kecemasan pada anak
Tips & Advice Balita

Anak Bisa Mewarisi Kecemasan Orangtua, Kok Bisa?

Menurut World Health Organization (WHO), kecemasan dan gangguan depresi merupakan sumber masalah mental yang memengaruhi hidup ratusan juta orang. Ingat, ratusan juta di sini juga termasuk anak-anak, lho. Sebab, masalah depresi bukanlah hanya dimonopoli oleh orang dewasa.

Tidak sedikit anak-anak yang dihantui perasaan takut, kekhawatiran yang berkepanjangan, perasaan gugup, hingga keprihatinan terhadap masa depan. Memang ada banyak faktor yang bisa memicu gangguan kecemasan pada anak. Misalnya, mengalami peristiwa traumatis, pola asuh yang keliru, ataupun fobia terhadap objek tertentu.

Pertanyaannya, apa dirimu juga memiliki gangguan kecemasan? Sebab, selain ketiga hal di atas, gangguan kecemasan pada anak juga bisa diwarisi dari orangtua alias faktor genetik. Kata ahli, anak-anak yang terlahir dari orangtua yang memiliki gangguan kecemasan punya risiko untuk mengembangkan gangguan kecemasan, bahkan depresi di masa mendatang. Lho, kok bisa?

Mengamati Silsilah Keluarga

Dalam studi yang dipublikasikan Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, membuktikan bahwa masalah psikis dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Dengan kata lain, enggak cuma penyakit fisik saja yang bisa dipengaruhi oleh genetik, tapi juga masalah psikis yang dialami seseorang.

Periset dalam studi di atas menggunakan silsilah keluarga multigenerasi untuk menganalisis korelasi genetik dengan fungsi otak terkait masalah mental. Menariknya, studi itu menemukan bahwa fungsi otak (bukan struktur) merupakan perantara kritis antara genetika dan risiko pada masa kanak-kanak untuk mengembangkan psikopatologi terkait stres.

Para ahli memang sudah mengidentifikasi gen dan sirkuit saraf yang bisa memicu risiko mengembangkan kecemasan dan depresi. Namun sayangnya, mereka masih belum mengetahui sistem saraf spesifik mana yang menjadi “aktor utama”-nya.

Kata para periset di atas, orangtua dengan kecemasan dan gangguan depresi jauh lebih mungkin memiliki anak dengan temperamen yang sangat cemas. Namun yang bikin resah, 50 persen anak-anak dengan dengan kondisi di atas memiliki risiko untuk mengembangkan gangguan kejiwaan.

Tidak Mutlak Diwariskan

Selain studi di atas, ada pula studi lainnya yang menemukan bahwa gen yang diwariskan orangtua ke anak dapat memengaruhi tiga bagian otak. Bagian tersebut meliputi amigdala, limbik, dan korteks prefrontal yang berperan bersama-sama untuk mengendalikan rasa takut.

Memang sih, dalam tahap yang wajar kecemasan dapat membantu seseorang mengetahui dan menghindari bahaya yang dihadapinya. Akan tetapi, ketika ketiga bagian tersebut overaktif merespon rasa takut, maka dapat menyebabkan kecemasan dan gangguan depresi pada anak.

Untungnya, meski kamu memiliki anggota keluarga dengan gangguan kecemasan, bukan berarti bahwa dirimu atau Si Kecil akan memiliki gangguan kecemasan. Hanya saja, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kecemasan punya risiko kemungkinan untuk mengembangkan gangguan kecemasan di masa mendatang.

Terapi Bisa Menjadi Jalan Keluarnya

Sama halnya dengan penyakit fisik, masalah mental seperti depresi akan lebih mudah disembuhkan bila lebih cepat ditangani. Salah satunya, melalui terapi yang bisa mengubah pikiran dan perasaan negatif dan menggantinya dengan respons positif.

Nah, ada studi menarik dari Universitas Connecticut Health Center di West Hartford, Amerika Serikat, mengenai hubungan terapi dan depresi ini. Para ahli di sana mempelajari sekitar 136 keluarga, setidaknya ada satu orangtua di keluarga yang memiliki gangguan kecemasan, dan setidaknya ada satu anak (6—13 tahun) yang tidak memenuhi kriteria kecemasan. Dari 136 keluarga tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang masuk ke program mengatasi kecemasan dan ketakutan (promoting strength) serta kelompok pembanding.

Mereka yang berada dalam kelompok promoting strengthmenerima sesi terapi satu jam selama delapan minggu oleh para terapis. Dengan kata lain, para terapis mengajarkan orangtua untuk mengidentifikasi tanda-tanda kecemasan dan cara mengubah serta mengatasinya. Sedangkan kelompok pembanding, hanya menerima pamflet mengenai gangguan kecemasan dan cara mengatasinya tanpa sesi terapi. Bagaimana hasilnya?

Setelah satu tahun, 31 persen anak-anak di kelompok pembanding, memperlihatkan munculnya gangguan kecemasan. Hal sama juga terjadi pada kelompok promoting strength, tapi angkanya jauh lebih sedikit, yaitu lima persen. Dengan kata lain, studi di atas membuktikan bahwa terapi merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi gangguan kecemasan..