tips-belajar-baca-anak-sesuai-usia

Ini Dia 3 Tahapan Belajar Baca Anak Sesuai Usia

detail-fb detail-wa detail-twitter

Belajar baca anak bisa dimulai sejak dini lho, Bu, bahkan sebelum ia duduk di bangku sekolah. Tujuannya bukan hanya membuat si Kecil fasih mengeja huruf dan membaca. Tapi lebih dari itu, yaitu untuk menumbuhkan budaya berpikir dan menelaah teks, yang pada akhirnya bisa meningkatkan kecakapan berpikir1.

Jadi, sebelum si Kecil masuk sekolah, tidak ada salahnya Ibu mulai melatih keterampilan membacanya. Berikut adalah sejumlah tahapan belajar membaca yang menyenangkan sekaligus bisa meningkatkan kemampuan belajar baca anak sesuai dengan usianya. Simak yuk, Bu!

Belajar Baca Anak Usia 1-3 Tahun: Mengenal Alfabet

Usia 1-3 tahun adalah tahap awal membaca. Namun, harus juga diperhatikan apa yang menjadi kesukannya agar ia tak cepat bosan saat belajar membacar. Nah, anak-anak pada rentang usia ini biasanya senang mengeksplorasi buku-buku dengan beragam tekstur, bergambar, dan berwarna menarik seputar hewan dan tumbuhan, mencium baunya, serta menyentuhnya langsung2

Tahap ini disebut juga tahap fantasi, yang artinya anak akan menjadikan buku sebagai media bermain yang menyenangkan. Maka jangan heran jika si Kecil akan menikmati waktu membuka-buka halaman buku sambil membawanya ke sana kemari3.

Ibu bisa menyediakan buku dengan jenis soft book yang empuk dan tidak mudah robek. Ada beberapa soft book berisi plastik yang bila disentuh menimbulkan bunyi khas. Ada pula yang dilengkapi dengan boneka tangan dan beragam material yang aman untuk anak dengan variasi tekstur, baik kasar maupun lembut untuk menstimulasi sensorinya.

Selain itu, Ibu juga bisa menambahkan board book tentang pengenalan alfabet. Biasanya, satu halaman board book hanya berisi sebuah huruf dengan warna menarik agar lebih mudah diingat anak, seperti yang bisa dilihat pada buku The Very Hungry Caterpillar's ABC (The World of Eric Carle). 

Bila si Kecil mulai menunjukkan tanda bosan dan sulit berkonsentrasi, Ibu bisa  mengombinasikannya dengan permainan. Contohnya bisa sangat sederhana seperti menebak kata yang ada di bukunya, misal gambar sapi, ibu bisa menutup gambar dan meminta si Kecil membaca kata sa-pi di bukunya. Selain itu, Ibu juga bisa menyanyikan lagu ABC atau lagu kesukaan anak lainnya, sehingga kegiatan literasi akan tetap menyenangkan untuk anak.

Belajar Baca Anak Usia 3-5 Tahun: Mengeja Suku Kata

Pada tahap ini, si Kecil sudah bisa memilih buku kesukaannya dan minta dibacakan berulang-ulang. Ia juga akan memperhatikan setiap kata yang Ibu bacakan dan sering membuka buku-buku, lalu bermain membaca menirukan Ibu2.

Ini adalah tahap yang disebut tahap pembentukan konsep diri. Si Kecil akan berpura-pura membaca buku dan memahami gambar berdasarkan pengalaman yang ia peroleh bersama Ibu saat membaca buku bersama. Ia bisa jadi akan menyebutkan kata-kata yang seolah-olah bisa ia baca, padahal kata itu mungkin tidak ada di dalam buku3. Gemas ya, Bu.

Selain itu, si Kecil juga senang mengingat teks dengan rima pengulangan, seperti pada lirik lagu “Kring-kring Ada Sepeda” berikut: tok-tok-tok suara sepatu, sepatuku kulit lembu, kudapat dari Ibu karena rajin membantu2. Nah, momen ini dapat Ibu gunakan untuk menambah kosakata dan keterampilan membacanya. Untuk mendukung belajar baca anak, Ibu bisa mencontohkan mengeja kata-kata yang ditemukan di buku dan memiliki bunyi suku kata sama, seperti buku dengan susu, atau papa dengan mama. Ucapkan dengan intonasi yang agak lambat agar mudah dicerna anak, ya, Bu1.

