Alternate Text
Kecerdasan-emosi-anak
Mom's Pedia Balita

Cerdas Emosi, Awal Dari Rasa Peduli

Dalam perkembangan emosi anak, usia-usia awal memegang peran penting bagaimana anak merespon terhadap lingkungan. Setiap anak harus melalui beberapa tahapan perkembangan emosional yang nantinya berkaitan dengan bagaimana cara ia mengendalikan dirinya dalam berinteraksi dan belajar. Menurut Erickson (1963), seorang tokoh psikologi, dalam perkembangan manusia ada tahapan-tahapan perkembangan emosional yang harus dilalui dalam membentuk anak hebat menjadi individu yang cepat tanggap, memiliki rasa peduli, dan tanggap bersosialisasi. Pada anak usia 1-6 tahun mereka belajar tentang 3 nilai utama dalam hidup, yang nantinya membantu mereka mempersepsikan dunia dan membentuk karakter mereka menjadi anak tanggap yang lengkap. 3 nilai utama tersebut adalah:

Hope (Harapan)
Sejak anak berusia di bawah 1 tahun sampai menjelang usia 2 tahun, pemenuhan kebutuhan mereka masih sangat bergantung dengan orang-orang di sekitarnya. Di sinilah anak belajar untuk percaya (atau justru tidak percaya) dengan lingkungan sekitarnya. Ketika anak menangis karena ia butuh sesuatu, apakah orang dewasa di sekitarnya segera berusaha memenuhi kebutuhan utama anak (Atau justru mengabaikan). Bayi yang memiliki ikatan yang hangat dan dekat dengan orang dewasa di sekitarnya menjadikan bayi percaya dengan dunia sekelilingnya, akan tetapi bayi yang merasa diabaikan akan tumbuh menjadi anak yang tidak percaya dengan lingkungannya.
Bayi yang percaya dengan lingkungannya akan belajar bahwa dunia akan membantu dirinya ketika mengalami kesulitan. Sehingga ia tumbuh menjadi anak yang memiliki harapan, dalam situasi sulit akan ada yang membantunya, dan dengan demikian ia tidak perlu menangis terlalu lama. Inilah awal anak belajar mengendalikan emosinya.

Will (Kemauan/tekad)
Menjelang usia 2 tahun, anak mulai bisa bergerak bebas sendiri. Ia sudah mulai mampu dilatih untuk melakukan beberapa hal yang bisa ia lakukan. Pada fase ini, kemandirian mulai terbentuk. Ia dapat diberi keleluasaan untuk mencoba sendiri hal yang perlu dilakukan, seperti makan sendiri, memakai sebagian pakaian sendiri, dan hal lainnya. Peran orangtua di sini adalah memastikan anak berusaha mencoba sendiri, namun tidak mengkritik ketika anak gagal. Dengan kemandirian yang berkembang, kepercayaan dirinya juga akan berkembang. Ia akan berani mencoba hal baru, dan tidak takut gagal. Sehingga ia tumbuh jadi anak yang memiliki tekad dan tidak mudah menyerah.

Purpose (Tujuan)
Ketika anak berusia 3 tahun sampai usia menjelang 6 tahun, anak mengembangkan inisiatifnya. Ia berusaha melakukan sesuatu tanpa diminta. Namun, karena pengetahuan yang terbatas inisiatif mereka kadang terasa mengganggu bagi orang dewasa. Misal: mereka berinisiatif merapikan mainan yang masih dimainkan oleh anak lain, sehingga anak lain marah atau menangis. Disinilah peran orangtua menyeimbangkan inisiatif anak dan rasa bersalahnya (guilt). Rasa bersalah yang terlalu besar dapat membuat anak tidak berani berkreasi atau mengambil inisiatif dalam bersosialisasi. Namun dalam kadar yang seimbang, rasa bersalah membuat anak menjadi lebih peduli terhadap situasi orang lain disekitarnya sehingga mereka bertindak dengan berpikir. Inilah cikal bakal rasa empati pada anak.

Ketika 3 nilai utama perkembangan emosional ini berkembang dengan optimal, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, optimis, percaya diri, tidak mudah menyerah, dan penuh rasa empati. Hal ini akan membantu proses belajar anak menjadi anak Hebat dengan tanggap yang lengkap.