Alternate Text
stres saat hamil
Tips & Advice Pre-Kehamilan

Jika Ibu Stres Saat Mengandung

Masa kehamilan memang bisa dipenuhi oleh hal-hal yang bikin stres. Kadang-kadang saat hamil, ibu bisa digelisahkan oleh berbagai macam hal, mulai dari kondisi kesehatan Si Kecil di dalam kandungan, kecemasan menghadapi proses persalinan, dan pemikiran apakah bisa menjadi ibu yang baik nantinya. Belum lagi ditambah dengan sejumlah ketidaknyamanan yang akan ibu hamil rasakan akibat perubahan hormon. Semuanya itu bisa membuat ibu hamil menjadi stres. Sebenarnya stres saat hamil wajar saja. Namun, jangan sampai rasa stres ini berlangsung terlalu lama, karena dapat memberi dampak buruk terhadap kondisi janin.

Periode perkembangan janin selama berada di dalam kandungan merupakan periode yang sangat penting. Itulah sebabnya ibu hamil perlu menjaga kehamilannya sebaik mungkin agar janin dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Selain menjalani pola hidup sehat, ibu hamil juga perlu menjaga emosinya dengan baik. Hal ini karena berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa keadaan emosi ibu selama masa kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak bayi.

Ini yang Terjadi Saat Ibu Hamil Stres

Ketika merasa stres, tubuh ibu secara alami akan melepaskan hormon kortisol dan hormon lainnya. Nah, paparan hormon kortisol dalam jumlah yang tinggi dalam cairan ketuban inilah yang bisa menyebabkan menurunnya fungsi kognitif pada anak. Baru-baru ini juga ditemukan bahwa rasa cemas ibu hamil berkaitan dengan menurunnya fungsi plasenta. Penurunan enzim juga terjadi saat ibu hamil merasa stres. Akibatnya, enzim tidak mampu memecah kortisol sehingga akhirnya akan ada lebih banyak kortisol yang masuk melewati plasenta dan memengaruhi perkembangan janin.

Dampak Stres saat Hamil pada Janin

Saat hamil, terjadi semacam “pemrograman janin” atau fetal programming, di mana stimulasi atau tindakan yang dilakukan ibu (termasuk emosi) selama masa kehamilan dapat memengaruhi perkembangan janin. Hal ini kemudian akan memberi dampak jangka panjang pada anak sampai dia dewasa nanti.

Nah, bila ibu merasa stres saat hamil, dikhawatirkan hal ini dapat berdampak pada kondisi fisik janin. Salah satu dampaknya adalah pertumbuhan janin akan terhambat atau kurang dari yang semestinya, sehingga janin berisiko lebih besar terkena penyakit jantung koroner atau diabetes di kemudian hari. Namun, sekarang ini juga sudah ditemukan bahwa pemrograman janin juga penting untuk perkembangan saraf di otak. Stres kronis yang dirasakan ibu selama masa kehamilan dapat berpengaruh terhadap terjadinya kelainan proses pembentukan otak janin yang dapat memicu masalah perilaku pada pertumbuhan bayi selanjutnya.

Banyak penelitian juga sudah menunjukkan bahwa ibu yang merasa stres dan cemas atau depresi saat hamil, maka anaknya berisiko tumbuh dengan mengalami berbagai masalah, termasuk masalah emosional, seperti ADHD, gangguan perilaku, dan gangguan perkembangan kognitif. Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa risiko seorang anak untuk mengembangkan masalah emosi atau tingkah laku naik berlipat ganda, dari 6 persen menjadi 12 persen bila ibunya merasa stres, cemas, ataupun depresi.

Tipe Stres Saat Hamil yang Buruk

Pertanyaan selanjutnya adalah stres seperti apa yang dapat berdampak buruk bagi janin. Walaupun ada berbagai macam tipe stres, tapi nyatanya stres mulai dari yang ringan sampai yang berat telah terbukti dapat berpengaruh terhadap anak. Ibu bisa mengalami stres dari kegelisahan tertentu saat hamil, masalah sehari-hari, peristiwa berkabung, hubungan yang buruk dengan orang lain, dan lain-lain.

Ada kemungkinan rasa cemas, stres, dan depresi yang ibu alami selama masa kehamilan bisa berlanjut sampai setelah bayi lahir. Akibatnya, hal ini akan memengaruhi cara ibu mengasuh anak. Faktor-faktor lainnya yang juga ikut berpengaruh terhadap hal ini adalah merokok, minum alkohol, dan cacat lahir turunan.

Jadi saat mengalami stres, cobalah untuk bertukar pikiran dan perasaan dengan orang lain agar ibu merasa lebih baik. Selain itu, cukupi waktu istirahat dengan rutin tidur siang dan tidur selama 8 jam di malam hari. Berolahraga juga dapat membantu memperbaiki suasana hati, sehingga ibu hamil dianjurkan untuk berolahraga secara teratur.