Kembali ke Kehamilan

7 Jenis Makanan yang Harus Dihindari Saat Hamil Muda

Sejak mendapati dua garis biru di test pack dan dinyatakan positif hamil oleh dokter, Ibu tentu ingin memberikan yang terbaik bagi si Ke...

4 min
18 Feb 2022
Sayuran yang tidak dicuci termasuk salah satu makanan yang harus dihindari saat hamil muda.

Artikel ini belum diulas

Sejak mendapati dua garis biru di test pack dan dinyatakan positif hamil oleh dokter, Ibu tentu ingin memberikan yang terbaik bagi si Kecil. Salah satunya dengan menjaga pilihan makanan. Ibu akan memilih makanan sehat yang mendukung tumbuh kembang janin, dan menghindari sejumlah makanan dan minuman yang Ibu tahu sebaiknya tidak dikonsumsi saat hamil. Apa saja daftar makanan yang harus dihindari saat hamil muda? Berikut ulasannya.

Makanan yang Harus Dihindari Saat Hamil Muda

Steak dengan tingkat kematangan medium harus dihindari oleh ibu hamil

Apapun yang dikonsumsi oleh ibu hamil akan memengaruhi janin di dalam kandungannya. Ada makanan yang bermanfaat untuk tumbuh kembang janin, dan sebaliknya, ada pula makanan yang justru membahayakan kesehatan janin, sehingga perlu dihindari oleh ibu hamil.1

Tujuh makanan (dan minuman) yang akan disebutkan di bawah ini sebaiknya dihindari saat hamil muda, karena diduga dapat menimbulkan efek kurang baik bagi janin di dalam kandungan.

1. Makanan laut yang tinggi merkuri

Makanan laut dapat menjadi sumber protein yang baik. Bahkan, beberapa jenis ikan mengandung asam lemak omega-3 yang sangat baik untuk perkembangan otak bayi, termasuk IQ dan kemampuan komunikasi. Namun sayangnya, beberapa jenis ikan dan kerang mengandung kadar merkuri tinggi, yang berpotensi membahayakan sistem saraf janin yang sedang berkembang.1

Apa saja jenis ikan dan makanan laut yang mengandung merkuri tinggi? Di antaranya adalah ikan todak, king mackerel, marlin, dan tuna mata besar. Namun, jenis ikan di atas memang jarang ditemui di Indonesia. Sedangkan di pasaran Indonesia, makanan laut yang tinggi merkuri dan cukup banyak dikonsumsi, di antaranya adalah ikan Tenggiri, ikan Kembung, ikan Salem, dan cumi-cumi.1,2

Penelitian memang menunjukkan risiko yang rendah akibat paparan merkuri dari makanan laut. Meski begitu, ada baiknya Ibu menghindari, atau setidaknya membatasi dulu jenis-jenis ikan dan makanan laut yang disebutkan di atas, ya.1

2. Makanan laut mentah atau kurang matang

Apakah Ibu penggemar sushi atau sashimi? Jika ya, untuk sementara, hindari dulu mengonsumsi makanan favorit satu ini saat sedang hamil, ya. Terutama sashimi dan sushi yang menggunakan ikan mentah. Makanan laut yang mentah atau tidak dimasak hingga matang besar kemungkinan mengandung bakteri atau virus yang berbahaya bagi janin, salah satunya Listeria monocytogenes.3

Pada orang yang sehat, infeksi Listeria monocytogenes tidak menunjukkan gejala, atau hanya mengalami gejala ringan seperti demam, sakit kepala, dan diare. Tapi pada ibu hamil, infeksi bakteri Listeria monocytogenes dapat menyebabkan persalinan prematur,keguguran, hingga infeksi pada janin.3

Selain sushi dan sashimi, sebaiknya Ibu juga hindari konsumsi ikan atau makanan laut yang dibakar atau diasap, karena besar kemungkinan belum matang dengan sempurna. Jika Ibu tetap ingin mengonsumsi makanan laut, pastikan untuk memasaknya dengan benar hingga matang sempurna, ya.3

3. Daging dan unggas yang kurang matang

Sama halnya seperti makanan laut, Ibu juga harus menghindari daging, unggas, dan telur yang kurang matang. Misalnya steak yang dimasak dengan tingkat kematangan rare atau medium. 

