potty training
Tips & Advice Balita

Ini Tips Potty Training untuk Si Kecil

Potty training atau latihan buang air di toilet merupakan salah satu keterampilan yang penting untuk diperkenalkan pada Si Kecil. Meski tidak mudah dan membutuhkan kesabaran dari orangtua, potty training bisa kok dilakukan sejak dini. Ya, kuncinya hanyalah waktu dan kesabaran.

Mengapa waktu? Sebab, kesuksesan potty training biasanya akan bergantung pada pencapaian fisik, perkembangan, dan perilaku, bukanlah usia. Banyak anak-anak yang menunjukkan tanda kesiapan untuk potty training antara usia 18-24 bulan. Namun, beberapa anak lainnya mungkin belum siap hingga mereka berusia 3 tahun. Dalam hal ini, penting untuk diingat bahwa latihan ini tidak perlu dilakukan dengan buru-buru. Jika memulainya terlalu dini, mungkin akan perlu waktu lebih lama untuk melatih Si Kecil.

Lantas, bagaimana orangtua bisa tahu waktu yang tepat untuk mengajarkan Si Kecil buang air kecil di toilet? Beberapa daftar pertanyaan terkait kemampuan dan kebiasaan anak berikut mungkin perlu dicek:

1. Bisakah anak berjalan dan duduk di toilet?

2. Bisakah anak membuka dan memakai celananya sendiri tanpa bantuan?

3. Bisakah anak memahami dan mengikuti arahan dasar?

4. Dapatkah anak berkomunikasi atau mengatakan ketika ingin buang air?

5. Apakah anak tampak tertarik menggunakan toilet?

Jika sebagian besar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah iya, anak mungkin sudah siap. Sebaliknya, jika sebagian besar tidak, mungkin orangtua perlu menunggu. Tidak hanya anak, kesiapan orangtua juga penting. Cobalah untuk tidak menyamakan keberhasilan potty training anak dengan anak lain seusianya yang mungkin sudah mahir menggunakan toilet.

Potty Training Dimulai!

Ketika anak sudah memperlihatkan kesiapan untuk melakukan potty training, beberapa langkah berikut sebaiknya mulai dilakukan:

1. Perkenalkan Peralatannya Dahulu

Langkah kecil pertama yang perlu dilakukan adalah memperkenalkan peralatan untuk buang air, seperti kursi pispot, tisu, atau handuk kecil. Satu per satu, jelaskanlah fungsi dari benda-benda tersebut dan bagaimana menggunakannya. Gunakan istilah yang sederhana dan positif ketika mengenalkan berbagai hal tentang toilet. Setelah mengenal peralatannya, ibu bisa perlahan mengenalkan aturan-aturan ketika menggunakan toilet, seperti menyiramnya setelah selesai buang air.

2. Lakukan Simulasi Menggunakan Pispot

Setelah anak mengenal benda-benda yang biasa ada di toilet dan bagaimana menggunakannya, langkah selanjutnya adalah melakukan simulasi menggunakan pispot. Bantu anak untuk mengenali sinyal tubuh ketika hendak buang air dan ajarkan untuk langsung meninggalkan segala aktivitasnya saat itu untuk menuju ke toilet. Tuntun ia untuk duduk dengan benar dan nyaman di pispot, sambil jelaskan kembali tentang tata cara buang air dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Pada awalnya, mungkin Si Kecil akan merasa aneh dan tidak nyaman duduk di atas pispot, tetapi ibu perlu bersabar dan terus membimbingnya agar terbiasa.

3. Jelaskan tentang Kebersihan

Langkah selanjutnya adalah mengajarkan tentang kebersihan. Hal ini merupakan yang paling penting dan ibu perlu mengingatkan tentang hal ini berkali-kali pada Si Kecil. Ajarkan ia untuk membasuh area genitalnya usai buang air, dan selalu cuci tangan setelahnya. Khusus untuk anak perempuan, ajarkan untuk membersihkan diri dengan hati-hati, dari arah depan ke belakang, untuk mencegah masuknya kuman dan bakteri ke dalam area genitalnya.

Itu lah beberapa tips mengajarkan potty training pada anak. Perlu diperhatikan bahwa dalam melakukan langkah-langkah tersebut, diperlukan kesabaran dan ketelatenan ekstra. Selama proses potty training, pakaikanlah Si Kecil baju dan celana yang longgar dan mudah untuk dibuka. Namun, jika Si Kecil menunjukkan penolakan, sebaiknya janganlah dipaksa dan lakukan lagi beberapa waktu kemudian.