan bergizi yang sesuai dengan kondisi anak ya, Bu!


Referensi:

  1. Marina Aparicio, dkk. (2020). Microbiological and Immunological Markers in Milk and Infant Feces for Common Gastrointestinal Disorders: A Pilot Study. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7146151/ [Diakses 1 September 2021]
  2. Sumadiono. (2013). Waspada Alergi Susu Sapi pada Bayi. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/waspadai-alergi-susu-sapi-pada-bayi [Diakses 1 September 2021]
  3. Mieczyslawa Czerwionka-Szaflarska, dkk. (2017). Allergic Enteritis in Children. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5360665/ [Diakses 1 September 2021]
  4. Badriul Hegar. (2013). Mengenal Gejala Saluran Cerna akibat Alergi Protein Susu Sapi. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenal-gejala-saluran-cerna-akibat-alergi-protein-susu-sapi [Diakses 1 September 2021]
Tag