bahan-makanan-anak-sekolah

3 Bahan Makanan Anak Sekolah agar Fokus Belajar di Rumah

detail-fb detail-wa detail-twitter

Ada banyak persiapan yang bisa membuat si Kecil lebih semangat untuk sekolah daring di rumah. Mulai dari membuat suasana rumah menjadi kondusif untuk belajar, hingga menyajikan makanan anak sekolah yang mendukung nutrisi otak dan tubuhnya.

Di masa seperti ini, asupan makanan dengan komposisi gizi yang tepat dan seimbang dari segi jumlah, jenis, dan frekuensi akan memperkuat benteng imunitas tubuh, sehingga anak akan mampu menangkal infeksi1. Ketika stamina si Kecil terjaga, ia pun dapat mengikuti kegiatan belajar daring dengan lancar.

Lalu, apa saja makanan anak sekolah yang bisa Ibu siapkan untuk membantu si Kecil lebih fokus belajar? Simak uraiannya berikut ini.

Bahan Makanan Bersumber Omega-3

Bukan rahasia lagi jika omega-3 merupakan asam lemak tak jenuh ganda. Selain dikenal bermanfaat untuk perkembangan otak, omega-3 juga dapat membantu mengurangi peradangan, menurunkan risiko penyakit jantung, kanker dan radang sendi, membantu menstabilkan tekanan darah, serta mendukung perkembangan dan fungsi sistem saraf2.

Anak berusia 1—3 tahun per harinya membutuhkan 0,7 mg omega-3, sedangkan anak usia 4—9 tahun membutuhkan 0,9 mg3. Omega-3 dapat ditemukan dalam beberapa bahan makanan, seperti keluarga ikan antara lain salmon, makarel, sarden, trout, serta labu madu (butternut), kenari, chia seed, flax seed2. Jika 100 g salmon fillet mengandung 2,6 g omega-3, artinya Ibu bisa memberikan 27 g salmon fillet untuk si Kecil yang berusia 1-3 tahun, dan 35 g salmon fillet4 untuk anak yang berusia 4-9 tahun.

Ibu bisa berkreasi dengan menu olahan ikan agar si Kecil tidak bosan dan tetap lahap, seperti resep nugget ikan ini. Selain disukai anak, nugget ikan bisa dijadikan lauk maupun kudapan saat jam istirahat sekolah. Langsung coba, yuk, Bu!

Baca Juga: Ide Menu Bekal Anak Sekolah

Bahan Makanan Kaya akan Kolin

Selain omega-3, salah satu cara meningkatkan konsentrasi anak adalah dengan mengonsumsi makanan kaya kolin. Kolin merupakan nutrisi penting tubuh yang dibutuhkan supaya otak, hati, dan otot bisa bekerja secara optimal5.

Tubuh manusia hanya bisa menghasilkan kolin dalam jumlah kecil sehingga diperlukan tambahan makanan kaya kolin untuk mencukupi kebutuhan jumlah kolin harian. Makanan yang mengandung kolin adalah hati ayam, telur, jamur shitake, daging ayam, daging sapi, bibit gandum, dan susu. Selain itu, sayuran seperti kubis, kol, sawi hijau, brokoli, serta kacang-kacangan tertentu seperti almond juga merupakan sumber kolin yang baik5.

Untuk menambah ide menu harian, Ibu bisa mencoba resep telur panggang brokoli sebagai sarapan anak sebelum sekolah. Bahan utama yang dibutuhkan adalah telur, brokoli, dan irisan sosis sapi. Campur semuanya dengan bawang bombay cincang, garam, gula, dan merica. Panggang dalam cetakan takoyaki hingga matang. Bentuknya yang berbeda dari telur dadar pada umumnya akan menambah ketertarikan si Kecil.

Bahan Makanan yang Tinggi Vitamin D

Suplemen vitamin D adalah salah satu primadona dan banyak dicari saat ini. Hal ini karena vitamin D memiliki sifat antiinflamasi, antioksidan, dan melindungi sistem saraf pusat. Tidak hanya itu, vitamin D juga berperan meningkatkan faktor pertumbuhan saraf yang selanjutnya berpengaruh pada meningkatnya kesehatan otak sebagai pusat berpikir6.

