kandungan-gizi-susu-kedelai

4 Manfaat Kandungan Gizi Susu Kedelai untuk Daya Tahan Tubuh

detail-fb detail-wa detail-twitter

Susu kedelai sudah umum digunakan sebagai alternatif pengganti susu sapi, terutama bagi anak-anak yang memiliki riwayat tidak cocok susu sapi dan yang memilih untuk mengonsumsi susu nabati. Ada banyak kandungan gizi susu kedelai bagi tubuh, sebagai sumber protein nabati yang berperan penting dalam pertumbuhan tinggi badan hingga meningkatkan fungsi otak.

Simak lebih lengkap yuk, Bu. Berikut 4 manfaat susu kedelai beserta kandungan gizi yang terdapat di dalamnya!

1. Membantu Si Kecil Tumbuh Tinggi

Kedelai sudah dikonsumsi masyarakat Asia ribuan tahun lalu dalam berbagai bentuk, mulai dari tahu, tempe, kecap, tauco, hingga susu kedelai. Bahkan jenis kacang-kacangan asli Asia Timur ini sudah digunakan dalam makanan anak-anak selama lebih dari 2.000 tahun1.

Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Alergi Susu Sapi

Kandungan protein kedelai cukup tinggi. Dalam 100 g kedelai, memiliki kandungan protein sebanyak 36.49 g1. Salah satu peran protein bagi tubuh adalah untuk mendukung pertumbuhan optimal tinggi badan si Kecil, serta menjaga kesehatan dan perkembangannya2.  

Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan jumlah protein yang dibutuhkan si Kecil setiap hari adalah sebagai berikut3

  • Usia 0—5 bulan: membutuhkan 9 g protein 
  • Usia 6—11 bulan: membutuhkan 15 g protein 
  • Usia 1—3 tahun: membutuhkan 20 g protein

Dengan demikian, pastikan Ibu mencukupi kebutuhan protein nabati hariannya, ya, Bu.

2. Mendukung Pencernaan agar Lebih Baik

Serat berperan penting dalam mendukung pencernaan si Kecil. Asupan serat yang cukup pada anak dapat menurunkan risiko sembelit, obesitas, hingga diabetes5. Berdasarkan data dari AKG Kementerian Kesehatan Indonesia, serat yang dibutuhkan oleh anak berusia 6—11 bulan adalah sebanyak 11 g sehari, sedangkan anak berusia 1—3 tahun membutuhkan serat sebanyak 19 g sehari3. Pada anak usia 4-6 tahun, kebutuhan serat meningkat menjadi 20 g sehari4. Buah-buahan utuh dan segar dengan jumlah yang cukup bisa dijadikan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan serat8. Misalnya, apel memiliki kandungan serat 2,4 g, artinya untuk memenuhi 20 g serat ini setara dengan mengonsumsi 8 buah apel, 2-3 buah alpukat atau 4 buah jambu biji8.

Baca Juga: Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak

Sayangnya, menurut penelitian Feeding Infants and Toddlers Study (FITS) tahun 2016, tak sampai 10% anak dari usia 12-47 bulan yang kebutuhan seratnya sudah terpenuhi5. Sedangkan di Indonesia, menurut Prof. DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc, Ahli Nutrisi dari Fakultas Kedokteran UI dalam acara Peluncuran Kampanye Jam Makan Serat oleh Bebeclub pada 3 Juni 2021 mengatakan bahwa 9 dari 10 anak Indonesia belum terpenuhi kebutuhan seratnya9. Hal ini berdasarkan penelitian pada 185 anak usia 6 bulan sampai 3 tahun di Jakarta pada tahun 2020. Namun, tidak perlu khawatir karena Ibu bisa memenuhi kebutuhan serat si Kecil dari olahan kedelai, termasuk susu kedelai yang telah diproses menjadi formula soya. Pasalnya dalam 100 g kacang kedelai terkandung 9,3 g serat1.

3. Membantu Meningkatkan Fungsi Otak

Selain protein, susu kedelai juga mengandung polyunsaturated fatty acids (PUFA) yang merupakan asam lemak dengan banyak ikatan rangkap. Termasuk di dalamnya adalah asam lemak omega-3 dan asam lemak omega-6. 

