Alternate Text
Melatih-Anak-Mulai-Berkomunikasi
Tips & Advice Balita

Tips Mengembangkan Kemampuan Bahasa Anak agar Lebih Tanggap Bersosialisasi

Sudah bukan rahasia lagi bahwa untuk meraih keberhasilan dalam hidup, cerdas dan cepat tanggap saja tidaklah cukup. Untuk menjadi anak tanggap yang lengkap, orangtua juga perlu mendidik anak agar memiliki rasa peduli dan tanggap bersosialisasi. Salah satu kemampuan dasar yang penting agar bisa mendidik anak menjadi tanggap yang lengkap adalah kemampuan bahasa dan komunikasi.  Semakin berkembang kemampuan bahasa dan komunikasinya, anak dapat memahami dunia sekitarnya dengan lebih baik, berbicara dan mengekspresikan dirinya dengan lebih percaya diri, berinteraksi sosial dan membangun pertemanan dengan lebih mudah, serta mengikuti proses belajar mengajar dengan lebih lancar.

Bagaimanakah tahapan perkembangan bahasa pada anak dan stimulasi apa yang dapat orangtua lakukan untuk mendukung kemampuan bahasa anak sesuai tahapan usianya? Berikut tipsnya.

Usia 12- 18 bulan

Di usia ini, anak sudah mengenali namanya dan menoleh saat dipanggil. Saat ulang tahun pertama, biasanya si kecil mulai bisa memanggil orangtuanya dengan sebutan spesifik, dan mulai cepat meniru kata yang didengar walau tidak paham artinya. Meski belum terlalu verbal, anak memahami lebih banyak dari yang terucap. Ia dapat merespon instruksi sederhana seperti tepuk tangan atau salim, serta menggunakan bahasa tubuh untuk mengomunikasikan keinginan dan kebutuhannya, seperti menunjuk dan menggeleng. Untuk stimulasi, senantiasa kelilingi dunia anak dengan kata-kata. Manfaatkan keseharian untuk memperkaya kosa katanya. Saat mandi, sabuni bagian tubuh anak sambil berkata “ini tangan adik…ini perut…sekarang sabun kakinya yaa..” Ajarkan si kecil baby sign seperti menengadahkan tangan untuk meminta suatu barang. Katakan “mana tangan mintanya? Seperti ini yaa..”

Usia 18-24 bulan

Di usiaini, anak sudah semakin memahami dunia sekitarnya. Ia mulai membangun koneksi antara benda-benda yang ia lihat secara langsung dengan gambar-gambar, bisa menunjuk dengan tepat gambar benda familiar saat ditanyakan. Kosa katanya tunggalnya sudah semakin banyak, dan bahkan mulai bicara dengan kombinasi 2 kata seperti ‘minum susu’. Si kecil juga semakin interaktif, dapat mulai menjawab pertanyaan sederhana. Untuk stimulasi, bacakan buku setiap hari dan bermain tunjuk gambar. Pertama orangtua dapat menunjuk gambar-gambar di buku sambil menyebut namanya, lalu bergantian minta anak menunjuk gambar yang disebut. Dorong kemampuan bahasa si kecil dengan memberi pertanyaan terbuka. Daripadabertanya “kamu mau minum susu atau tidak?” tanyalah “kamu mau minum susu atau makan nasi?”

Usia 2-3 tahun

Pada usia ini terjadi lonjakan kosa kata yang besar. Si kecil menjadi semakin cepat menangkap makna kata dan belajar banyak kosa kata baru setiap harinya. Ia mulai dapat ikut bernyanyi dan menceritakan pengalamannya. Anak pun semakin interaktif dan mampu berkomunikasi dua arah. Bukan hanya memahami instruksi dan menjawab pertanyaan, ia pun semakin terdorong untuk memahami sekelilingnya dengan bertanya. Untuk stimulasi, sering-seringlah mengajak anak bernyanyi dan mengobrol. Tanggapi pertanyaan dan cerita anak, jangan matikan rasa ingin tahunya dengan melarang anak bertanya. Bisa pula dengan mengajak anak bermain “Mama berkata” dan berikan instruksi seperti “buka laci lemari dan ambil kaos kaki garis-garis”. Permainan ini juga dapat dilakukan bersama teman agar lebih tanggap bersosialisasi, contohnya “ambil kue-kue di dapur dan bagikan pada teman”.

Usia 3-6 tahun

Pada usia ini, kemampuan bahasa anak sudah semakin berkembang. Anak sudah dapat berbicara dengan kalimat-kalimat panjang, dengan kosa kata yang semakin beragam (kata benda, kata sifat, kata kerja). Anak pun mulai memahami aturan berbahasa, seperti kapan menggunakan kalimat aktif / pasif dan menyesuaikan penggunaan kata sesuai siapa yang diajak bicara. Anak juga dapat memahami cerita yang lebih kompleks bahkan membuat cerita sendiri. Untuk stimulasi, ajak anak bermain pura-pura (pretend play) bersama teman seperti bermain masak-masakan, dokter-dokteran, atau lainnya. Permainan ini sangat bermanfaat untuk menjadikan anak lebih tanggap bersosialisasi, karena anak bisa berlatih membagi peran serta mendengarkan apa yang diucapkan teman dan menanggapi dengan pernyataan yang sesuai.  Di samping itu, beri banyak kesempatan anak untuk bercerita misalnya dengan membuat pertunjukan sederhana (show and tell). Anak dapat diminta untuk bercerita di hadapan anggota keluarga maupun teman-temannya tentang mainan/ makanan favoritnya dan pengalaman liburannya.

Wah, banyak ya yang bisa orangtua lakukan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan komunikasi agar si kecil menjadi lebih cepat tanggap, memiliki rasa peduli, dan tanggap bersosialisasi. Mari kita berikan stimulasi yang tepat agar si kecil senantiasa tumbuh jadi anak hebat yang tanggap lengkap.