Tips & Advice 6-12 Bulan

Ciri-ciri Konstipasi Pada Anak yang Perlu Diketahui

Konstipasi atau sembelit merupakan kondisi yang membuat seseorang mengalami penurunan frekuensi atau kesulitan Buang Air Besar (BAB), perubahan konsistensi feses menjadi keras, dan ukuran yang lebih besar. Konstipasi sendiri bisa dialami orang dewasa maupun anak-anak. Pada anak-anak, konstipasi menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi. Anak yang mengalami konstipasi mengalami buang air besar yang jarang atau feses yang keras dan kering.

Penyebab Konstipasi pada Anak

Konstipasi biasanya terjadi saat feses bergerak secara lambat melalui saluran pencernaan dan saat mengeluarkannya feses terasa kering dan keras. Ada beberapa penyebab konstipasi pada anak yang perlu Ibu ketahui.

1. Perubahan Pola Makan

Jika Ibu tidak membiasakan anak untuk mengonsumsi buah dan sayuran dalam menu hariannya, tentunya berisiko membuat anak kekurangan serat dan memicu terjadinya konstipasi pada anak. Ditambah lagi dengan perubahan bentuk makanan yang dikonsumsi anak dari makanan serba air menjadi makanan padat sehingga anak harus beradaptasi yang berakibat anak akan lebih susah makan. Kebutuhan serat per hari anak yang diperlukan berbeda-beda tiap umur. Untuk anak usia 1-3 tahun memerlukan 16 gram serat setiap hari atau setara dengan 2 kilogram wortel rebus.

Makanan-makanan yang mengandung serat dan baik dikonsumsi anak-anak adalah apel, berry, pasta gandum, pisang, pir, oatmeal, roti gandum, ubi jalar, dan wortel. Salah satu waktu yang paling umum bagi anak-anak untuk mengalami konstipasi adalah ketika mereka beralih dari makanan serba cair ke makanan padat.

2. Sering Menahan BAB

Salah satu penyebab dari konstipasi pada anak adalah sering mengabaikan keinginan untuk buang air besar. Hal ini biasanya disebabkan beberapa hal, seperti saat anak sedang BAB ia merasa sulit untuk mengeluarkannya karena feses terlalu keras dan besar serta sakit saat mengeluarkannya sehingga anak jadi trauma ke toilet untuk BAB. Kondisi ini tak jarang membuat anak menghindari pengulangan dari pengalamannya mengalami BAB yang sulit. Ada pula karena anak takut ke toilet atau sedang asyik bermain, mereka takut tertinggal dengan kesenangan saat bermain sehingga lebih memilih menahan BAB. Selain itu, beberapa anak juga menahan BAB karena alasan tidak nyaman ketika menggunakan toilet umum saat berada jauh dari rumah.

3. Faktor Keturunan

Konstipasi pada anak bisa juga disebabkan karena faktor keturunan atau lingkungan. Jadi, jika anggota keluarga Ibu atau Ayah maupun anggota keluarga Ayah ada yang memiliki atau mengalami konstipasi, bisa jadi hal ini pun akan menurun pada si Kecil.

4. Adanya Perubahan dalam Kebiasaannya

Penyebab konstipasi pada anak selanjutnya adalah adanya perubahan kebiasaan atau rutinitas anak di kesehariannya. Misalnya, perubahan cuaca, sedang dalam perjalanan, atau anak mengalami perubahan mood. Kondisi-kondisi tersebut sangat berpengaruh pada fungsi usus. Penyebab konstipasi pada anak juga bisa disebabkan karena pengaruh dari kondisi medis di mana metabolismenya terganggu atau memiliki masalah sistem pencernaan.

5. Toilet Training yang Belum Waktunya

Memang anak harus diajarkan sejak dini untuk memakai toilet sendiri atau istilahnya toilet training. Namun jika dilakukan terlalu cepat bisa membuat si Kecil jadi merasa tidak nyaman dan menahan dirinya untuk buang air besar. Kebiasaan ini berisiko sulit diubah. Fase ini sebaiknya dilakukan orang tua pada anak ketika usianya 18 – 24 bulan.

Ciri-ciri Konstipasi pada Anak

  1. Feses disertai dengan darah
  2. Terdapat feses bentuk cair di pakaian dalam anak
  3. Menghindari saat ingin buang air besar. Ini ditandai dengan anak yang menyilangkan kakinya, memegangi perutnya, wajahnya tegang
  4. Kotoran berukuran besar seperti gumpalan sosis atau terpisah-pisah seperti kacang
  5. Buang air besar kurang dari tiga kali dalam satu minggu
  6. Merasakan nyeri ketika buang air besar
  7. Sakit perut tidak seperti biasanya

Cara Mengatasi Konstipasi pada Anak

Terdapat beberapa cara mengatasi konstipasi pada anak yang bisa dilakukan Ibu:

  1. Batasi anak untuk mengonsumsi makanan cepat saji karena bisa memperlambat kerja pencernaan
  2. Biasakan anak untuk teratur buang air besar dengan cara memintanya untuk mencoba duduk atau berjongkok di kloset selama 10 menit dua kali sehari setiap hari. Ibu bisa meminta si Kecil melakukannya setelah makan
  3. Bila anak Ibu mengalami efek samping dari obat yang dikonsumsi berupa konstipasi, baiknya minta pilihan lain pada dokter
  4. Cukupi kebutuhan cairan anak. Pada umumnya anak memerlukan sekitar 3 hingga 4 gelas air putih setiap hari. Air putih dianggap baik bagi usus karena bisa membantu merangsang fungsi usus bergerak normal
  5. Cara mengatasi konstipasi pada anak juga perlu menambahkan lebih banyak serat pada asupan sehari-hari anak Ibu. Serat sendiri berfungsi untuk membuat usus terus bergerak dan mengeluarkan feses secara teratur, membantu membuat feses menjadi lebih lunak, dan mampu menghindari konstipasi.

Ibu juga bisa bantu melengkapi kebutuhan serat harian si Kecil dengan Bebelac Gold 3: 1-5tahun Advansfibre yang diperkaya dengan FOS:GOS 1:9 yang tinggi serat. Bebelac Gold dapat diminum 3 kali sehari untuk membantu memenuhi hampir 50% kebutuhan serat harian si Kecil. Bebelac Gold juga mengandung fish oil dengan Omega-3 dan Omega-6, dan 13 vitamin dan 7 mineral yang dapat membantu tumbuh kembang anak sehingga si Kecil bisa menjadi anak hebat.