Baca Juga: Ketahui Porsi Bekal Anak Sekolah

Kebutuhan harian vitamin D pada anak usia 4—9 tahun adalah sebanyak 15 mikrogram3. Nah, untuk melengkapi kebutuhan vitamin D pada anak, Ibu bisa memberikan makanan sumber vitamin D seperti jamur, hati sapi, ikan berlemak, kuning telur, produk olahan susu seperti keju7.

Sebagai referensi, Ibu bisa menyajikan sandwich jamur untuk sarapan sebelum si Kecil sekolah daring. Dibuat dari jamur tiram suwir yang ditumis dengan kecap asin, saus tomat dan susu Bebelac yang telah dilarutkan dengan air hangat. Panggang roti dengan olesan margarin. Tambahkan selada dan masukan tumisan jamur ke dalam roti. Dijamin nikmat, perut kenyang, si Kecil pun duduk tenang.

Setelah mengetahui bahan-bahan makanan anak sekolah, saatnya Ibu berkreasi membuat menu yang lezat dan menggugah selera. Untuk memudahkan memasak, Ibu bisa membuat meal plan sehingga menu yang disajikan bisa beragam dan anak pun terus lahap menyantapnya.

Tidak lupa, Ibu juga bisa berikan Bebelac 5 dua gelas sehari untuk si Kecil. Tahukah Ibu  jika Bebelac 5 diperkaya dengan minyak ikan yang kaya akan omega-3 & omega-6, serat pangan inulin, serta 13 vitamin dan 5 mineral yang diperlukan si Kecil. Asupan harian yang bernutrisi dapat mendukung pencernaan anak terjaga baik (happy tummy), sehingga suasana hatinya tetap gembira (happy heart) dan ia dapat berpikir lebih optimal (happy brain) selama kegiatan belajar daring di rumah.


Referensi

  1. Maria Galuh Kamenyangan Sari, SpA., MKes. 2020. Nutrisi pada Bayi dan Batita di Era New Normal Pandemi Covid 19. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/nutrisi-pada-bayi-dan-batita-di-era-new-normal-pandemi-covid-19   [Diakses 26 Agustus 2021]
  2. Maria Alessandra Gammone, Graziano Riccioni,1,2 Gaspare Parrinello,3 and Nicolantonio D’Orazio. 2018. Omega-3 Polyunsaturated Fatty Acids: Benefits and Endpoints in Sport. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6357022/  [Diakses 26 Agustus 2021]
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia. Diambil dari http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf  [Diakses 26 Agustus 2021]
  4. Baukje de Roos, Sharon Wood, David Bremner, Shabina Bashir, Monica B. Betancor, William D. Fraser, Susan J. Duthie, Graham W. Horgan, Alan A. Sneddon. 2020. The nutritional and cardiovascular health benefits of rapeseed oil-fed farmed salmon in humans are not decreased compared with those of traditionally farmed salmon: a randomized controlled trial. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8137615/   [Diakses 23 September 2021]
  5. Taylor C. Wallace, PhD, CFS, FACN, Jan Krzysztof Blusztajn, PhD, Marie A. Caudill, PhD, RD, Kevin C. Klatt, MS, Elana Natker, MS, RD, Steven H. Zeisel, MD, PhD, and Kathleen M. Zelman, MPH, RD, LD. 2018. Choline. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6259877/  [Diakses 26 Agustus 2021]
  6. Sadia Sultan, Uzma Taimuri, Shatha Abdulrzzaq Basnan, Waad Khalid Ai-Orabi, Afaf Awadallah, Fatimah Almowald, and Amira Hazazi. 2020. Low Vitamin D and Its Association with Cognitive Impairment and Dementia.  Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7210535/  [Diakses 26 Agustus 2021]
  7. National Institutes of Health. 2021. Vitamin D Fact Sheet for Health Professionals. Diambil dari https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminD-HealthProfessional/ [Diakses 26 Agustus 2021]

 

Tag