Omega-3 dan omega-6 berperan penting dalam perkembangan fungsi kognitif, ketajaman visual, kesehatan kardiovaskular dan tekanan darah, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan melindungi si Kecil terhadap alergi pada usia dini7.

4. Mempertahankan Kepadatan Tulang dan Gigi

Kalsium merupakan mineral penting yang berperan untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi5. Makin besar usia si Kecil, tentu saja kebutuhan kalsiumnya berbeda. Anak usia 1—3 tahun kebutuhan kalsiumnya adalah 650 mg per hari3.

Si Kecil bisa mendapatkan asupan kalsium dari beberapa sayuran, telur, ikan, kacang-kacangan, termasuk kedelai yang mengandung 277 mg kalsium1. Dan yang tak kalah penting, kedelai mengandung isoflavon eksklusif yang turut berfungsi sebagai antioksidan dan antikolesterol6.

Wah, ternyata banyak ya kandungan gizi susu kedelai untuk kesehatan si Kecil. Sayangnya,  tidak semua pilihan susu kedelai memiliki kandungan serat yang tinggi, terkecuali susu kedelai yang telah diubah menjadi formula soya. Formula soya berserat terbuat dari isolat protein soya yang kemudian ditambahkan kandungan serat pangan dan prebiotik seperti FOS Inulin.

Fungsi FOS Inulin adalah membantu menjaga jumlah bakteri baik dalam saluran pencernaan si Kecil agar pencernaannya sehat, dan mendukung perut hebatnya. Tak hanya itu, kandungan serat dalam formula soya juga membantu mencegah infeksi pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, menanggulangi diare, meningkatkan kesehatan tubuh dan kekuatan tulang anak.

Nutrisi formula soya bisa Ibu dapatkan dari Bebelac Gold Soya yang dilengkapi nutrisi penting seperti tinggi serat, FOS Inulin, minyak ikan, omega-3 dan omega-6, serta vitamin dan mineral lainnya yang bantu dukung tumbuh kembang optimal si kecil. Dengan nutrisi tepat dan tinggi serat, si Kecil pun akan tumbuh menjadi anak hebat di masa pertumbuhan emasnya.

 


Referensi:

  1. Elvira Verduci, Elisabetta Di Profio, Lucia Cerrato, Giulia Nuzzi, Luca Riva, Giulia Vizzari, Enza D'Auria, Maria Lorella Giannì, Gianvincenzo Zuccotti, Diego G. Peroni. 2020. Use of Soy-Based Formulas and Cow's Milk Allergy: Lights and Shadows. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7707102/   [Diakses 7 September 2021] 
  2. John W. Carbone, Stefan M. Pasiakos. 2019. Dietary Protein and Muscle Mass: Translating Science to Application and Health Benefit. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6566799/  [Diakses 1 September 2021] 
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia. Diambil dari http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf  [Diakses 1 September 2021] 
  4. Kristen Finn, Emma Jacquier, Brian Kineman, Heidi Storm, Ryan Carvalho. 2019. Nutrient intakes and sources of fiber among children with low and high dietary fiber intake: the 2016 feeding infants and toddlers study (FITS), a cross-sectional survey. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6859612/  [Diakses 2 September 2021] 
  5. Amina Bouziani, Naima Saeid, Hasnae Benkirane, Latifa Qandoussi, Youness Taboz, Asmaa El Hamdouchi, Khalid El Kari, Mohammed El Mzibri, Hassan Aguenaou. 2018. Dietary Calcium Intake in Sample of School Age Children in City of Rabat, Morocco. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5911322/  [Diakses 2 September 2021] 
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Diambil dari http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%2041%20ttg%20Pedoman%20Gizi%20Seimbang.pdf  [Diakses 2 September 2021] 
  7. Francisca Echeverría González, Rodrigo Valenzuela Báez. 2017. In Time: Importance of Omega-3 in Children’s Nutrition. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5417803/  [Diakses 2 September 2021]
Tag