Protein hewani yang dimasak tidak matang sepenuhnya kemungkinan besar masih mengandung bakteri Listeria yang berbahaya bagi janin. Selain itu, ada pula ancaman parasit Toxoplasma gondii yang dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, cacat pada janin, keguguran, hingga kematian janin.4

Bukan cuma daging sapi, tetapi Ibu juga harus menghindari daging ayam, burung, kalkun, hingga bebek yang dimasak setengah matang. Usahakan untuk memasak daging sampai matang sempurna, sampai tidak ada lagi cairan merahnya. Jika perlu, gunakan termometer masak untuk memastikan tingkat kematangan daging.4

4. Telur setengah matang

Jika Ibu suka sarapan dengan telur rebus setengah matang, atau lebih suka membuat telur mata sapi dengan bagian kuning yang masih berair, kini tinggalkan dulu kebiasaan itu. Telur yang belum matang umumnya masih mengandung Salmonella, bakteri patogen yang berasal dari kotoran ayam.5

Telur merupakan sumber Salmonella, bakteri patogen yang berasal dari kotoran ayam. Salmonella yang berbahaya contohnya S. typhimurium penyebab tifus, kemudian ada pula Salmonella enteritidis yang dapat mengakibatkan sakit perut hingga diare.5

Jadi, pastikan memasak telur sampai bagian kuning dan putih telur mengeras. Hindari juga makanan yang dibuat dari telur mentah atau setengah matang, ya, seperti adonan kue mentah, dan mayones.5

5. Susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi

Pastikan ibu hamil hanya mengonsumsi susu yang dipasteurisasi, ya.

Susu termasuk minuman sehat yang baik dikonsumsi ibu hamil. Tapi, jangan sembarang minum susu, ya. Susu hewani yang masih mentah dan belum dipasteurisasi termasuk dalam minuman yang dilarang untuk ibu hamil, karena berisiko tinggi mengandung bakteri Listeria dan parasit Toxoplasma gondii.4

Ibu hamil yang terinfeksi parasit Toksoplasma dapat menularkan infeksinya ke janin melalui plasenta ke dalam aliran darah janin. Infeksi Toksoplasma pada kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, hingga kematian janin.4

Selain susu, hindari juga produk susu yang tidak dipasteurisasi, seperti keju lunak. Jenis keju lunak di antaranya keju brie, feta, dan keju biru, kecuali jika diberi label yang jelas sebagai produk yang dibuat dari susu yang dipasteurisasi.4

6. Buah dan sayuran yang tidak dicuci

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Jika parasit ini menginfeksi ibu hamil, parasit dapat ditularkan melalui plasenta ke janin, mengakibatkan kondisi toksoplasmosis bawaan, yang dapat memiliki konsekuensi serius berupa kelainan pada bayi yang dilahirkan, seperti hidrosefalus, mata juling, kebutaan, atau epilepsi.6

Untuk menghilangkan bakteri berbahaya, cuci bersih semua buah dan sayuran mentah. Hindari mengonsumsi sayuran mentah dalam bentuk apapun, seperti lalap atau salad, karena mungkin mengandung bakteri penyebab penyakit. Pastikan Ibu memasak sayuran hingga matang, ya.6

7. Alkohol

Ketika dinyatakan hamil, Ibu sebaiknya berhenti mengkonsumsi alkohol sama sekali. Meski dalam jumlah kecil, alkohol dapat mengganggu perkembangan janin dan menimbulkan serangkaian masalah kesehatan, salah satunya fetal alcohol syndrome. Ini adalah sindrom yang dapat menyebabkan kelainan bentuk wajah, kelainan jantung, dan keterbelakangan mental anak sejak dalam kandungan. Tak hanya itu, konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan potensi keguguran.7

Baca Juga: Resep Spaghetti Sehat Ala Ibu Hamil

Nah, setelah Ibu mengetahui jenis makanan yang harus dihindari saat hamil muda, pastikan untuk menghindarinya, terutama di trimester pertama kehamilan, ya, Bu.


Reference: 

  1. Carolyn T. Bramante, et al. 2018. Fish Consumption During Pregnancy. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov [Diakses 6 Februari 2022] 

  1. Suratno, et al. 2016. Kandungan Merkuri dalam Ikan Konsumsi di Wilayah Bantul dan Yogyakarta. Diambil dari: https://oldi.lipi.go.id [Diakses 6 Februari 2022] 

  1. Marsha Taylor, et al. 2012. Pregnant women’s knowledge, practices, and needs related to food safety and listeriosis. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov  [Diakses 6 Februari 2022] 

  1. Mojca Jevšnik, et al. 2021. Food Safety Knowledge and Practices of Pregnant Women and Postpartum Mothers in Slovenia. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov [Diakses 6 Februari 2022] 

  1. Elvira Syamsir. 2019. Jangan mengkonsumsi telur mentah atau telur setengah matang. Diambil dari: http://seafast.ipb.ac.id  [Diakses 6 Februari 2022] 

  1. Shahnaz Akhtar Chaudhry, et al. 2014. Toxoplasmosis and pregnancy. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov [Diakses 6 Februari 2022]

  2. Katherine Dejong, et al. 2020. Alcohol Use in Pregnancy. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov [Diakses 6 Februari 2022]



Artikel Terkait