Alternate Text
Tips & Advice 0-6 Bulan

Ketika Susu Sapi Menyebabkan Masalah

Susu Sapi Menyebabkan Masalah pada Bayi?

Ketika usia bayi semakin bertambah dan mulai diberikan susu formula, ia menunjukkan gejala-gejala yang sangat mengkhawatirkan.  Apa yang sebenarnya terjadi pada bayi? Untuk Ibu ketahui, terdapat dua jenis penolakan tubuh terhadap susu sapi yang berupa alergi dan intoleransi. Sering kali terjadi salah persepsi bahwa alergi protein sapi dianggap sama dengan intoleransi laktosa.

Laktosa adalah "gula" yang diproduksi kelenjar susu dan terdapat pada susu mamalia, seperti sapi. Untuk mencerna laktosa, diperlukan enzim yang bernama laktase. Sebenarnya bayi dapat memproduksi laktase dalam jumlah yang besar secara alami lho Bu. Namun, bayi dengan pencernaan yang mengalami gangguan tidak dapat memproduksi laktase yang cukup.  Karena tidak dapat mencerna laktosa, maka terjadilah intoleransi laktosa dari susu sapi.

Sedangkan bayi dengan alergi susu sapi tidak dapat menerima rantai protein kompleks yang terdapat pada susu sapi. Akibatnya terjadi reaksi alergi yang ditandai dengan timbulnya beberapa gejala dalam waktu singkat (kurang dalam 1 jam), maupun dalam waktu yang cukup lama (lebih dari 1 hari).

Membandingkan dua hal tersebut yang telah dipaparkan di atas seringkali membuat banyak Ibu menjadi salah persepsi dengan apa yang sedang terjadi oleh bayi sebagai akibat dari konsumsi susu sapi. Faktanya, alergi susu sapi lebih berbahaya dibandingkan dengan intoleransi laktosa. Untuk itu mari kenali lebih dalam perbedaannya.

Alergi Susu Sapi

Tahukah Ibu bahwa alergi susu sapi adalah suatu kelainan yang cukup serius dan umum dijumpai pada bayi? Tubuh memiliki sistem kekebalan sebagai perlindungan dari bahaya infeksi. Sistem kekebalan tubuh menyerang virus dan bakteri yang dapat menyebabkan kita jatuh sakit. Dengan adanya alergi susu sapi ini, sistem kekebalan tubuh kita tidak dapat membedakan protein susu dengan virus atau bakteri, hal ini dikenal dengan istilah allergen.

Protein susu sapi juga bisa menjadi masalah bagi kekebalan tubuh yang rendah. Selain itu, alergi ini terjadi akibat saluran cerna anak yang belum berfungsi sempurna. Sehingga, protein susu sapi tidak dapat dicerna atau dipecah dengan baik dalam tubuh. Untuk itu, kenali gejalanya dan segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan saran dan cara penanganan alergi susu sapi.  Sama seperti gejala alergi terhadap jenis makanan lainnya, alergi susu sapi juga akan menyerang kulit, saluran pencernaan, dan saluran napas. Terdapat 3 pola klinis respon alergi ini pada bayi, yaitu :

  • Reaksi Cepat - Gejala akan muncul setelah 45 menit meminum susu sapi berupa bintik merah pada kulit bayi, rasa gatal, dan gangguan sistem saluran napas seperti, bersin, hidung, napas berbunyi dan mata merah.
  • Reaksi Sedang - Akan muncul setelah 45 menit - 20 jam meminum susu sapi, yang ditandai dengan muntah dan diare. 
  • Reaksi Lambat - Umumnya gejala berupa diare, konstipasi (sulit BAB), dan dermatitis (eksim kulit). Baru akan terlihat setelah lebih dari 20 jam.

