Cara Agar Anak Mau Belajar Berpuasa

Cara Agar Anak Mau Belajar Berpuasa Tanpa Mengabaikan Nutrisinya

Mencari cara agar si Kecil mau belajar puasa butuh usaha tersendiri. Sebab, mengajarkan anak untuk berpuasa bukanlah hal yang mudah. Anak perlu dikenalkan tentang puasa secara perlahan, sesuai dengan usianya. Umumnya, mengajarkan puasa pada anak dapat dilakukan saat anak berusia 6-8 tahun. Pada awal belajar, anak mungkin hanya berpuasa setengah hari saja atau 6-8 jam1 dan secara bertahap ditingkatkan waktunya seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman anak. Lambat laun, ia pun akan mampu berpuasa hingga azan magrib tiba.

Selain itu, Ibu juga bisa menerapkan beberapa tips berikut saat mengajarkan puasa pada anak:

Perkenalkan tentang manfaat puasa

Sebelum mulai berpuasa, Ibu bisa bercerita tentang puasa pada anak. Dimulai dari manfaat puasa bagi kesehatannya. Dengan berpuasa ternyata dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat. Menjalankan puasa bisa menurunkan risiko berbagai penyakit, misalnya kencing manis atau diabetes, dan kanker. Daya tahan tubuh pun membaik sehingga kita lebih kuat dan tidak mudah sakit1. Asiknya lagi, berpuasa juga terbukti meningkatkan daya ingat, seperti yang tertuang dalam sebuah penelitian pada anak remaja di Doha, Qatar2. Tidak hanya manfaat kesehatan, puasa juga baik untuk mengajarkan anak untuk lebih disiplin dan mengendalikan diri.

Atasi kekhawatiran anak

Beberapa anak mungkin akan merasa khawatir saat ia tak makan atau minum dalam jangka waktu lama. Mereka khawatir akan merasa lemas saat tidak makan. Dalam hal ini, ibu bisa menjelaskan pada anak bahwa saat berpuasa, tubuh akan menyesuaikan diri terhadap asupan makanan dan minuman yang masuk. Tubuh akan menggunakan energi dengan lebih efisien1 sehingga anak-anak tetap dapat melakukan aktivitas hariannya dengan baik.

Beri contoh

 Contoh cara berpuasa dari orang tua, mulai dari saat sahur hingga berbuka puasa, akan memudahkan anak dalam menjalani puasanya. Tunjukkan bahwa saat menjalani puasa, kita tetap dapat menjalani aktivitas seperti biasa. Melibatkan anak dalam menyiapkan makanan sahur maupun buka puasa juga dapat meningkatkan semangatnya dalam belajar berpuasa.

Tidak memaksakan

Langkah lain dalam mengajarkan anak berpuasa adalah dengan tidak memaksakan anak dalam menjalani puasa. Mulailah dari puasa setengah hari. Saat anak sudah mulai disiplin, dan menunjukkan bahwa ia mampu, Ibu dapat mengajak anak untuk berpuasa lebih lama, misalnya hingga sore hari. Cara-cara yang memaksa justru dapat membuat anak merasa trauma.

cara mengajari anak puasa sejak dini

Kurma menjadi salah satu hidangan praktis saat berbuka puasa. (Foto: Shutterstock)

Tetap perhatikan asupan nutrisinya

Tak hanya anak yang merasa khawatir akan kekurangan asupan makan saat berpuasa. Ibu juga pasti akan merasa khawatir dengan kurangnya asupan nutrisi yang akan membuat anak menjadi lemas, tak mampu menjalani aktivitasnya, dan menjadi terlalu kurus. Tak perlu panik, penurunan berat badan saat puasa hanya bersifat sementara dan umumnya berat badan akan kembali begitu bulan puasa usai. Selain itu, dalam masa tumbuh kembang, asupan nutrisi juga merupakan salah satu faktor yang harus dipenuhi.

Tak perlu khawatir, Bu, tubuh memiliki mekanisme yang canggih untuk beradaptasi saat berpuasa. Makanan yang dikonsumsi saat sahur hanya dapat mempertahankan kadar gula darah hingga 4 jam1. Gula darah sangat penting, karena inilah yang digunakan oleh sel tubuh sebagai energi.

Setelahnya, masih terdapat cadangan energi dalam hati. Selain itu, metabolisme tubuh juga akan melambat dan menjadi lebih efisien. Kedua mekanisme ini akan membuat anak tetap dapat menggunakan energi untuk beraktivitas – tubuh akan memecah cadangan energi di dalam hati sehingga anak tetap dapat menggunakan energi untuk beraktivitas.

Berpuasa mengajarkan anak untuk disiplin dan mampu mengendalikan diri. (Foto: Shutterstock)

Pada dasarnya, kebutuhan nutrisi anak tetap sama saat berpuasa, hanya waktu pemberiannya saja yang berbeda. Agar asupan nutrisi tak berkurang dalam masa tumbuh kembang anak, ibu dapat memenuhinya dengan mengoptimalkan asupan makannya dengan makanan seimbang saat sahur dan berbuka puasa.

Saat sahur, Ibu sebaiknya menyiapkan makanan yang bisa menjaga kadar gula darah tetap stabil dengan lebih lama, berupa karbohidrat kompleks dengan kadar indeks glikemik rendah hingga sedang seperti nasi merah, ubi, roti gandum, atau oatmeal. Lengkapi dengan sumber protein hewani dan nabati (tempe, tahu dan kacang-kacangan), serat (buah dan sayur), serta lemak. Susu sebagai sumber protein yang juga mengandung lemak dan karbohidrat, juga bisa diberikan untuk membantu anak merasa kenyang lebih lama5.

Sementara saat berbuka puasa, Ibu dapat memberikan anak makanan dengan kadar indeks glikemik yang lebih tinggi, untuk meningkatkan kadar gulanya dengan waktu yang lebih cepat. Makanan tersebut misalnya nasi putih, kentang, roti putih, dan kurma4. Tetap lengkapi makan buka puasanya dengan protein nabati dan hewani, lemak, serta serat, ya, Bu.

 


 

  1. Titis Prawitasari. (2015). Mempersiapkan Anak Berpuasa. Retrieved from http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/mempersiapkan-anak-berpuasa [Accessed March 21, 2020]
  2. Abdulaziz Farooq, et al. (2015). A Prospective Study of the Physiological and Neurobehavioral Effects of Ramadan Fasting in Preteen and Teenage Boys. Retrieved from https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S221226721500163X [Accessed March 21, 2020]
  3. Zakari Ali and Abdul-Razak Abizari. (2018). Ramadan fasting alters food patterns, dietary diversity and body weight among Ghanaian adolescents. Retrieved from https://nutritionj.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12937-018-0386-2 [Accessed March 21, 2020]
  4. Pravil K. Vayalil. (2012). Date Fruits (Phoenix dactylifera Linn): An Emerging Medicinal Food. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/51980791_Date_Fruits_Phoenix_dactylifera_Linn_An_Emerging_Medicinal_Food [Accessed March 22, 2020]
  5. Frank Rowland Dunshea et al. (2007). Dairy proteins and the control of satiety and obesity. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/240507810_Dairy_proteins_and_the_control_of_satiety_and_obesity [Accessed March 28, 2020]