Mengingat si Kecil sedang senang meniru, Ibu dapat membaca dengan suara lantang dan jelas, serta dengan intonasi dan tanda baca yang tepat. Selain itu, Ibu juga boleh lho berimprovisasi dengan bermain peran sesuai tokoh buku yang sedang dibaca anak. Ia akan makin tertarik karena imajinasinya terangsang. 

Belajar Baca Anak Usia 6 Tahun Menjelang SD: Menambah Kosakata

“Ma, gurita ternyata punya sembilan otak, lho. Wah keren sekali ya, Ma!” seru si Kecil sambil memegang buku bergambar gurita.

Nah, bila Ibu mulai mendengar celoteh seperti ini, artinya anak sudah memahami kata-kata yang ia baca atau dengar. Dengan demikian, secara sederhana ia sudah mampu menceritakan kembali kisah atau informasi yang ia baca di buku, maupun peristiwa yang baru terjadi2

Pada tahap ini, Ibu bisa menambah tabungan kosakatanya dengan membacakan buku cerita berunsur humor yang disampaikan melalui tokoh yang lucu. Ceritanya bisa tentang kegiatan sehari-hari, seperti mandi dan menggosok gigi, atau permasalahan khas yang dihadapi anak seperti berbagi makanan1.

Buku seperti Wortel-Wortel Weli (Eni Priyani, 2019) menyajikan kosakata berpikir secara berulang sebelum si tokoh utama melakukan suatu kegiatan. Ada juga buku berjudul Petualangan Menuju Hutan (Tria Ayu, 2019) yang menggunakan kata yang serupa tapi tak sama seperti “menyerang” dan “mengincar” dengan ilustrasi pendukung, yang bisa Ibu diskusikan bersama anak.

Jika Ibu bertanya-tanya, apakah membacakan buku efektif dalam menambah kosakata anak? Tentu saja, Bu! Menurut penelitian, orang tua yang membacakan anaknya 1 buku bergambar setiap hari, berarti dalam setahun telah memperkenalkan anaknya pada 78.000 kata4. Wow! Jadi makin semangat menabung kosakata untuk anak ya, Bu. 

Setelah semua yang Ibu lakukan untuk mendukung kemampuan belajar baca anak di atas, jangan lupa untuk memberikan makanan serta minuman yang kaya akan gizi. Tak lupa lengkapi pila dengan segelas Bebelac 5 tiga kali sehari demi melengkapi kebutuhan nutrisi si Kecil. 

Seperti Ibu ketahui, Bebelac 5 dilengkapi nutrisi penting, yaitu minyak ikan yang kaya Omega 3 dan 6, zat besi dan kolin, serta beragam vitamin dan mineral. Nah dengan tambahan vitamin dan mineral, tentunya selain menu makanan kaya gizi lainnya akan mendukung fokus dan konsentrasi anak usia saat belajar. Asupan nutrisi yang cukup akan menjadikan si Kecil tumbuh optimal karena dengan dukungan pencernaan yang baik (happy tummy), akan membuat mood-nya lebih baik (happy heart) sehingga ia bisa berpikir dan belajar lebih maksimal (happy brain).


Referensi

  1. Sofie Dewayani. 2019. Model Pembelajaran Literasi Untuk Jenjang Prabaca dan Pembaca Dini. Diambil dari http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/Model%20Pembelajaran%20Literasi%20untuk%20Jenjang%20Prabaca.pdf   [Diakses 15 Juni 2021] 
  2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2020. Bermain Bahasa di Rumah Dalam Melaksanakan Belajar Dari Rumah. Diambil dari https://anggunpaud.kemdikbud.go.id/images/upload/images/2020/12_buku_BDR/Bermain_Bahasa_di_Rumah.pdf  [Diakses 15 Juni 2021]  
  3. Mukhamad Hamid Samiaji. 2018. Kenali Tahapan Kemampuan Membaca Anak Usia Dini. Diambil dari https://anggunpaud.kemdikbud.go.id/index.php/berita/index/20180127015013/Kenali-Tahapan-Kemampuan-Membaca-Anak-Usia-Dini  [Diakses 16 Juni 2021]  
  4. Jessica A R Loganet al. 2019. When Children Are Not Read to at Home: The Million Word Gap. Diambil dari https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30908424/  [Diakses 16 Juni 2021]