Mengatasi Alergi Susu Sapi

Jangan menyepelekan gejala alergi susu sapi, karena jika tidak ada tindakan penanganan yang tepat, dapat mempengaruhi organ tubuh dan tumbuh-kembang bayi. Sebagian besar bayi memang akan melewati masa alergi susu sapi pada umur 18 bulan. Namun sebelum masa itu tersebut tiba, tindakan terbaik untuk menyikapi alergi susu sapi adalah menghindari protein susu sapi dan kedelai. Sebaiknya Ibu berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui jenis susu yang sesuai bagi bayi, karena bisa saja Ibu tidak perlu langsung menggunakan susu dengan formula asam amino.  Perlu diingat ya Bu:

  • Konsultasi dan periksakan ke dokter mengenai kondisi kesehatan bayi Ibu yang memiliki alergi susu sapi secara rutin, dan simpan riwayat kesehatannya dengan baik, agar mudah bagi Ibu untuk memantau nutrisi dan kesehatan hariannya.
  • Teliti makanan pendamping ASI dan minuman tambahan yang akan Ibu berikan, sehingga ia terhindar dari bahaya akibat reaksi alergi susu sapi.

Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa artinya tubuh tidak dapat memproduksi laktase, atau enzim yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa menjadi glukosa dan galaktosa dalam jumlah cukup.  Laktosa adalah zat gula yang terdapat dalam susu, termasuk ASI, susu sapi dan produk olahannya.  Akibatnya, laktosa yang tidak dicerna tetap berada di dalam usus bayi atau tidak diserap oleh tubuh bayi, sehingga menyebabkan gangguan pencernaan.

Lalu, apakah ASI juga dapat menyebabkan intoleransi laktosa? Jawabannya adalah YA. Tapi jangan khawatir ya Bu, karena ASI juga mengandung enzim laktase. Bayi yang diberi ASI jarang mengalami intoleransi laktosa. Kecuali, untuk bayi yang lahir secara prematur karena peningkatan kandungan enzim laktase pada ASI baru terjadi setelah kehamilan trimester ketiga. Bayi dengan intoleransi laktosa yang tetap mendapat ASI akan tumbuh dengan baik karena mendapat enzim laktase.

Berikut ini adalah ciri-ciri bayi yang mengalami intoleransi laktosa:

  • Diare dengan ciri kotoran berair dan busa.
  • Perut kembung.
  • Kram perut yang ditunjukkan dengan menangis dan mengangkat kaki seperti gejala kolik.
  • Mengeluarkan gas (kentut) terlalu sering, sekitar 30 menit sampai 2 jam setelah menyusu.

Menangani Bayi dengan Intoleransi Laktosa

Jika bayi Ibu mengalami intoleransi laktosa, lakukan langkah-langkah berikut:

  • Amati reaksi anak. Bila ia menunjukkan gejala intoleransi laktosa, segera hentikan pemberian susu tambahan.
  • Berikan susu dengan kandungan laktosa yang rendah maupun tidak mengandung laktosa sama sekali. Bila tidak menemukan susu rendah/bebas laktosa, Ibu dapat memberikan susu kedelai. Susu kedelai tidak mengandung laktosa, tapi sukrosa dan sirup jagung yang mudah dicerna, jadi aman untuk diberikan kepada bayi.
  • Membaca label. Hindari susu dan produk olahannya yang tertulis mengandung laktosa. Seringkali ada makanan mengandung laktosa yang luput dari perhatian Ibu. Makanan dengan laktosa tersembunyi ini antara lain terdapat dalam biskuit, kue, sereal olahan, saus keju, sup krim, pudding, roti, dan butter yang mengandung susu. Please pay more attention!
  • Bila anak sudah makan makanan pendamping ASI, berilah makanan yang mengandung kalsium seperti tahu, brokoli, jeruk, sawi hijau, tauge, dan kacang-kacangan agar bayi tidak kekurangan kalsium. Olah bahan-bahan makanan tersebut menjadi makanan yang menarik minat anak.

Dengan mengontrol makanan yang akan dikonsumsi anak secara bijak, tentu ia akan terus tumbuh sehat dan bahagia.