Alternate Text
cara mengatasi anak yang suka berbohong
Mom's Pedia Balita

Memahami dan Menasihati Anak yang Suka Berbohong

Pernah dengar candaan “Hal paling menyenangkan menjadi anak-anak adalah enggak perlu mengetahui benar atau salah.” Ingat, ini cuma candaan, lho. Sebab, seiring bergulirnya waktu anak-anak pun mesti mengetahui perihal konsep kebenaran.

Berbicara dunia anak-anak pastinya juga berbicara mengenai kebohongan. Hmm, namanya juga-anak-anak,hal ini wajar kok dan alasannya simpel. Sebab menurut psikiater anak, anak-anak tak tahu perbedaan antara kebenaran dan fiksi.

Anak-anak umumnya mulai berbohong ketika memasuki usia dua sampai empat tahun. Masalahnya, beberapa orangtua kadang merasa cemas, takut buah hatinya mengembangkan perilaku menyimpang di masa depan. Orangtua sebenarnya enggak perlu terlalu cemas menghadapi hal ini.

Pada kenyataannya, tindakan berbohong pada anak-anak (balitapraremaja) enggak selalu menyoal perilaku negatif. Menurut seorang Profesor Psikologi John Jay College of Criminal Justice di New York, Amerika Serikat, kebanyakan balita yang memiliki IQ tinggi cenderung berbohong.

Tindakan berbohong ini dihubungkan dengan kemampuan dan keterampilan sosial di masa remaja. Nah, dengan kata lain, berbohong merupakan tanda anak sedang mengembangkan “theory of mind” yang mengindikasikan mereka juga memiliki berbagai keinginan, perasaan, dan kepercayaan diri.

Meskipun begitu, orangtua juga mesti awas terhadap perkembangan anak. Tentu saja, enggak semua kebohongan anak-anak merupakan hal sepele yang dapat membuatmu tertawa. Sekali lagi, wajar kok anak-anak masih suka berbohong, tapi ibu mesti turun tangan bila hal tersebut sudah memasuki “zona merah”.

Cara mengatasi anak yang suka berbohong memang gampang-gampang susah. Sebab, ibu perlu melihat dari berbagai sudut pandang, alasan, hingga fase-fase perkembangan kebohongan anak.

Kenali Fase dan Alasannya

Kebohongan yang disampaikan anak berusia dua tahun, tentu berbeda dengan anak di usia empat tahun. Mulai dari isi kebohongan, penyebab, hingga alasannya pasti berbeda. Nah, dengan mengetahui jenis-jenis kebohongan anak pada setiap tahap, maka ibu akan lebih mudah untuk memahami dan mengoreksi anak sesuai usianya.

1. Balita : Awal Kebohongan 

Mungkin kamu bertanya, bagaimana bisa anak berusia dua atau tiga tahun berbohong, sebab kemampuan bicaranya pun masih belum terlalu fasih? Menurut para ahli, kebohongan yang terjadi di fase ini umumnya menyangkut hal-hal yang amat sederhana. Contohnya, mungkin mereka akan merasa keberatan atau menolak ketika kamu ingin mengecek kondisi popoknya. Alasannya sederhana, mereka enggak mau diganggu, tidak peduli dengan perubahan popoknya, ataupun malas mengganti pakaian. Oleh sebab itu, mungkin mereka akan mencari seribu satu alasan untuk meyakinkanmu kalau popoknya masih bersih. Contoh lainnya, dia berpikir untuk bersembunyi saat merusak barang, harapannya agar kamu tak mengetahui apalagi memarahinya.

Menurut seorang psikiater anak sekaligus penulis buku Raising Kids With Character, sungguh tidak masuk akal memarahi anak di usia ini karena berbohong. Sebab, mereka tidak tahu kalau dirinya telah melakukan kesalahan. Nah, cara mengatasi anak yang suka berbohong di usia ini simpel kok. Misalnya, daripada bertanya “Apa kamu memecahkan vas?”, lebih baik “Lihat, vasnya rusak,”. Kata ahli, bila kamu membuat “tuduhan” kepada anak yang disertai dengan amarah, maka yang kamu akan dapatkan hanyalah kebohongan lainnya.

2. Balita: Penuh Imajinasi 

Isi kepala anak di usia 35 tahun pastinya masih penuh dengan imajinasi. Mereka pun masih kesulitan untuk memisahkannya dengan realitas sebenarnya. Menurut para ahli, tak sedikit anak balita yang memiliki teman khayalan dan percaya kalau ada sosok peri atau monster dalam hidupnya. Nah, jangan kaget bila Si Kecil sering bercerita mengenai kisah yang tidak masuk akal seperti di atas.

Namun yang perlu diingat, meski imajinasi merupakan hal yang murni timbul sebagai salah satu caranya bermain, tapi bisa juga berupa obsesi yang sangat memengaruhinya. Lalu, tanda imajinasi seperti apa yang bisa mengganggu?

Kata ahli di atas, selama Si Kecil tidak menjadi penyendiri, tetap berhubungan baik dengan orang di sekitarnya, dan masih terlihat senang, artinya masih aman-aman saja kok.

3. Usia Sekolah: Punya Alasan Tersendiri

Pada usia sekitar 58 tahun, alasan di balik kebohongannya mulai bisa dipahami. Mereka yang berbohong di usia ini akan berupaya mencari segala macam alasan yang dapat dimengerti, bahkan dimaafkan. Dalihnya mereka takut dihukum atau mengecewakan kamu. Contohnya, seorang anak yang memiliki masalah dengan mata pelajaran matematika, mungkin akan bersikeras bahwa mereka tidak memiliki PR.

Nah, sebelum dirimu mengambil hak istimewanya untuk menonton TV atau bermain game karena berbohong, cobalah cari tahu penyebabnya. Cara mengatasi anak yang suka berbohong di usia ini, bisa dimulai dengan menanyakan alasan dan cobalah untuk mempertimbangkannya.

4. Praremaja:Tanda Menuju Keremajaan

Usia anak di fase praremaja (9 tahun ke atas) sudah mengembangkan ide-ide mengenai kebenaran dan kebohongan. Namun, batasnya tidak tegas alias masih samar-samar. Kata ahli, mereka sudah mulai kritis untuk mempertanyakan realitas yang tak mereka percayai. Enggak cuma itu,  mereka juga mulai sedikit tertutup tentang kehidupannya. Nah, hal inilah yang membuat mereka terkadang berbohong.

Akan tetapi, hal ini sekaligus menandai tumbuh kembangnya menuju keremajaan. Bukannya tanda kalau mereka mulai tak jujur atau melakukan kesalahan. Contoh kebohongan di fase ini umumnya menyangkut pekerjaan rumah, nilai ujian, dan kewajiban-kewajiban yang tak dilakukannya.

Lalu, bagaimana cara mengatasi dan menyikapi anak yang suka berbohong di fase ini? Pada tahap ini kamu dan pasangan seharusnya mulai tegas. Misalnya, tunjukan bahwa dirimu tak senang dengan sikap mereka yang tidak jujur. Selanjutnya, tanyakan alasan mengapa mereka berbohong. Ingat, jangan langsung memarahinya meski kamu yakin mereka telah berbohong.

Kata ahli, kondisi di atas justru bisa membuat anak malah bersikeras dengan kebohongannya. Solusinya, diamkan mereka terlebih dahulu, lalu carilah waktu yang tepat untuk membahasnya. Namun yang mesti ibu ingat, ajarilah anak nilai kejujuran dengan menyertai contoh agar mereka  memahaminya.