Alternate Text
Anak pendiam
Mom's Pedia Balita

Orangtua Tak Perlu Khawatir Jika Anak Pendiam

Sebagian anak memiliki sifat periang dan aktif. Sebagian lainnya lebih nyaman ketika diam. Sebagai orangtua, sebaiknya enggak memaksa anak pendiam untuk selalu aktif, dan juga sebaliknya.

Sebenarnya kekhawatiran tersebut tidak perlu terlalu berlebihan, mengingat masing-masing anak memiliki perbedaan baik dalam sikap, karakter dan bakatnya. Ada kalanya, kekhawatiran ini lebih kepada pengalaman orangtua yang juga mengalami hal yang sama dimana karena juga pendiam jadi mengalami kesulitan bergaul. Orangtua tidak mau anak mengalami hal yang sama sehingga mendorong anak untuk lebih aktif. Maksudnya baik, tapi kecenderungan ini membuat anak jadinya tertekan dan malah semakin tertutup.

Cara Menghadapi Anak Pendiam

Bagaimana kalau orangtua tidak usah terlalu khawatir dengan sikap pendiam anak dan lebih fokus pada bakat anak? Ada beberapa hal yang bisa orangtua terapkan terkait dengan sikap penerimaan orangtua akan sikap anak:

1. Menerima Perasaan Sendiri

Mengalami berbagai pengalaman masa lalu dan ketidakinginan anak mengalami hal yang sama pastinya menjadi keinginan semua orangtua. Namun perlu diingat, setiap anak memiliki fasenya sendiri dan jangan memaksakan kehendak. Cobalah untuk tidak menyamakan apa yang orangtua alami ketika masih anak-anak dengan apa yang anak akan alami sekarang ini. Berdamailah dengan diri sendiri, sehingga orangtua pun dapat memahami Si Kecil lebih dalam lagi.

2. Menerima Kepribadian Anak

Setelah selesai dengan menerima perasaan sendiri, penerimaan lain yang perlu dilakukan adalah menerima kepribadian anak dan jangan memaksakan apa yang tidak disukainya. Misalnya anak lebih senang membaca ketimbang bermain bola, ya biarkan saja, bisa jadi itu bakatnya anak. Yang perlu dilakukan orangtua adalah memberikan dukungan sehingga apa yang dilakukan anak bisa selalu mengarah pada hal yang positif.

3. Tunjukkan Rasa Sayang Orangtua kepada Anak

Menunjukkan rasa sayang itu penting, supaya anak tahu kalau orangtua menerima anak apa adanya. Seringlah mengatakan sayang baik secara verbal maupun non-verbal. Tunjukkan ketertarikan orangtua kepada apa yang disenangi anak. Terlibatlah dalam hal-hal yang disenangi anak sehingga membuat anak merasa tidak kesepian dan sendiri dalam menikmati kesenangannya.

4. Jangan Membandingkan Anak dengan Anak Lainnya

Membandingkan anak hanya akan membuat anak semakin tidak percaya diri dan pendiam. Perbandingan yang tidak boleh tak hanya dilakukan kepada anak yang lain seperti temannya tetapi juga kepada saudara-saudaranya. Pastikan anak bangga dengan apa yang dilakukan dan ia senangi sehingga anak bisa lebih percaya diri meski memiliki karakter yang pendiam.

5. Biarkan Anak “Berjuang” Sendiri

Pada akhirnya tugas orangtua adalah membimbing anak serta mempersiapkan anak menghadapi dunia. Ada masanya dimana orangtua harus melepas anak dan membiarkan anak “berjuang” sendiri menyelesaikan masalahnya. Justru kalau orangtua terkesan terlalu menjaga anak, anak tidak akan menjadi dewasa dan matang dalam menyelesaikan masalah.

6. Tetap Ingatkan Anak Kalau Bergaul itu Penting

Mengingatkan anak kalau bergaul itu penting juga perlu. Bagaimanapun kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Ada masanya dimana anak membutuhkan orang lain tanpa meninggalkan kesenangannya untuk lebih sering sendiri.

7. Mengajak Anak untuk Bergabung dalam Kegiatan Sosial

Bisa jadi anak menjadi pendiam karena belum mengalami asyiknya bersosialisasi. Sebagai orangtua ada baiknya melibatkan anak untuk bergabung dalam kegiatan sosial sehingga anak bisa punya pengalaman dan perbandingan antara menikmati kesendiriannya ataupun bergabung dengan kelompok pertemanan tertentu. Tidak memiliki perbandingan pengalaman saat sendiri dan tidak sendiri membuat anak tidak bisa membedakan aktivitas mana yang dia senangi. Jadi, ada baiknya memperkaya pengalaman anak supaya ia tahu mana yang paling menyenangkan buatnya.

Yang perlu dikhawatirkan dari karakter anak yang pendiam adalah kemungkinan adanya gangguan kesehatan. Beberapa tanda-tanda gangguan pada anak misalnya tidak menyahut saat dipanggil, sibuk dengan diri sendiri yang dapat mengarah ke gejala autisme, tuli, retardasi mental, dan ADHD).